Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Daniel Sanjaya


__ADS_3

Januar pamit pulang sekitar pukul satu.


"Apa kau tak minta Jefry untuk menjemputmu?" tanya Naya khawatir.


"Hmm apa kau mencemaskanku?" ledek Januar membuat Naya mencebikan bibir mungilnya kesal.


"Tenanglah, karena do'a mu aku pasti aman" ucap Januar mengusap puncak kepala Naya.


"Kalau masih sakit, esok kau tak perlu masuk bekerja."


Rasa kikuk dan panas wajah Naya mendengar kalimat Januar.


"Aku pulang, kau tidurlah muaacch" Naya tak bisa menghindar kala Januar mendaratkan ciuman ringan di bibirnya, membuat dadanya berdesir bahagia.


Setelah mengganti kain seprei Naya merebahkan tubuhnya di ranjang, kembali adegan panasnya dengan Januar berkelebat jelas di pelupuk matanya.


Pagi hari Naya bangun cukup santai karena Januar memberinya ijin hari ini.


Drrt drrt.


"Halo ada apa Wi?" tanya Naya.


"Lu liat Januar nggak Nay, dari semalam nggak pulang, padahal nanti siang kita mau antar Anis pulang" ada nada kekhawatiran dari ucapan Tiwi.


"T tidak Wi, hari ini aku ijin aku kurang enak badan" jawab Naya, kemana pria itu pulang semalam, ia membatin.


"Oh, kukira kau sedang di kantor, oke nanti aku tanyain Ujo saja."


Segera Naya menghubungi Vega karena mungkin dia tahu di mana Januar.


"Halo Ga, apa pak Januar ada di ruangannya?" tanya Naya.


"Ada Mbak dia baru datang, oiya Mbak Nay sakit apa? kata pak Jan Mbak Nay hari ini ijin karena sakit?" cerocos Vega cepat.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Ga, aku hanya kurang enak badan, badanku pada pegel-pegel semua."


"Oohh....ya udah mbak istirahat saja, banyakin minum air bening mbak, biar cepat sembuh."


"Iya Ga, terima kasih."


Naya diam termenung, tidur di mana Januar tadi malam.


Sementara itu Januar sedang duduk di kursi di ruangannya, dari pagi tadi ia sama sekali tidak bisa fokus pada tugasnya, bayangan Naya selalu bermain di pelupuk matanya, bahkan saat ini ia sudah merindukannya meski baru semalam mereka bertemu.


Jam di pergelangan tangannya menunjukan pukul sembilan, ia pun bergegas ke bandara untuk mengantar Anis, setelah terlebih dahulu mengabari pada tim untuk menyelesaikan tugasnya.


Satu Jam perjalanan Januar menuju bandara menyusul Tiwi dan Anis.


Umpatan dari Tiwi ia acuhkan, karena hadiah untuk anis sudah ia titipkan pada Jefry saat ia mengantar baju ke apartemen Naya.


Meski dengan berat hati Tiwi melepas Anis dengan senyum haru, gadis ayu nan lembut namun tak bisa mendapatkan hati Januar.


"Cepatlah pulang Mbak, aku tidak ada teman di sana" ucap Anis lirih.


Anis menggeleng pasrah"Jangan salahkan dia, memang takdirku tak bisa bersamanya" Anis mencoba tersenyum meski dadanya terasa sesak.


Tiwi mundur memberikan kesempatan pada Januar untuk mengucap perpisahan.


"Hmm hati-hati di jalan dan kabari kalau kau sudah sampai" kalimat Januar bijak.


Anis mengangguk dengan kedua mata berembun.


"Maafkan aku telah membuat hatimu terluka, kau gadis cantik dan baik, masih bayak pria di luar sana yang lebih segalanya dariku dan pastinya lebih pantas untuk mendapatkan cintamu, aku yakin kau akan bahagia" Anis memejamkan mata dan luruhlah air mata nya.


Januar merengkuh tubuh ramping Anis dalam pelukannya, isak tangis terdengar lirih, sesak rasanya dada Anis untuk melepas Januar, pria yang sudah lama di cintainya.


Tiwi menepuk pundak Anis.

__ADS_1


"Sudah waktunya pesawatmu berangkat" ujarnya pada Anis.


Sementara itu di apartement Naya masih asik rebahan di atas sofa di depan televisi menyaksikan acara berita.


Drrt drrt.


Naya meraih ponsel saat satu pesan masuk, dan nomor tak di kenal mengirimnya satu pesan yang membuat jantungnya berdetak kencang.


"Aku Daniel calon suamimu, turunlah ke lobi, aku menunggumu"Naya mengerutkan alisnya.


Siapa Daniel, gumam Naya dalam hati.


Tiba tiba ponselnya bergetar dan panggilan dari nomor yang baru saja mengaku sebagai calon suami Naya muncul.


"Kenapa tak kau jawab, atau kau mau aku langsung menemuimu di lantai sembilan?" pesan dari Daniel.


Jantung Naya beedetak kencang, dari mana pria itu tahu apartemenku, batinnya.


Dengan gerak cepat Naya mengganti bajunya, mungkin sosok Daniel adalah anak lirah yang ibunya jodohkan untuknya.


Dan dugaan sosok pemuda desa yang ada dalam fikiran Naya terbantahkan.


Seorang pria tampan dengan celana jeans belel dan kaos hitam plus topi yang juga berwarna hitam menutupi sebagian wajahnya yang putih dan halus.


Daniel berdiri dan mrnjulurkan tangan pada Naya.


"Daniel Sanjaya" ucapnya tegas.


"Kanaya Dewanty" jawab Naya gugup.


Daniel memiliki hidung mancung dan rahang tegas, dan bibirnya yang tipis bergelombang.


Tatapannya tajam menatap netra bening Naya.

__ADS_1


Cukup lama keduanya berjabat tangan karena Naya cukup kesulitan melepaskan tangannya dari genggaman Daniel yang erat.


Dari jarak cukup jauh sepasang mata menyaksikan keduanya dengan tangan mengepal.


__ADS_2