
"Kevin tersenyum sambil melihat Naya yang berada di sebelahnya, sedangkan Naya kini wajahnya mulai memucat, begitu pun Tiwi.
"Sepertinya aku pernah dengar nama itu"ucap Kevin masih belum sadar.
"Ya tentu saja kau pernah dengar, kalian bersahabat sejak lama" terang Januar ketus karena kesal Kevin masih loading.
"K a n a y a...,maksudmu Naya??"otak Kevin mulai berjalan normal kembali dan kini sadar bahwa yang di maksud Januar adalah Naya, wanita yang sama yang juga di cintainya.
Januar mengangguk dan tersenyum puas.
"T tapi sejak kapan?"Kevin menatap Januar shock dan beralih ke Naya yang kini tertunduk.
"Mungkin aku jatuh cinta sejak pandangan pertama"jawab Januar santai.
Kevin memandang Tiwi, berharap ucapan pria di depannya hanya gurauan, namun Tiwi hanya membalas dengan wajah pasrah.
"J jadi kau juga mengetahui hal ini Wi?"
"Aku pun baru memastikan kebenaranya beberapa hari ini Vin" jelas Tiwi membela diri karena dia pun masih sangat terkejut.
Naya bagai seorang pesakitan di depan Tuan Hakim yang akan menjatuhkan vonis hukuman, wajah cantiknya murung dengan wajah menunduk.
Kevin menatap Naya intens, seakan mencari jawaban jujur dari sang pemain utama.
"Benarkah itu Nay?"taya nya lirih.
__ADS_1
Jika terjadi ketegangan antara Naya, Kevin, dan Tiwi, tapi Januar terlihat tenang menikmati makan siangnya.
"Apakah kalian tidak sedang membohongiku? benarkah kalian sepasang kekasih?"tanya Kevin pada Januar yang di balas anggukan kepala.
"Tentu saja benar, buat apa aku mengatakan berita bohong, bahkan aku sudah membeli apartemen di sebelahnya, agar kami bisa selalu dekat setiap saat" ucap Januar dengan percaya diri.
Kini bukan hanya Kevin yang terkejut, Naya pun terlihat shock dengan penuturan Januar.
"Apa? Jadi kau yang membeli apartement di sebelahku itu?" bisik Naya pada Januar.
Januar mengangguk dengan netra menatap Naya mesra.
Umpatan panjang pendek keluar dari hati Naya, pembeli misterius yang rela menawar harga berkali-kali lipat itu ternyata Januar, membuat Vega akhirnya terpaksa harus mencari apartement lain.
"Naya, katakan kenapa..kenapa harus dia Nay?"tanya Kevin dengan suara berat.
"Tapi apa kau tak lihat semua usahaku Nay, aku pun akan menerimamu apa adanya, aku tak perduli apapun statusmu, yang aku butuh hanya cintamu Nay.."Kevin masih berusaha mengeluarkan keluh kesahnya.
Januar hanya sesekali melirik pada pria tampan yang sedang galau itu, ia ingin melihat seberapa kuat usaha Naya untuk meyakinkan keputusannya pada Kevin.
"Maafkan aku Vin.."kalimat lirih Naya yang akhirnya membuat Kevin terdiam.
"Sayang ayo kita pergi dari sini, sudah ku bilang kau tak perlu datang, biar aku yang menjelaskan padanya" Januar menarik tangan Naya untuk meninggalkan kedai, ia tak suka melihat Naya merasa terpojokan.
"Tapi...." suara Naya tertahan saat melihat Tiwi.
__ADS_1
"Tapi apa, apalagi yang akan kau jelaskan."
"Aku ingin bicara dengan kakakmu" jelas Naya lirih sambil netranya menatap Tiwi dengan rasa bersalah.
"Dia sudah tahu tentang kita,ayo....waktu istirahat sudah habis, kita ada meeting tiga puluh menit lagi" Naya akhirnya tak bisa menolak ajakan Januar lalu keduanya melangkah menuju gedung Tinar Perkasa.
Kevin hanya bisa memandang kepergian Naya dengan kalut, denyut nyeri dadanya semakin terasa, apalagi saat ia mendengar Januar memanggil dengan menyematkan kata 'sayang' dan menggenggam tangan Naya, tatapan mata mereka pun penuh arti.
Saat aku mendengar kau menikah pun tak sesakit ini rasanya.
Kevin menepuk dadanya berharap bisa kembali bernafas dengan lega, namun sesak di dadanya tetap masih terasa, Tiwi yang melihat pemandangan itu pun semakin merasa bersalah.
"Vin...kau tak apa?" tanya Tiwi cemas.
"Sakit Wi, sangat sakit....."jawab Kevin lirih masih menepuk-nepuk dadanya.
"Maaf Vin.."hanya itu yang bisa Tiwi katakan.
Kevin hanya bisa diam dan pasrah, karena ia paham yang Naya ucapkan bahwa hati tak bisa di paksakan, dan sekarang hatinya terluka untuk yang kedua kalinya, apakah dia harus menyalahkan waktu yang terlambat menemui Naya kembali.
Kevin bangkit dan meninggalkan kedai saat anak buahnya datang menjemput di area parkiran.
Tiwi menghela nafas panjang, makanan lezat di atas meja kini tak lagi membuat selera makannya bangkit, rasa lapar dalam perutnya terkalahkan oleh rasa bersalahnya pada Kevin.
Kevin memasuki mobil dengan lesu, bahkan anggukan sang anak buah yang membuka kan pintu mobil ia acuhkan.
__ADS_1
Sementara itu Januar mulai memeriksa dokumen yang akan di bawa meeting nanti, ia terpaksa menghadiri meeting sendiri karena Naya ijin tak ikut karena kepalanya sedikit pusing, tentu saja, sebagai seorang kekasih yang baik Januar mengabulkan keinginan sang pujaan hati bahkan ia menyuruhnya untuk istitahat di ruang pribadinya.
Tanpa ia sadari itu hanyalah akal Naya belaka, karena diam-diam Naya pergi kembali ke kedai untuk menemui Tiwi.