
Jam istirahat siang masih tersisa beberapa menit lagi, itu di gunakan Naya untuk mengistirahatkan dirinya karena rasa pusing kepalanya semakin terasa, mungkin karena banyaknya minuman yang ia habiskan bersama Elis semalam apa lagi jam tidurnya yang kurang.
"Jo kamu lihat Naya" tanya Januar setelah jam istirahat usai Naya tak juga muncul.
"Mungkin di ruangannya Tuan" jawab Ujo ramah.
Januar pun mengangguk lalu kembali memeriksa data di meja nya.
Rapat Kepala Divisi sebentar kagi mulai, tak biasanya Naya gerak lembat hari ini, batin Januar.
Tak sabar akhirnya Januar menuju ke ruangan Naya yang masih tertutup rapat pintu nya.
Tok ..tok.
Dengan ragu Januar mengetuk pintu, namun hingga cukup lama tak juga ada balasan.
Januar menekan tuas pintu perlahan.
C e k l e k.
Pria baby face itu pun berdiri mematung di tengah pintu, Naya duduk dengan menyandarkan kepalanya di atas meja, nafasnya terdengar teratur dengan mulut yang sedikit terbuka.
Ah kenapa dia masih terlihat menggemaskan meski saat tidurnya yang tak anggun sama sekali itu, Januar membatin.
Pria baby face itu menggelengkan kepalanya dengan cepat, berharap pikirannya tentang Naya segera menghilang.
"Ada apa Tuan, apa Mbak Nay ada di dalam?"Ujo tiba-tiba berdiri di belakang Januar membuat pria itu tergagap.
"A ehm ada di dalam sstt..."Januar menaruh telunjuk di bibirnya agar Ujo memelankan suaranya.
"Biarkan dia tidur, jangan ganggu dia" pesan Januar, lalu ia pergi ke ruang meeting untuk rapat internal.
Ujo hanya diam mematung memandang kepergian atasannya itu, kenapa akhir-akhir ini sikapnya berubah menghangat pada karyawannya.
Rapat berlangsung dengan tertib, laporan dari masing-masing Kepala Divisi cukup memuasakan hingga tak banyak revisi yang harus di lakukan.
Satu jam akhirnya rapat usai, Januar kembali ke ruangannya, saat melewati ruangan Naya tampak pintu masih tertutup rapat.
Sementara itu di pantry suasana sedikit gaduh, Naya yang bangun dengan kepala sedikit pusing menuju ke pantry untuk meminta obat pusing pada Ujo.
"Bang, apa Bang ujo punya persediaan obat pusing?" tanya Naya sambil memijit pangkal hidungnya.
"Ada Mbak, sebentar" Ujo segera memeriksa laci pantry di mana ia biasa menyimpan obat persedian miliknya.
"Ada nggak Bang?" Naya tak sabar karena Ujo belum juga menemukan obat yang ia minta.
"Bentar Mbak, saya lupa menaruh di laci mana."
Naya duduk sambil terus memijit pelipisnya.
"Sepertinya nggak ada Mbak, atau mungkin sudah ada yang mengambilnya, soalnya ada juga karyawan lain yang suka minta ke Abang."
"Ya udah aku minta air minum hangat aja Bang, agak cepet ya...soalnya rapat bentar lagi" ucap Naya.
"Rapat, rapat Kepal Divisi maksud Embak? sudah dari tadi selesai Mbak, tadi Tuan nyari Mbak Naya mau di suruh rapat, tapi nggak jadi, kasihan katanya lihat Embak lagi tidur" jelas Ujo panjang.
"Hah! rapat sudah selesai?, kenapa Bang Ujo nggak bangunin aku Bang, aduh gimana ini" Naya panik dan meminum air dari Ujo.
__ADS_1
Dan mata Naya semakin membulat saat melihat jam di pergelangan tangannya, satu jam lebih ia tidur di ruangannya padahal ada rapat internal.
Wajah Naya panik dan bergegas menuju ke ruangan Januar.
Tok tok tok.
"Masuk"
Ceklek.
Dengan wajah tertunduk penuh sesal, Naya memasuki ruangan.
"M maafkan saya Pak..saya t tidak mengikuti rapat karena.."
"Heum..kau sudah bangun rupanya" tanya Januar datar sambil memandang Naya yang wajahnya dipenuhi rasa bersalah.
"Maafkan saya Pak saya..."
"Semua hasil rapat akan aku kirim padamu lewat email, kau cocokam semua data, dan periksa apakah hasil lapangan dan data yang masuk sesuai" terang januar.
"B baik Pak"Kalimat Naya masih terbata.
Tok tok tok.
"Masuk"
Ujo masuk dengan tergopoh-gopoh.
"M maaf Tuan saya mau memberikan obat ini untuk Mbak Nay" Ujo menunjukan obat yang baru ia temukan di laci nya.
"Obat pusing Tuan, kepala Mbak Nay pusing katanya" jawab Ujo jujur.
"Apa kau belum ke klinik?" tanya Januar pada Naya.
Naya menggelengkan kepalanya pelan, ia malas harus ke klinik karena harus naik turun lift sedangkan kepalnya terasa sangat berat.
"Jangan makan obat asal tanpa resep dokter, setiap orang memiliki ketahanan tubuh berbeda-beda, tubuh Ujo tak sama dengan kondisi tubuhmu" ujar Januar tegas.
Ujo diam membeku berdiri dengan tangan masih di udara memegang obat yang hendak di berikan pada Naya, sementara Januar kini sedang berbicara dengan seseorang lewat ponselnya.
"Duduklah, tunggu sebentar lagi ada dokter akan datang ke sini" terang Januar.
Naya dan Ujo saling beradu pandang, lalu Ujo keluar ruangan dengan membawa kembali obat sakit kepala miliknya.
Naya pun menurut, ia duduk tenang sedangkan Januar kembali meneruskan kegiatannya, tak lama kemudian ketukan pintu membuyarkan lamunanya.
Ceklek.
Dokter tampan berkaca mata, tersenyum dan mengangguk hormat pada Januar.
"Apa Tuan sakit?"tanya nya lembut namun heran karena wajah Januar telihat biasa saja, ia sudah bertemu dengan adik Tiwi tersebut saat pertama kali pria baby face itu datang dan jambang masih lebat menghias wajahnya.
"Bukan aku yang sakit tapi dia" jawab Januar mengedikan dagu ke arah Naya.
"Naya, kau kenapa?" tanya Kendra, nama dokter tersebut.
"Ah he hee, aku tidak apa-apa Ken, cuma sedikit pusing"jawab Naya santai.
__ADS_1
Januar mengerutkan alis, rupanya keduanya sudah akrab.
"Duduklah aku akan memeriksamu" pinta Dokter Kendra.
Naya pun duduk di sofa saat Kendra memeriksa nadi dan suhu tubuhnya.
"Hm sudah ku bilang, jangan terlalu sering begadang, apa lagi perutmu kosong, sudah ku peringatkan berkali-kali Nay, apa kau tak kasihan pada tubuhmu?juga kurangi kopi kesukaanmu itu..."Kendra berucap santai, Naya hanya mencebik kesal, andai saja Januar tak berada di ruangan itu, sudah pasti Kendra men toyor keningnya.
"Kau harus banyak istirahat, dan minumlah vitamin ini, juga....jangan terlalu banyak pikiran" Kendra menatap Naya tajam, dari Elis ia mengetahui cerita tentang Naya, dan mungkin karena terlalu banyak fikiran kesehatan Naya kembali bermasalah.
Kendra pun pamit setelah memberikam obat dan vitamin untuk Naya.
"Kalian tampak dekat..?" tanya Januar.
"Heum, kami bersahabat karena dia satu kampus denganku dan Tiwi,juga Elis" terang Naya jujur.
Januar hanya mengangguk pelan.
"Kau sekarang boleh pulang lebih awal."
Mata Naya membulat tak percaya, bahkan saat Tiwi menjabat pun ia sangat jarang bisa pulang lebih awal, jika ia merasa tak enak badan dan meminta pulang Tiwi malah menyuruhnya istirahat di kamar pribadinya di ruangan itu.
"Benarkah..?" Naya tak percaya.
"Bukankah Dokter tadi meminta mu untuk lebih banyak istirahat?cepat pulanglah sebelum aku berubah pikiran."
Naya mengangguk girang lalu bergegas ke ruangannya untuk mengambil tas.
Pulang jam tiga sore sungguh rekok baru yang tercatat dalam sejarah selama ia bekerja di Tinar perkasa.
Tok tok tok.
"Masuk" Januar memandang Ujo yang datang dengan nafas ter engah-engah.
"Ada apa kamu Bang Ujo?" tanya Januar bingung.
"Saya mau ambil obat Mbak Nay yang ketinggalan Tuan" jawab Ujo.
"Ohh, pulang sama siapa dia?" sambung Januar.
"Sama Dokter Kendra Tuan?" jawab Ujo lalu mengangguk dan pergi.
Januar bergegas melangkah ke jendela ruangannya yang menghadap parkiran, dan benar saja Kendra terlihat sedang membuka kan pintu mobil untuk Naya.
Mereka terlihat sangat akrab.
*
*
*
💜💜💜💜💜💜💜
Jangan lupa suport nya yaa....
Like, koment dan vote ....🤗🤗😘😘😘
__ADS_1