Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Tak Sanggup Lagi


__ADS_3

Kalau sudah baca jangan lupa tinggalin jejak cinta yaa say ....


Like, koment dan vote nya, juga kopi dan bunga kalau boleh 😘😘😘🤗🤗


Happy reading 🤗🤗🤗


💜💜💜💜💜💜💜💜


Elis melaju kan mobil menuju apartement Tiwi, sahabatnya itu memberinya ijin untuk mengambil beberapa Bir untuk mereka minum sepuasnya bahkan jika kurang Tiwi akan memesankan lagi.


Elis tersenyum senang dan merangkul Naya menuju lobi gedung.


"Apa bener Lu udah ijin sama Tiwi?, kan di sana ada adiknya si kulkas dua pintu itu" Naya menyebut Januar dengan panggilan kulkas dua pintu karena memang muka nya datar dan dingin.


"Heum, tenang Tiwi udah ijin sama adiknya."


Keduanya memasuki lift dan me mencet tombol di mana lantai apartemen Tiwi.


Teet.


Ceklek.


Dua wanita tersebut tampak tertegun saat melihat wajah Januar, jika biasanya pria itu memakai setelan jas kantor, kali ini hanya dengan celana pendek dan kaos putih polos membalut tubuh tegapnya membuat Januar terlihat jauh lebih muda dari usianya.


"Maaf boleh kami mengambil minuman Kakakmu?"tanya Elis ragu.


"Ehm silahkan masuk dan nikmati waktu kalian, saya akan pergi ke luar sebentar " Januar mengangguk hormat namun wajahnya tetap datar seperti biasa lalu melangkah pergi tanpa menunggu jawaban sang tamu.


"Baik, terima kasih" ucap Elis girang.


Keduanya memasuki apartement dengan ceria, rupanya Tiwi meminta Januar untuk meninggalkan apartement sementara, agar mereka bisa menikmati waktu me time tanpa rasa sungkan.


Dan mata elis membulat sempurna, saat coler box tempat Tiwi biasa menyimpan minumannya masih penuh, rupanya Januar sangat jarang meminum minuman jenis itu hanya soft drink yang selalu menjadi pilihan pertamanya di saat menikmati hari yang terik.


Elis mengambil beberapa kaleng Bir, dan membuka kulkas yang tentu saja hanya berisi snack dan camilan, sementara Januar pergi entah kemana.


Sang Kakak yang menyuruhnya untuk keluar dari apartemen, meski tak memiliki teman tapi Januar terpaksa keluar jika tak ingin mendapat murka dari sang Kakak.


Januar hanya bisa menghela nafas panjang, di sebuah klub kini ia berada, semula ia menolak saat Tiwi minta ijin kedua sahabatnya menghabiskan waktu di apartemennya, namun hari ini Naya sedang berulang tahun, dan suasana hatinya sedang sangat buruk, membuat Januar mau tak mau menyutujui permintaan Tiwi.

__ADS_1


Januar sungguh sangat bosan di dalam klub tersebut, tak terbiasa dalam ruangan tertutup dan penuh asap rokok yang menyesakkan paru-parunya.


Dan hanya satu jam Januar bisa bertahan di dalam klub tersebut, ia berfikir bagaimana mungkin banyak orang yang betah berada di ruangan tertutup dengan asap rokok memenuhi ruangan, bahkan suara musik kencang memekakakan telinga dan jantungpun menjadi berdebar kencang.


Tak hanya itu, banyak pengunjung wanita dengan busana mini yang memperlihatkan lekuk tubuh yang menggoda iman.


Mereka menari-nari seiring alunan musik yang tertalu keras.


Kepulan asap rokok yang keluar dari bibir merah mereka seakan menunjukan eksistensi keberadaannya yang mengundang para lelaki pemburu kehangatan di atas ranjang.


Dari sudut matanya Januar sempat melihat lelaki yang sudah menyelesaikan transaksi perjanjiannya lalu membawa sang wanita bersamanya memasuki ruang yang berada di pintu tersembunyi, dan hanya pelanggan setia lah yang sudah mengetahui pintu mana yang bisa mereka datangi.


"Ck " decakan bibir merah sensual dan kedipan seorang wanita tersenyum manja pada Januar saat ia berpapasan dengannya.


Pria berparas baby face itu mengusap tengkuknya yang meremang, busana wanita itu sungguh membuat mata panas dan jantung berdebar kencang.


Paha putih yang tereksppse sempurna juga tonjolan dua gunung kembar yang seakan tak mampu lagi tertampung oleh kain penutupnya, benda kenyal itu bergerak seolah melambai ke arah Januar.


Glek.


Januar menelan kudah kasar, sebagai seorang pria sempurna tentu ia pun merasa tergoda dengan pemandangan indah tersebut, namun beruntung otaknya masih bisa bekerja dengan baik.


Januar segera keluar setelah membayar tagihan bill sekaligus memberi uang tips pada pelayan.


Waktu menunjukan pukul sebelas malam, dan cacing dalam perutnya pun sudah mulai berontak meminta jatah makan malam.


Perlahan Januar melajukan mobilnya perlahan menyusuri jalanan ibukota.


Di sebuah rumah makan yang masih buka, Januar menghentikan mobilnya untuk mengisi perut.


Sepiring nasi rames ia pesan dan habis dalam waktu singkat, lalu ia meminta pelayan untuk membungkuskan dua porsi untuk di bawa pulang, Naya dan Elis rupanya masih di apartement, Tiwi me wanti agar pulang nanti Januar membawa makanan untuk dua sahabatnya.


"Perhatian sekali kau dengan dua sahabatmu itu Kak" protes Januar karena Tiwi selalu saja menyuruh-nyuruhnya.


"Mereka adalah nyawa kedua Kakak, Nu...kalau tak ada mereka entah bagaiman nasib Kakak setelah kalian pergi untuk berobat Ayah ke KL, mereka lah sahabat yang selalu menemani Kakak dalam suka dan duka, mereka tulus berteman dengan kakak, tidak seperti orang lain yang selalu memandang kakak karena harta yang Kakak miliki jika saja....."


"Ah sudah, sudah...iya aku beliin makan nih, aku mau pulang" potong Januar yang kesal mendengar celotehan panjang sang Tiwi yang selalu meratu kan kedua sahabatnya.


Awas saja kalau sampai mereka nanti seperti kacang lupa kulitnya, batin Januar.

__ADS_1


Dengan dongkol Januar pulang setelah memesan dua bungkus nasi.


Teeet.


Ceklek.


Januar membuka pintu ruangan yang kini bagai kapal pecah, beberapa kaleng Bir kosong berserakan, juga bungkusan snack bercecer di atas meja.


Mata Januar membulat, baru dua jam ia tinggalkan apartementnya yang rapi dan bersih tapi kini ...tumpukan sampah berserakan membuat mata Januar memanas.


Ia memindai ruangan, sesosok tubuh duduk menelungkupkan wajahnya di atas meja, tubuhnya terguncang lirih, sesekali terdengar isak dari mulutnya.


"Aku tak sanggup lagi Ayah...Ibu, maafkan aku, dia tak akan mencintaiku Ayah...dia mencintai wanita lain hiks....semua ketulusanku selama ini tak ada gunanya, dia tidak akan pernah mencintaiku huu huu...."suara tangis pilu Naya terdengar lirih.


Januar menelan ludah kasar, tangisan Naya begitu menyayat hatinya.


Lelaki mana yang telah menolak dan menyakitimu.


Januar melangkah perlahan ke arah Naya yang masih tak sadar, ia terus meracau dan terisak.


Ceklek.


"Kau sudah pulang?" tanya Elis yang baru keluar dari pintu kamar tamu dengan wajah segar.


"Ehm iya, ini aku bawa....."


"Sssst..." Elis menutup mulut dengan telunjuknya agar Januar merendahkan suaranya lalu melambai untuk mengajak pria imut itu menjauhi Naya.


"Dia sedang hancur, biarkan ia melepaskan kesedihannya, entah berapa Bir tadi ia habiskan" bisik Elis lirih.


Januar hanya mengangguk mengerti lalu menyerahkan bungkusan nasi pada Elis.


"Terima kasih, oiya..malam ini bolehkah kami menginap di sini, aku tak bisa membawa Naya pulang dalam keadaan seperti ini..?"Elis bertanya penuh harap.


Januar mengerutkan alisnya lalu mengangguk tanda setuju.


Terserah pada kalian saja lah, ia membatin.


Untung saja mereka tinggal di apartement yang tak akan ada emak-emak julid membicarakan mereka.

__ADS_1


"Terima kasih banyak, jangan khawatir kekacauan ini akan aku bereskan, dan kami pastikan akan pulang tanpa meninggalkan jejak apapun di apartemenmu ini" ucap Elis pasti.


Pria baby face itu hanya mengedikan bahunya lalu masuk ke kamarnya.


__ADS_2