
"Sembilan puluh sembilan...seratus, aahhhh!" seratus kali sit up berhasil ia selesaikan pagi ini, ia lalu merebahkan tubuhnya yang bermandikan keringat membuat enam kotak perutnya terlihat makin sexy, dengan hanya celana tranning hitam dan tubuh atasan yang ia biarkan polos membuat dada bidang Januar yang di tumbuhi rambut halus terekspos nyata.
Januar sengaja bangun pagi lebih awal, sudah cukup lama ia tak berolah raga, membuat otot tubuhnya terasa kaku dan pegal.
Di ruangan tempat Gym nya Januar merebahkan tubuh terlentang, pukul enam lebih tiga pukuh menit, ia bergegas pergi untuk mengambil minum.
Ceklek.
Dengan handuk kesil yang ia gunakan mengelap keringat Januar memasuki ruang dapur dengan santai.
Glek glek glek.
Jakunnya bergerak naik turun saat Januar meneguk minumnya, begitu pun Anis yang tak sadar menelan ludah kasar, adegan indah nan nyata di depan matanya bagai sebuah iklan minuman berenergi, tubuh Januar terlihat begitu kekar dan sexy, kulitnya yang halus tanpa lemak, memperlihatkan otot perut sixpacknya yang sempurna.
Prraang.
Gelas yang di pegang Januar terlepas dan jatuh ke lantai karena jantungnya bagai terhenti saat ternyata Anis tengah memandang tubuhnya dengan begitu intens.
"Hei sejak kapan kau di situ?" tanya Januar terkejut.
"A aku sejak tadi berada di sini, a aku sedang membuat sarapan" jawab Anis gugup, mukanya yang putih berubah bak kepiting rebus, sungguh malu Anis rasanya kala Jamuar memergokinya sedang memandang penuh rasa kagum.
Januar mendengus kesal lalu melangkah ke kamarnya dengan tatapan remeh ke Anis.
Meski seorang lelaki ia pun merasa jengah jika di tatap seperti itu.
Setelah mandi dan memakai baju kantornya Januar langsung memakai sepatu tanpa sarapan, tentu saja hal itu membuat Tiwi kesal.
"Jan sarapan dulu" pekik Tiwi yang baru keluar dari kamar.
"Nantu saja di kantor" jawab Januar singjat.
Sesampainya di kantor Januar memeriksa agenda dan ada dua meeting yang harus ia hadiri.
Tok tok tok.
"Selamat pagi Pak, ini laporan data pembangunan gedung di kota Tangerang, apa perlu di revisi?"tanya Vega.
__ADS_1
"Baik nanti akan aku periksa, jam berapa meeting hari ini ga?mungkin aku tak bisa hadir karena ada satu urusan penting lain" jelas Januar.
"Meeting pagi jam sembilan dan meeting kedua setelah makan siang dengan Tuan Kevin, kalau Bapak Januar tidak bisa berangkat maka Ibu Naya yang akan mewakili Tinar Perkasa pak."
"Oke kalau begi....hah? dengan Tuan Kevin?"tanya Januar panik.
"Benar Pak, hari ini kita ada meeting dengan perusahaan Tuan Kevin."
"Kalau begitu aku akan hadir mendampingi Naya."
Vega mengangguk lalu kekuar dari ruangan.
Hm tak akan ku biarkan kau bertemu dengan kekasihku, batin Januar sambil bersiap untuk bertemu rivalnya.
Suasana siang yang terik membuat Naya enggan pergi ke kantin, ia hanya menitip makan siang pada Vega.
Selepas menikmati makan siang, Naya pun pergi le ruang meeting dengam beberapa berkas sudah di tangannya.
Suasana ruang meeting masih tampak sepi, karena meeting baru akan di mulai lima belas menit lagi.
Ceklek.
"Bukannya kau sudah newakilkanku untuk meeting kali ini?" tanya Naya.
"Aku hanya tak ingin membiarkan lelaki itu bertemu berdua dengan kekasihku."
Naya terdiam, sekarang ia mulai terbiasa dengan sifat posesif Januar, dan ia tak akan protes lago karena ia tak ingin mengganggu singa ganas yang hampir saja ia menjadi mangsanya malam itu.
Tok tok tok.
"Masuk" Kevin memasuki ruang meeting, dan wajahnya langsung tampak gembira karena Naya sudah berada di ruangan itu, di samping meeting, Naya lah sebenarnya yang menjadi tujuan utama ia datang ke Tinar perkasa.
"Wah, suatu kehormatan yang sangat besar bagi saya, ternyata sudah ada Tuan rumah di ruangan ini, maaf kalau saya datang terlambat" sapa Kevin hangat sambil menyalami keduanya.
"Ehm saya hanya ingin meeting ini lebih di persingkat, karena ada urusan lain yang harus saya tangani" jawab Januar datar.
"Hm kalau begitu biar Naya saja yang mewakili anda, di sudah mahir untuk mengurusi meeting dengan para klien" usul Kevin bijak.
__ADS_1
"Tidak karena pertemuan nanti pun aku memerlukannya."
Naya hanya bisa menyaksikan perang dingin dua pria di hadapannya tanpa bisa berkata-kata.
Kevin menatap Naya yang tertunduk, ia bingung dengan sikap Januar yang berubah sangat aneh dan ketus padanya, padahal ia ingin menemui Naya secara pribadi setelah meeting nanti.
Dengan berat hati akhirnya Kevin mengeluarkan berkas dokumen dari tas kantormya.
Dan meeting yang biasanya berjalan lebih dari satu jam, berakhir tak lebih dari tiga puluh menit, waktu yang sangat singkat menurut Kevin, belum puas ia bertemu sang pujaan hati, apalagi sekarang Januar pun langsung membawanya untuk meeting yang entah di mana tempatnya.
Tak tok tak.
"Hai Vin, kapan meeting di mulai, bukankah hari ini perusahaanmu ada meeting di Tinar Perkasa?" sapa Tiwi yang baru datang.
"Hm sudah beberapa menit yang lalu selesai, kata adikmu ada meeting di tempat lain dan sekarang mereka sudah pergi"jawab Kevin dengan wajah kecewa.
Tiwi mengedikan alis terkejut, bukankah di agenda buku Vega hanya ada dua meeting, ia membatin.
Tiwi melihat kepergian Kevin dengan penuh kekecewaan, meski meeting berjalan lancar dan sesuai rencananya tapi ia gagal menemui Naya.
Januar sudah tak bisa lagi di kendalikan, mungkin jalan satu-satunya ia harus menceritakan pada kedua orang tua mereka tentang sepak terjang Januar sekarang ini, Tiwi membatin.
Sementara itu Naya masih terdiam dalam ruangan di mana Januar mengurungnya.
Januar urung membawa Naya pergi dari Tinar Perkasa karena Ujo mengatakan kalau mobil Tiwi baru saja datang ke parkiran.
Serelah masalah Kevin selesai kini ia harus menghadapi Tiwi, terpaksa Januar meminta Naya tinggal di ruangan pribadinya sampai Kevin pergi dari gedung Tinar Perkasa karena Januar tahu mobil Kevin masih ada di gedung parkiran.
"Kenapa kau kurung aku si sini?" tanya Naya lewat pesan singkat.
"Tunggu hingga lelaki genit itu pergi dari Tinar perkasa.
"Tapi meeting sudah selesai kenapa aku harus menunggu di ruangan ini?" protes Naya.
"Aku tak ingin dia menemuimu secara sembunyi-sembunyi, kau istirahatlah dengan tenang di situ, akan ku buka pintu setelah dia pergi dari Tinar."
Naya hanya bisa menghela nafas kasar, sikap januar sungguh seperti bocah.
__ADS_1
"Sayang, banyak dokumen di mejaku yang belum aku selesaikan" ucap Naya membuat Januar mendengus kesal.
"Kenapa kau masih cemas tentang pekerjaan sedangkan kekasihmu adalah pemilik peruahaan ini" jawab Januar kesal lalu menutup ponselnya.