Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Perasaan Kendra


__ADS_3

Tiwi terdiam, bibirnya kelu bahkan sulit untuk mengucapkan kata-kata.


"Benarkah? apa kau tidak bohong Jan?"tanya Tiwi masih belum mempercayai ucapan sang adik.


"Aku tahu sikap seorang pria yang hanya menganggap teman biasa atau kah ada rasa suka di hatinya"jawab Januar bijak.


"Tapi ku rasa Kendra tidak seperti itu,kami sudah seperti saudara, mana mungkin ia menyukai Naya" Tiwi masih belum bisa menerima kenyataan meski hal itu kemungkinan besar pasti akan terjadi.


Januar menghela nafas kesal, kakaknya masih tetap menganggap mereka sama seperti saat di bangku kuliah.


Kau bahkan tak tahu salah satu temanmu pun telah menyukaimu dari dulu kak.


Sementara itu di tempat Lain, Naya berjalan ke sebuah kedai makanan yang telah Kendra janjikan.


Suasana dingin masih menyelimuti kedai karena gerimis yang tutun sejak dini hari tadi.


Naya tersenyum melihat Kendra ternyata sudah menunggunya, sedangkan Elis belum tampak batang hidungnya.


"Sudah lama Ken?" sapa Naya.


"Hu um" jawaban Singkat Kendra seraya menganggukan kepalanya.


Sudah satu jam lebih dia menunggu wanita yang di sukainya diam-diam itu, bahkan dua gelas kopi sudah ia habiskan.


"Sorry, jalanan tadi macet"sesal Naya dengan bibir cemberut.


"Tak apa, waktuku senggang kok."

__ADS_1


"Hee hee, terima kasih Ken, kau memang terbaik" Naya mengacungkan telunjuk dan jempol saling meyilang membentuk tanda cinta dalam bahasa yang sedang viral.


Jika aku adalah yang terbaik apakah kau mau menjadikannku lelakimu Nay? Ucap Kendra tapi hanya mampu ia ucapkan dalam hati.


"Mana Elis?"


"Dia tidak bisa datang, ada urusan lain katanya, baru dia hubungi Gue tadi" terang Kendra dengan wajah senang, karena sebenarnya itulah yang di harapkan.


"Dia memang selalu sibuk, bahkan akupun mulai di lupakannya" Naya mencebikan bibir tipisnya kesal, sedang Kendra hanya bisa menelan ludah kasar, Naya semakin menggemaskan jika sedang dalam mode merajuk.


Pelayan membawa nampan berisi kopi dan roti bakar kesukaan Naya, karena Kendra sudah memesan sebelum Naya datang.


"Tumben kedai ini agak sepi, biasanya ramai" tanya Naya memindai sekeliling kedai yang tampak kursi kebanyakan kosong.


"Mungkin kebanyakan orang enggan keluar rumah di cuaca gerimis ini"jawab Kendra, Naya hanya mengangguk.


"Dan kau kenapa malah ngajak ketemuan di sini, apa tidak ingin menghabiskan me time dengan tenang di apartemen mu?"


"Cieee mau ngomong apa sii Ken, napa musti nggak berani?bukannya kita biasa ngobrol bareng?"ledek Naya.


Kendra hanya tersenyum masam, ia tak ingin merusak persahabatnya kala itu, namun sekarang ia sudah tak tahan lagi memendam perasaan yang terus menyiksa batinnya itu.


"Nay, ketahuilah..jika selama ini kita bersahabat, dan saling perduli satu sama lain tak lebih dari sebagai teman biasa,tapi kali ini aku harus berterus terang padamu..." Naya terdiam, kalimat Kendra terdengar lebih serius dari biasanya.


"Nay...aku menyukaimu" Kendra menatap Naya dalam.


"Ngaco, Lu Ken ah...."Naya terkekeh tak percaya, namun Kendra tiba-tiba meraih tangannya dan menggenggam erat.

__ADS_1


"Sungguh, rasa ini bukan datang tiba-tiba Nay, rasa ini sudah dari dulu aku rasakan, perasaan yang lebih dari sekedar rasa pada seoramg teman atau sahabat, aku menyukaimu dari dulu Kanaya Dewanty" ucap Kendra dengan suara parau.


"T tapi kau kan tahu...."


"Aku tahu kau mungkin terkejut mendengar pengakuanku, tapi aku sungguh-sunguh mengatakan perasaan yang ku pendam selama ini Nay."


"Ken..."


"Aku tak meminta jawabanmu sekarang, aku akan sabar menunggumu."


"Dengar dulu perkataanku Ken.." Naya menghempas tangan Kendra dan suaranya sengaja ia tinggikan agar pria itu berhenti berbicara.


"Aku tak bisa menerima perasaanmu Ken.."ucap Naya lirih, ia tak ingin memberi harap pada sahabatnya itu.


"Kenapa Nay..?"


"Ketahuilah, sebenarnya Elis menyukaimu."


Kendra menatap Naya tajam, ia memang mengetahui kalau Elis sebenarnya menyukai dirinya sejak dulu tapi Kendra hanya menganggap sebagai angin lalu.


"Jadi karena Elis kah yang membuat kau tak menyukaiku?Naya...aku hanya menganggap Elis sebagai teman... tak lebih, berbeda dengan perasaanku padamu, aku tak bisa menghikangkan rasa suka ku padamu, bahkan semakin lama aku semakin mencintaimu."


Naya menghela nafas panjang, mereka bersahabat sudah bertahun-tahun, suka dan duka mereka selalu berbagi, tak mungkin rasanya ia melukai hati Elis, apalagi di hatinya pun sama sekali tak ada rasa cinta untuk Kendra.


"Maafkan aku Ken...aku tak bisa menerima perasaanmu, aku mencintai orang lain."


Kendra menatap Naya redup, separuh asa nya seakan hilang lenyap, apakah ketakutannya menjadi nyata, apakah Naya membalas perasaan suka Januar.

__ADS_1


"Apa aku mengenalnya?"tanya Kendra ragu, dan Naya mengangguk.


"Ya kau mengenalnya, dia Januar...adik Tiwi, sekaligus atasan kita di Tinar Perkasa" terang Naya.


__ADS_2