Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Vonis


__ADS_3

Selama Dua jam sidang berlangsung, suasana pun tegang saat pembacaan jatuh vonis.


Tangan Naya terasa dingin, bahkan keringat mulai keluar dari pori-pori keningnya.


Teriakan histeris membuat ruang sidang menjadi gaduh saat Silvy akhirnya di jatuhi hukuman lima belas tahun, sedangkan anak buahnya mendapat delapan tahun kurungan.


Polisi yang berjaga langsung mengamankan Silvy yang terus meronta, wanita cantik itu menjerit dan terus memaki Naya, tatapan matanya tajam seakan ingin mencabiknya.


Orang suruhan yang Januar perintahkan dengan sigap mengamankan dan melindungi Naya.


Silvy yang terus meronta merasa tak terima dengan putusan hakim, dendam membara terlihat jelas dari sorot matanya.


"Dasar wanita murahan, karna kau mas Danu meninggalkanku, kau telah menghancurkan hubungan kami kau menghancurkan hidupku brengsekkk.....!!!"jeritan Silvy dengan tubuh terus meronta karena di tahan beberapa pria bertubuh tegap.


"Di bayar berapa kau menjadi istrinya hah!...katakan berapa uang yang kau ingin untuk menjadi istrinya hah..!!,dasar murahan kau...wanita tak berperasaan, andai saja kau tidak hadir di antara kami, mungkin kami sudah bersatu dalam ikatan pernikahan dan hidup bahagia, andai mas Danu tak menerima perjodohan ini mungkin kami sudah bahagia, kau memang wanita tak punya hati ....!!"


Teriakan Silvy terus menggema di ruang sidang.


"Hei brengsek beraninya kau sebut istriku wanita murahan...! Asal kau tahu aku sangat menyesal telah mengenalmu, sesal terbesar dalam hidupku adalah telah menyakiti istriku sendiri, kaulah wanita murahan itu sesungguhnya Silvy, sadarlah ....aku sudah menggenggam batu kerikil di tanganku dan tanpa sadar membuang permata sesungguhnya..." kali ini Danu berkata lantang dan menggelegar, Silvy tampak diam tak bergerak, ia menatap Danu yang memandangnya dengan sorot penuh kebencian.


"Aku jijik padamu, bahkan aku jijik pada tubuhku sendiri, andai waktu bisa ku putar ulang, aku akan menerima perjodohan ini dan membahagiakan istriku dengan seluruh jiwa ragaku, kini aku sadar....dialah wanita yang seharunya ku perjuangkan , bukan kau ..wanita murahan yang rela menjajakan tubuhmu hanya untuk memenuhi gaya hidupmu...."nafas Danu memburu dadanya pun membusung tegap, sedangkan Sam berusaha menengkannya dengan terus memegang tangan Danu.


"Tidak..kau pasti telah di rasuki oleh rayuannya, aku tahu kau sangat mencintaiku mas, cinta kita sangat kuat ..pasti wanita itu menggunakan guna-guna untuk menjeratmu mas, pasti dia...."


"Cukup Silvy, aku bahkan sangat menyesal telah menyakitinya...andai pernikahanku bisa ku perbaiki, akan kulakukan apapun untuk membahagiakannya..."


"Tidak...kau harus tetap menjadi milikku ...tidak... lepaskan aku, mas Danu tunggu aku bebas Mas, kita akan bersatu lagi..kita pasti akan bahagia mas..lepass, lepaskan akuu....!!!" dua tangan kekar polisi menarik Silvy menuju ke mobil, dan membawanya pergi dari gedung.


Wanita paruh baya yang ternyata ibu Silvy tampak pasrah, dengan kekuatan uang yang di milikinyapun tak bisa meluluhkan hakim, putri semata wayangnya tetap akan tinggal di balik jeruji besi.


"Naya...." panggil Danu dengan suara bergetar.


Melihat Naya tampak shock dengan wajah memucat, ingin rasanya Danu memeluknya, namun apa daya, tatapan Januar bak singa lapar yang siap menerkamnya.


"Maafkan aku..."ucap Danu dengan suara tercekat, mata indah Naya tampak berkaca-kaca dan bibir bergetar.


Januar dengan gesit merangkul Naya dan membawanya pergi.

__ADS_1


"Apa dia sudah boleh pergi sekarang?" tanya Januar pada Aslan.


"Ya, bawalah, dia perlu istirahat, dia masih shock" ujar Aslan prihatin.


Wajah Naya sangat pucat, bibirnya pun bergetar, Elis pun berusaha menenangkan dengan terus mengusap punggung tangannya menuju parkiran mobil.


"Ayo.." teriak Januar dari dalam mobil menyuruh Naya masuk.


Setelah memasang seatbelt di tubuh Naya dengan lembut Januar mendaratkan kecupan ringan di puncak kepala wanita yang masih shock itu.


"Semua sudah berakhir sayang..."ucapnya lalu melajukan mobil menuju apartemen.


Danu tertegun, dari jarak cukup jauh ia masih bisa menyaksikan dengan jelas saat Januar mendaratkan kecupan di kepala Naya, dadanya terasa amat sesak, adegan yang seharusnya ia lah pemainnya tapi kini tergantikan oleh Januar.


Meski hati begitu ingin berontak dan membawa Naya pergi, tapi Danu tak bisa melakukan itu, meski benih-benih cinta yang sesungguhnya telah tumbuh di hatinya, tapi ia harus menerima takdir, kalau mereka memang harus berpisah.


"Bos, apa kita langsung pulang?"tanya Sam, Danu mengangguk lalu mengikuti Sam menuju mobilnya.


"Sam, apa aku terlalu kejam padanya? Apa aku tak bisa memperbaiki pernikahanku, aku ingin menyembuhkan luka yang telah ku toreh di hatinya, luka yang terlalu dalam dan banjir air mata yang tumpah karna perbuatanku, aku hanya ingin menyembuhkan lukanya Sam..." Kalimat Danu terhenti saat Sam tetap memandang jalan di depannya.


"Saya ehm a anu bos."


"Jujur katakan yang ada dalam hatimu Sam."


Sam mengangguk kaku.


"Apa menurutmu Naya akan memaafkanku dengan tulus?"Danu memandang sang asisten berharap kali ini ia memberikan jawaban.


"Saya tahu hati Non Naya begitu lembut, pasti Non Naya memaafkanmu dengan tulus bos" ucap Sam pasti, membuat Danu tersenyum.


"Apakah pernikahanku bisa terselamatkan Sam?apakah aku masih punya kesempatan untuk bersamanya kembali, maukah dia menerimaku?"


Cih masih punya muka kah kau bos? Setelah membuat hancur hati Non Naya, aku pun tak rela jika Non Naya kembali padamu, batin Sam.


"Mungkin sebaiknya relakan Non Naya bahagia bos, dia berhak bahagia setelah berpisah darimu."


"Jadi menurutmu aku tak bisa membahagiakannya heum?" Danu bertanya sinis.

__ADS_1


Sam menghela nafas kasar, Danu memang sangat keras kepala.


Sementara itu Naya berjalan menuju lobi apartemen sedangkan Januar mengikutinya beberapa langkah di belakang.


"Maaf Nyonya, bisa bicara sebentar" seorang pria tampan berjas lengkap mendatangi Naya.


"Ada apa, dan apa anda mengenal saya?"tanya Naya.


"Perkenalkan, saya Rendra...saya mewakili Nyonya Sania, ibu dari Non Silvy, untuk meminta waktu anda untuk bertemu, apa Nyonya Naya bersedia" pria tampan ber jas hitam mengulurkan tangan memperkenalkan diri.


Naya menyambut dan mengangguk pelan.


"Maaf ini kartu nama saya, silahkan hubungi saya kalau Nyonya sudah ada waktu, Nyonya Sania menunggu jawaban dari anda" pria tampan itu mengangguk hormat lalu meninggalkan Naya.


"Siapa dia?" tanya Januar ketus, hanya melihat Naya berbicara dengan lelaki lain saja sudah membuat darahnya panas.


"Entahlah, katanya dia suruhan Nyonya Sania ibu dari Silvy" Naya menyerahkan kartu nama pada Januar lalu pergi menuju lift.


Bergegas Januar memasukan kartu nama tersebut ke dalam saku bajunya.


Bu Heni menyambut keduanya dengan tersenyum senang.


"Ayo makanlah, Ibu sudah masak istimewa untuk kalian" ujarnya.


Naya tersenyum senang, rupanya Bu Heni sengaja menyiapkan masakan yang ia sukai, rasa lelah dan shock saat di persidangan mulai sirna.


Dengan lahap Naya menghabiskan makannya, Januar tersenyum tipis melihat Naya tampak lahap.


Teet.


Bu Heni membuka pintu dan Elis muncul dengan senyum lebarnya, di belakangnya Kendra dengan wajah datar.


Alis Januar mengerut melihat kedatangan keduanya.


"Silahkan makan dokter Kendra Mba Elis"sapa bu Heni.


Naya bergegas melangkah ke kamar membuat januar semakin bertanya-tanya.

__ADS_1


__ADS_2