
Tok tok tok.
Pelukan mereka terurai saat ketukan pintu mengagetkan keduanya.
Ceklek.
"Mbak Nay, i ini makanan dari Dokter Kendra" Vega berucap dengan kata terbata, ia sungguh takut dengan tatapan Januar yang seakan ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Tidak, dia akan ikut makan siang bersamaku, kau makan saja punyanya" ucap Januar sinis sambil berlalu meninggalkan Vega.
"T tapi mbak Nay...."tangan Vega hanya menggapai di udara, Naya lebih dulu pergi karena Januar menarik tangannya.
"P pak lepas..., nggak enak kalau ada yang lihat" bisik Naya sambil matanya sibuk mengamati sekitar.
Januar menghentikan langkahnya, keadaan mereka berdua memang berbeda, status Naya masih sah istri Danu, jadi dia tak bisa bebas menyentuh apalagi memeluknya.
"Baiklah, aku berjanji tak akan menyentuhmu sebelum kau resmi berpisah dengan suamimu" ucapnya serius.
Naya tersenyum lega, sikap Januar selalu membuatnya senam jantung karena terkadang ia berbuat di luar kontrolnya.
Naya berjalan di belakang januar memasuki lift yang kebetulan terbuka.
Namun ucapan Januar ternyata hanya di bibir saja, janji untuk tak menyentuh Naya ternyata hanya ucapan kosong belaka.
Pria itu kini kembali mendekapnya erat, ruangan berukuran dua meter setengah kali satu setengah meter itupun menjadi saksi, untuk kedua kalinya Januar memeluk wanita yang sudah menjungkir balikan dunianya.
"Pak..." kalimat Naya terhenti saat jelunjuk Januar menutup mulutnya untuk diam.
"Sstt, biarkan aku menikmati aroma tubuhmu."
"Tadi kau bilang tidak akan..."
"Sst, hanya sebentar saja" Januar menyandarkan kepalanya di ceruk leher Naya sambil memejamkan mata lalu menghirup dalam-dalam aroma harum tubuh Naya, entah parfum apa yang di pakainya hingga kini membuatnya candu.
Ting.
"Pak.." Naya menghempaskan tubuh Januar hingga pria itu terhuyun saat pintu lift terbuka.
"Kejam sekali kau" protes Januar namun raut wajahnya cengo memandang ke depan, sedangkan Naya mengambil jarak beberapa langkah di belakang mengikutinya.
"Tetaplah seperti ini" gumam Naya lirih.
"Tapi aku ingin memegang tanganmu" ucap Januar dengan nada melas.
"Jaga jarakmu..." ketegasan Naya membuat Januar menghentikan aksinya, niatnya untuk menggenggam tangan Naya pun pupus.
Keduanya keluar lobi perusahaan dan menuju parkiran mobil.
"Sekarang tak ada orang, bolehkah aku memegang tanganmu" bisik Januar sambil matanya menyapu sekelilingnya.
"Jangan berani-berani"tekad Naya sungguh teguh, ia tetap ingin menjaga nama baik Januar juga nama baiknya sendiri, meski tak lama lagi ia akan bercerai dengan Danu tapi Naya ingin berpisah secara baik-baik.
Januar menghela nafas panjang, beginilah mencintai seorang wanita yang tegas, pikirnya.
__ADS_1
Di sebuah rumah makan yang cukup besar Januar memesan meja yang terletak di sudut ruangan, pelayan menunduk hormat menunjukan buku menu.
"Pak, yang simple aja, nanti kita telat" bisik Naya lirih.
"Kenapa memang kalau kita telat, apa ada yang berani memarahiku?"jawab januar congkak.
Ish dasar arogan, batin Naya.
Keduanya pun menikmati makan siang berdua.
"Kita seperti ABG yang sedang kencan" seloroh Januar.
Setelah makan siang mereka pun kembali ke perusahaan Tinar Perkasa, di sepanjang perjalanan Januar selalu menggenggam tangan Naya seakan ia tak rela melewatkan kesempatan tanpa menggenggam tangan kecil itu.
"Pak, ...saya mau minta.."
"Ish kita tidak sedang di kantor Nay, masa masih panggil Bapak, aku ini pacamu bukan ayahmu.."protes Januar ketus.
"Lalu harus panggil apa, sepertinya tak pantas saya tidak memanggil dengan sebutan Bapak, anda adalah atasan saya."
"Iya kalau di kantor, kalau di luar kan bukan, panggil yang lain ..."
"T tapi kan kita tidak seumuran harusnya kau pun memanggilku 'mbak' seperti kau memanggil Elis"kini Naya mulai ber aku,kamu.
Januar membuang matanya, dalam sejarah percintaan mana ada yang memanggil sang kekasih dengan sebutan 'mbak', pikirnya.
"Mana bisa begitu sayang..."kalimat Januar membuat Naya sontak membulatkan matanya.
"T tapi..." Naya tak bisa protes banyak karena mobil sudah sampai di parkiran Perusahaan.
Setelah mematikan mesin mobil, Januar keluar lalu berjalan memutar dan membuka pintu di samping Naya, act of service Januar membuat Naya salah tingkah.
"Nggak usah seperti itu, nanti ada yang lihat" bisik Naya cemas.
Januar hanya tersenyum tipis, sementara Naya berjalan mendahuluinya.
"Mbak Nay sudah makan mbak? Tadi di cariin dokter Kendra dan Mbak Vega" sapa Ujo ramah.
"Udah-udah Jo.."Naya menjawab gugup sambil mempercepat langkahnya.
"Mbak Nay kenapa Tuan, kok cepat-cepat jalannya."
Januar hanya mengedikan pundaknya namun tetap memandang Naya yang menghilang ke dalam lift.
Ujo hanya bisa garuk-garuk kepalanya yang tak gatal, sikap keduanya sangat membingungkan, Naya dengan gerak geriknya yang terlihat salah tingkah sedangkan Januar selalu menyunggingkan senyum manis penuh pesona, berbanding terbalik dengan saat datang pagi tadi.
Januar membuka pintu ruangannya, dan duduk menyandarkan tubuh di kursi kebesarannya.
Ia masih tak percaya akhirnya bisa mendapatkan hati Naya, dadanya kini terasa berbunga-bunga, untuk pertama kalinya ia berhasil memeluk Naya.
Ah kenapa aku sudah merindukannya, ia membatin lalu meraih ponselnya.
"Ayo angkatlah sayang..." ucapnya lirih.
__ADS_1
Namun panggilan tak di angkat oleh Naya membuat Januar mendengus kesal.
tok tok tok.
"Masuk.." Jefry datang dengan beberapa lembar dokumen di tangannya.
"Tuan, ...eh ..i anu saya.."
"Apa sebenarnya yang ingin kau katakan Jef, a u i u ....mirip orang gagu saja kau" umpat Januar kesal.
"Begini Tuan, kan mulai sekarang Mbak Naya ..."
"Hah kenapa dengan Naya..."tanya Januar tak sabar, jantungnya tiba-tiba berdebar kencang kalau ada orang lain yang menyebut nama Naya di depannya.
"Begini Tuan Januar, Mbak Naya kan sudah mulai masuk dan mbak Vega juga sudah saya ajarin tugas-tugasnya mendampingi mbak Naya nanti, jadi bolehkah saya mulai kerja di lapangan lagi seperti dulu?"tentu saja kerja di lapangan kata lain dari pengawal yang selalu siap menjaga Januar kemana pun.
Januar mengangguk meng iya kan.
"Baiklah mulai besok kau tak perlu lagi masuk seperti biasa."
Jefry pun mengangguk lega lalu pergi keluar ruangan.
Tok tok tok.
"Masuk"
Ceklek.
Senyum Januar surut saat orang yang ia kira Naya yang datang ternyata Vega dengan berkas di tangannya.
"Kenapa kau yang membawa ke sini, mana Naya?"
"Mbak Nay masih harus memeriksa dokumen pak, dan sekarang kan saya asisten mbak Naya, jadi untuk urusan distribusi data, itu sudah menjadi tugas saya."
Januar hanya mengangguk lesu, menunggu hingga sore pria baby face itu sungguh tak tahan, ia ingin segera bertemu dengan Naya.
Beginikah rasanya jatuh cinta, berjuta rasanya dan ingin selalu berdua.
Pukul lima Januar bergegas membereskan semua berkasnya di atas meja, langkahnya pun panjang menuju ke ruangan Naya.
Ceklek.
"Lho Nayanya mana?" tanyanya langsung pada Vega.
"Mbak Naya kan pulang tadi jam empat pak,katanya ada urusan penting dengan pak Aslan"
"J jadi dia pulang dengan Aslan?"
"Iya pak, pak Aslan sudah jemput dari satu jam yang lalu."
Januar hanya mendengus kesal.
Akan ku beri pelajaran siapa saja yang berusaha mendekati kekasihku.
__ADS_1