
Cukup lama keduanya terhanyut dalam pelukan hangat, Januar tak pernah merasa se bahagia itu di rindukan oleh se orang wanita.
"Ada apa heum?"tanya Januar lembut sambil terus menciumi puncak kepala Naya.
Tak ada jawaban dari bibir tipis Naya, ia hanya mengenduskan hidungnya seakan ingin memenuhi rongga paru-parunya dengan aroma maskulin khas Januar yang sudah menjadi candu baginya.
Cukup lama keduanya saling menyatu dalam diam, hingga suara pintu yang terbuka mengagetkan keduanya.
Ceklek.
Vega berdiri mematung di ambang pintu menyaksikan pemandangan yang membuat jantungnya serasa berhenti berdetak.
Sementara Januar yang tetap tenang menahan tubuh Naya yang hendak mengurai pelukan mereka.
"M maaf" ucap Vega lirih.
"Hmm ada apa Ga?" tanya Januar tenang, masih dengan menahan tubuh Naya di dalam pelukannya.
"E ehm a anu, kata Bang Ujo, ada pesan buat Mbak Naya dari Tuan Kevin agar di tunggu kedatangannya untuk makan siang nanti di kedai di seberang gedung Tinar Perkasa" terang Vega dengan wajah me merah.
Januar menelan ludah kasar, lalu mengurai tubuh Naya dan memandangnya tajam.
"Apa kalian ada janji bertemu?" tanya nya dingin.
Naya menggelengkan kepalanya dengan wajah tertunduk.
"Apa kau akan menemuinya?"tanya nya lagi dengan suara berat.
__ADS_1
Naya menggeleng pasrah, di depan Januar ia bagai se ekor kelinci yang tak berdaya di hadapan sang raja rimba.
"Baik nanti biar aku yang akan menemuinya" ujar Januar tenang.
"Ga, tolong kau jaga dia jangan sampai keluar dan menemui pria itu" titah Januar lirih namun terdengar menusuk telinga Naya.Vega hanya mengamgguk nurut.
"Sudah saatnya mereka tahu tentang kita, biar dunia tahu kau adalah milikku cupp..."
Lemas tubuh Vega melihat keromantisan sikap Januar saat mengecup puncak kepala Naya dengan lembut, jika selama ini ia hanya bisa menduga tentang mereka, kini semua sudah jelas, mereka memang saling menyimpan rasa.
Januar melangkah tenang meninggalkan ruangan melewati Vega yang masih berdiri mematung, sedangkan Naya kini berwajah bak kepiting rebus hanya bisa berjalan kembali ke kursinya dengan wajah tertunduk malu.
"Wah Mbak Nayaa, kapan kalian 'jadian' selamat yaa..."Vega berlari memeluk Naya dengan erat.
Wajah Naya yang sedang tersipu malu sungguh sangat menggemaskan, Vega tahu sedikit cerita hidup Naya yang selalu penuh derita dan air mata, Vega melihat matanya bersinar penuh kebahagiaan saat bersama dengan Januar atasannya itu.
"Aku ikut senang Mbak ku yang cantik ini akhirnya menemukan kebahagiaan, Pak Januar begitu mencintaimu Mbak, itu jelas terlihat dari tatapan matanya saat memandangmu, duh aku sampai terharu...kalian pasangan yang amat serasi" cerca Vega.
"Ih orang aku sudah tahu dari Bang Ujo duluan, cuma aku belum percaya kalau belum lihat langsung, tapi sekarang aku sudah yakin..."
Tok tok tok.
Ceklek.
"Mbak Nay, tadi ada Tuan Kevin, dia minta..."
"Udah Bang Ujo, aku udah sampe in ke Mbak Nay" timpal Vega.
__ADS_1
"T tapi kenapa sekarang Mbak Naya masih di sini?"protes Ujo, ia takut kalau nanti Kevin mengira pesannya tidak sampai pada Naya.
"Nanti Pak Januar yang temu in Tuan Kevin."
"Lho kok Tuan Januar?" tanya Ujo bingung.
"Pak Januar nggak mau Mbak Naya bertemu dengan lelaki lain."
"Ish apa sii kamu Ga" Naya mencubit pinggang Vega.
"Iya kok benar tadi Pak Januar yang bilang sendiri."
"Bilang gimana maksudnya mbak Vega..saya nggak ngerti."
"Ck bang Ujo mah, lemot..."
"Shhh udah ..udah.., iya Bang Ujo tenang saja, aku ngerti kok pesan pak Kevin, nanti aku ke sana"akhirnya Naya berucap untuk melerai keduanya.
"Dih ..nggak boleh gitu Mbak, kalau sampai Mbak Nay temu in Tuan Kevin, bisa-bisa aku di pecat sama pak Jan, jangan Mbak.."Vega memohon dengan tangan menyatu di depan dadanya.
Ujo semakin bingung dengan tingkah keduanya, namun ia terpaksa segera meninggalkan ruangan Naya karena sudah masuk jam istirahat.
Dengan langkah panjang Januar menuju kedai di mana Kevin menunggu Naya.
Dasar buaya sialan, sudah di tolak masih saja bergerilya, umpatnya dalam hati.
Januar hanya tersenyum masam melihat Kevin melambai ke arahnya.
__ADS_1
"Hai Jan, Lu juga makan siang di sini?" tanyanya Ramah.
Januar hanya mengangguk ringan dan menarik kursi di hadapan Kevin.