
"Lalu apa yang akan kau lakukan"tanya Januar penasaran.
"Aku akan membantumu mendapatkan hati keluargamu, asal...."
"Asal apa cepat katakan!"Januar semakin muak dengan Aslan yang tampak begitu menyebalkan.
"Asal ...kau panggil aku kakak ipar."
Jederr!!!
Bagai petir mrnyambar di kala terik matahari bersinar, mata Januar membulat mendengar pengakuan Aslan yang tiba-tiba itu.
"Bagaimana? Apa kau setuju?"tanya Aslan dengan senyum smirknya.
Entah kenapa otak Januar seakan membeku, jalan fikirannya seakan buntu.
"Hmm ku beri kau waktu hingga esok, jika ...."
"Aku terima..."ucap Januar cepat.Aslan menyeringai puas lalu menepuk bahu pria baby face itu.
"Bagus, kali ini kita harus bekerja sama dengan baik agar harapanmu memiliki Naya terwujug, begitu juga denganku, kau harus berusaha agar kakakmu mau menerima cintaku" terang Aslan lalu melangkah meninggalakan Januar yang masih shock dengan pengakuan Aslan.
Wajah se sempurna itu, kenapa kak Tiwi tidak jatuh hati, lelaki model apalagi yang menjadi incarannya, Januar membatin sambil berjalan menuju mobilnya.
Malam sudah menunjukan pukul dua belas lebih tiga puluh menit, Naya masih betah memandang langit-langit kamar, berselancar di dunia maya ternyata belum bisa mengundang rasa kantuk matanya.
Ia masih memikirkan saat Tiwi datang esok, apakah ia bisa menyembunyikan perasaan hatinya dari sahabat dekatnya itu.
Sudah bukan rahasia lagi, ikatan batin antara mereka sangat erat, suka dan duka selalu mereka lalui bersama.
Apakah nanti Tiwi tidak curiga melihat bahasa tubuh dan pancaran matanya yang menyiratkan cerita terselubung antara sahabatnya dan adiknya sendiri.
Entah pukul berapa Naya bisa memejamkan matanya dan ketukan pintu membangunkannya pagi ini.
Begegas Naya bangun lalu membuka pintu.
"Mbak Nay nggak kerja hari ini?" tanya Bu Heni.
"Ah kerja Bu, aku masuk hari ini, wah kesiangan ..."Naya berlari menuju kamar mandi.
"Mau sarapan di sini apa di bawa saja ke kantor Mbak Nay?"
"Di kantor saja Bu Hen, tolong bungkusin ya...terima kasih ya Bu hen" teriak Naya yang tertelan suara gemericik air.
Bu Heni tersenyum lalu dengan cekatan membungkus nasi goreng dan telur ceplok untuk bekal sarapan Naya di kantor.
Dua puluh menit akhirnya Naya sudah rapi dengan baju kantornya, untunglah Ia di bantu Bu Heni menyiapkan bekal dan mengambil sepatu nya.
"Terima kasih Bu, saya berangkat" Naya mengangguk dan berlari kecil keluar.
Pagi ini mungkin di rasakan pagi yang kurang beruntung bagi Naya, Januar tidak menjemputnya begitu juga Vega yang bilang pagi ini ia di antar sang ayah karena mobilnya masuk bengkel.
__ADS_1
Beruntung masih ada ojek online yang mau menerima orderannya.
"Pak tolong cepat sedikit bisa?" pinta Naya dengan ramah.
"Baik Mbak, kalau itu yang Mbak mau" jawab ojol.
Dengan langkah cepat Naya membayar ongkos dan melebihkan sedikit sekedar untuk membeli sarapan bapak ojol tersebut.
Sekilas Naya melihat di parkiran tak ada mobil Januar, mungkinkah ia sedang menjemput Tiwi di bandara, batinnya.
"Pagi Mbak Nay.." sapa ramah Ujo pagi ini.
"Pagi Bang Ujo, udah sarapan Bang, yo kita makan bareng, aku kebetulan bawa bekel" tawar Naya.
"Wah terima kasih Mbak, saya sudah sarapan nasi uduk tadi, tumben Mbak Nay bawa sarapan."
"Iya Bang kesiangan aku tuh nggak sempet sarapan di rumah."
"Kalau begitu selamat menikmati sarapannya mbak, ini minumnya , saya pamit dulu ya mbak, mau nerusin tugas"
"Oke bang, "
Selepas sarapan Naya langsung memeriksa dokumen di memo in nya, Vega datang dengan wajah cemberut karena pagi ini ia pun kesiangan.
Naya membawa berkas ke ruangan Januar yang kosong, lalu mengambil berkas yang sudah di tanda tangan, hari ini agenda meeting di salah satu perusahaan klien, dan dia harus datang meski tanpa Januar, walau hal tersebut sudah biasa ia lakukan tapi ada rasa aneh mengganjal di hatinya, ia sudah terbiasa selalu bersama pria itu, dan melihat ruangan yang kosong hatinya pun menjadi hampa.
Sementara itu, Januar duduk tenang di balik kemudinya, sedangkan di belakang Tiwi duduk dengan seorang gadis cantik yang ikut bersamanya.
Januar pun cukup mengenal Anis, karena gadis itu sepantaran dengannya, juga keluarga mereka kerap bertemu menghabiskan waktu liburan bersama.
"Jan, lu sombong amat, Anis kan sengaja ke sini buat bertemu sama Elu" ucap Tiwi sinis.
Januar hanya melirik dingin lewat kaca spion tengah.Anis pun tersipu malu melihat lirikan Januar meski sekilas.
"Gimana kabarmu Nis?" Januar mencoba berbasa basi, meski ia paling muak untuk memamerkan muka palsu di depan orang.
"Hm aku baik Jan, kamu bagaimana? Apa kau betah di sini?" Anis balik tanya.
Januar mengangguk pasti.
Mana mungkin tidak betah, belahan jiwaku ada di sini, batin Januar.
Suasana kembali hening, hanya percakapan sekilas antara Januar dan Anis, sedangkan Tiwi sudah fokus dengan dunianya sendiri.
"Wah aku tak sabar ingin bertemu kalian" ucap Tiwi sumringah.
"Bagaimana kabar Naya Jan? Pasti dia tambah cantik" tanya Tiwi.
"Ya ..cantik"jawab Januar dengan senyum bangga.
Pacar siapa dulu, ia membatin.
__ADS_1
"Bagaimana dengan suaminya?" sambung Tiwi, Januar melirik tak suka lalu mendengus kesal.
"Mereka sudah berpisah" ketus jawaban Januar membuat Tiwi mengerutkan alisnya.
"Lu kenapa, sinis gitu?" cerca Tiwi.
Januar membuang matanya, lalu memarkirkan mobil di parkiran.
Tiwi memang meminta untuk langsung ke Tinar Perkasa, ia ingin melihat tempat dan orang-orang yang sudah lama ia tinggalkan.
Anggukan para karyawan menyambut Tiwi, begitupun Ujo yang terkejut sekaligus senang melihat mantan bos nya datang.
"Mana Naya Jan?" tanya Tiwi tak sabar.
"Mbak Nay sedang meeting di kota T Bu, mungkin nanti siang baru pulang" jawab Ujo.
Januar menghela nafas panjang, karena ia menjemput Tiwi, Naya terpaksa meeting mewakili Tinar Perkasa sendirian.
"Oiya Jo, tolong buatin orange juice dua ya, dan antar ke ruangan Naya, aku mau tunggu di ruangannya" ujar Tiwi, Ujo pun mengangguk.
Waktu pun berlalu, Naya yang baru menyelesaikan meeting memasuki gedung Tinar dengan lega.
Drrt drrt.
"Langsung ke ruanganku" pesan dari Januar membuat Naya mengurungkan langkah ke ruangannya.
Ceklek.
Belum dua langkah Naya memasuki ruang Januar, pria itu lebih dulu menyambutnya dengan pelukan erat penuh kerinduan.
Naya pun diam membiarkan Januar melampiaskan perasaannya dengan terus mencium tengkuknya.
"Rasanya ingin seperti ini setiap waktu bersamamu" gumamnya lirih, Naya hanya tersenyum gemas, terkadang sikap Januar memang seperti bocah yang haus kasih sayang.
Cukup lama akhirnya Januar mengurai pelukannya.
"Bagaimaan meetingnya?" tanya Januar lembut.
"Hmm lancar."
Ceklek.
Keduanya menoleh ke arah pintu, Tiwi berlari menghambur ke arah Naya.
"Gimana kabar Lu nyoong...kangen banget gueee, lu tambah cantik aja deh" Tiwi meremas rambut pendek Naya hingga acak-acakan.
"Ish Lu balik ke sini nggak kasih kabar, hmm tambah tembem aja nih pipi" balas Naya mencubit pipi Tiwi gemas, namun perhatiannya tiba-tiba teralihkan pada wanita cantuk di belakang Tiwi yang berdiri mematung.
Tiwi mengurai pelukannya lalu memandang Anis.
"Oiya kenalin nih bocil, katanya kangen, mau nyusul Arjuna nya, noh..yang di susul malah cuek."
__ADS_1