Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Suport Tiwi


__ADS_3

"Lho Nay, lu balik lagi?ada apa?"tanya Tiwi kaget melihat kedatangan Naya, karena ia pun baru menyelesaikan makannya.


"Wi..Gue mau ngomong"ucap Naya lirih.


"Lha dari tadi kan Elu emang udah ngomong" jawab Tiwi polos.


"Ini tentang Gue dan Janu..."


Tiwi menghela nafas panjang, ia sebenarnya enggan berada di posisi yang dilema, jika hati kecilnya sudah menyetujui cerita cinta keduanya, tapi entah bagaimana nanti sikap Ayah dan Ibunya kalau sampai mendengar hal itu.


"Januar sudah ceritakan semuanya ke Gue.."terang Tiwi.


"Maaf ...."jawaban singkat Naya berat dan lirih membuat Tiwi merasa tak tega.


"Kenapa harus minta maaf, kau tak bersalah, perasaan yang hadir dalam hati kalian adalah suci, dan kau tak bisa memungkirinya, begitu pun dengan Januar, tak pernah gue lihat ia menyukai seorang wanita begitu hebat, dan Gue bangga karena akhirnya Gue tahu adik Gue sekarang sudah dewasa dan bisa menentukan pilihan hatinya sendiri."


"Tapi...Gue nggak pantas jika di sandingkan dengan dia, gue memang wanita yang tak tahu diri, Gue wanita yang tak tahu balas budi, semua kebaikan Elu dan keluarga Elu bahkan Gue balas dengan sikap lancang Gue yang berani mencintai putra kebanggaan mereka."


 Tiwi diam mendengarkan semua curahan hati Naya, ia tahu kalau hanya padanya lah Naya bisa menumpahkan semua kegalauan di hatinya.


Perlahan Tiwi menarik tangan Naya dan menggenggamnya.


"Jangan berpikiran tentang ayah dan ibu ku sesempit itu, mereka sudah mengenalmu, bahkan mereka sudah menganggapmu seperti anak mereka sendiri" ucap Tiwi haru.


"Justru karena kebaikan mereka, aku tak pantas berharap lebih dari itu, apalagi dengan statusku sekarang ini."


"Hei....apa kau akan berhenti di tengah jalan dan membuat hati adikku hancur, mencobanya pun kalian belum, kalian bicarakanlah baik-baik dengan ayah dan Ibu, aku yakin mereka akan mendengar dengan hati dan pikiran terbuka, Januar sudah meminta dukungan dan restuku untuk kalian, tinggal restu ayah dan Ibu yang harus kalian perjuangkan."


"Apa aku pantas mendapat restu mereka?"tanya Naya ragu.


"Kalian tak akan tahu sebelum mencobanya, aku selalu mendo'a kan kalian" Tiwi menatap Naya lalu mengangguk pasti.


Drrt drrt.

__ADS_1


Senyum bahagia Tiwi terbit setelah membaca pesan di layar ponselnya.


"Siapa Wi?"tanya Naya penasaran.


"Ayah dan Ibu datang ke sini untuk liburan, mereka sudah sampai di bandara" jawab Tiwi antusias.


Naya diam membeku, rasa hatinya belum siap menghadapi kedua orang tua Januar yang sudah ia anggap seperti orang tuanya sendiri itu.


"Aku pergi dulu ya Nay, kasihan mereka terlalau lama nunggu di bandara" ucap Tiwi sambil melambai tangannya.


"Jangan lupa datang bareng Januar secepatnya yaaa" pekiknya.


Naya hanya bisa mengangguk dan tersenyum masam.


Dengan langkah gontai Naya meninggalkan kedai menuju gedung Tinar.


Sementara Ujo hanya bisa meremat jarinya cemas, ia menjadi sasaran amukan kemarahan Januar karena tak bisa menjaga Naya, Ujo mana tahu kalau Naya pergi tanpa pamit keluar dari Tinar perkasa.


"Maaf Bang, aku keluar nggak pamit, soalnya kalau pamit nggak bakalan di kasih sama pak Jan" protes Naya jujur.


"Tapi kenapa ponsel Mbak Nay tidak aktif?" kembali Ujo protes, karena muka nya hampir saja menjadi sasaran lemparan ponsel Januar.


"He hee, low bat Bang" Naya menjawab dengan wajah polos.


Wajah imut Naya membuat Ujo menelan ludah kasar.


Pantas saja sang Tuan besar begitu tergila-gila dengan wanita yang berstatus janda itu, senyumnya begitu manis dan mematikan, pikir Ujo.


"Ya udah cepat temu in Tuan Januar di ruangannya Mbak, sebelum beliau tambah murka."


"Baik Bang Ujooo"


Naya cepat melangkah menuju ruangan Januar namun berpapasan dengan Vega.

__ADS_1


"Wah Mbak Nay dari mana? Pak Januar marah besar, Mbak Nay pergi tanpa pamit, cepetan gih ke ruangannya" cecar Vega dengan wajah panik.


Tok tok tok.


"Masuk" suara berat dan dingin membuat langkah Naya sesikit ragu untuk memasuki ruangan.


"Kunci pintunya" titah Januar masih dengan mode sedingin beruang kutub berdiri menghadap jendela.


Ceklek.


Januar mendengus kesal sambil netranya menatap Naya tajam.


"Sudah ku bilang istirahatlah di sini, tapi kenapa kau tak mendengarkan ku heum, kau pergi tanpa pamit, ponselmu pun tidak aktif, tak tahu kah kau aku sangat mencemaskanmu, dan kenapa kau tidak..."


Greepp.


Langkah Januar terdorong ke belakang saat Naya menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukannya.


Luruh sudah murka Januar, dadanya yang terasa panas bagai tersiram air es hingga menyejukan hatinya yang tengah panas membara.


Senyumnya terbit, lalu tangannya mengusap rambut lembut Naya.


"Maafkan aku" ucap Naya lirih dalam pelukan Januar.


Perlahan Naya menengadahkan wajahnya, memandang netra Januar lekat, pria tampan dengan tatapan mata bak se ekor elang, yang bahkan memilikinya pun Naya tak berani untuk memimpikannya.


Dan Januar pun hanya bisa diam membeku saat Naya melabuhkan ciuman lembut di bibirnya, ia sungguh terkejut, tak biasanya Naya berinisiatif lebih dahulu.


Namun kesempatan indah itu tak ingin terbuang sia-sia oleh Januar, ia pun langsung menyambut ciuman Naya hingga ciuman lembut pun berubah menjadi semakin panas, Januar dengan leluasa meng akses rongga mulut Naya, keduanya menikmati sesapan penuh gairah di ruangan kantor yang hening.


Keduanya tersenyum setelah pagutan mereka terurai, dengan lembut Januar mengusap sisa saliva di bibir Naya, begitupun sebaliknya, Naya membersihkan sisa lipstiknya yang menempel di bibir Januar.


"Aku suka kau yang seperti ini" bisik Januar lirih lalu mengecup puncak kepala Naya.

__ADS_1


__ADS_2