
Danu hanya menelan ludah kasar, pria yang ia anggap hanya sebagai bocah ingusan ternyata memiliki nyali besar.
Januar melangkah menuju lobi perusahaan di mana Jefry sudah menunggunya di mobil.
Tatapan pria itu kosong, raganya tengah berjalan tegap tapi pikirannya sedang mengulang kembali memori saat-saat indah bersama Naya di pantai.
Apakah ia benar-benar akan kehilangan Naya nantinya, apakah ia sanggup melepas Naya kembali pada suaminya.
Januar benar-benar kalut, ia tak rela Naya kembali pada pria brengsek yang sudah bermain dengan wanita di belakang Naya bahkan setelah mereka menikah pun Danu masih bermain gila di belakangnya.
Apakah ia harus menggunakan cara licik agar Naya tak kembali padanya?apakah ia harus menunjukan kebejatan Danu pada Naya.
Tapi itu terlalu picik, Januar bukan lelaki pengecut yang menggunakan kelemahan lawannya untuk menyerang agar memenangkan pertempuran.
Januar menelan ludah kasar, kepalanya begitu pening memikirkan bagaimana agar Naya tak pergi dari sisinya.
"Tuan, apa kau sakit?" tanya Jefry yang melihat Januar memejamkan matanya sambil menyandarkan tubuh di kursi belakang.
"Tidak, teruskan saja kau mengemudi."
Januar enggan membagi ganjalan hatinya pada sang asisten dan memilih memejamkan matanya.
Jefry yang mengetahui kegalauan sang bos pun tak mau mengganggu dan membiarkan ia terpejam selama perjalanan.
"Tuan, sudah sampai" bisik Jefry lirih di depan lobi perusahaan.
Januar membuka matanya, meski tak tidur tapi kekalutan hatinya membuat pria itu tak fokus.
Jedug.
"Aahhk" pekik Januar sambil mengusap keningnya yang panas karena terbentur pintu mobil.
"Hati-hati tuan.."ucap Jefry polos.
"Telatt" jawab Januar ketus sambil melangkah memasuki perusahaan.
Jefry melihat tingkah atasannya dengan wajah bingung, tak biasanya Januar tak fokus seperti itu.
Sepanjang hari Januar tampak gundah, pikiran dan tubuhnya berbeda tempat, raga di petusahaan tapi otak dan hatinya di tempat lain.
Untunglah selama bu Heni pulang kampung Elis bersedia menemani Naya di apartement, hingga Januar sedikit merasa tenang karena Naya tak kesepian.
Sementara itu di apartemen, Naya dan Elis sedang sibuk membuat camilan untuk di bawanya ke salon.
__ADS_1
"Apa nanti di salon kau tidak akan pusing lagi Nay?" tanya Elis sambil memberesi peralatan masak.
"Tidak Lis, kepalaku sudah sepenuhnya pulih" Naya menjawab dengan penuh percaya diri.
"Bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan suamimu? Apa kau akan kembali padanya?."
"Entahlah Lis, aku pun masih ragu...mas Danu dengan tulus mohon maaf padaku dan ingin aku kembali padanya, aku melihat kejujuran di matanya Lis."
"Lalu apa dengan mudahnya kau percaya? dan akan memaafkan semua yang telah ia lakukan padamu, apakah nantinya dia tak akan mencaci dan menghinamu lagi? Bahkan setelah terang-terangan dia mengatakan mencintai wanita lain padamu, suami macam apa itu, mungkin saja karena memang sekarang dia tahu siapa sebenarnya kekasihnya selama ini, mungkin suamimu baru sadar bahwa selingkuhannya itu hanya memanfaatkannya saja."
"Sebenarnya wanita itu bukan selingkuhan mas Danu, karena akulah yang datang dan menganggu hubungan mereka yang telah lama terjalin Lis, akulah yang bersalah."
"Iya tapi kan mana ada seorang suami berterus terang mempunyai wanita lain pada istrinya, meski pernikahan kalian karena perjodohan, sungguh tak pantas suami berkata seperti itu."
"Tapi mas Danu sudah mengakui kesalahannya Lis, dan dia ingin memulai pernikahan kami dari awal" Naya masih berusaha membela Danu.
"Dan itulah impianku, memiliki pernikahan sekali seumur hidup, mungkin memang aku harus memberi kesempatan pada mas Danu" Naya berucap dengan senyum tulus.
Elis hanya menghembuskan nafas kasar, sikap Naya sangat keras kepala.
"Sudahlah, ayo kita berangkat..."
"Oke, eh ...aku pamit dulu sama pak Januar."
"Hmm."
Meski hanya satu kalimat ringan tapi itu cukup membuat hati Januar berbunga, rasanya hilang rasa sakit di kepalanya karena terbentur pintu mobil tadi.
"Ya, hati-hatilah dan jangan pulang terlalu larut" jawaban pesan Januar.
Ah kenapa hatiku se senang ini, batin Januar, ia terus saja melihat layar ponsel.
"Nay...jika nanti di salon kau merasa pusing bilang padaku oke?aku nggak mau Januar nanti murka karena telah mengajakmu ke salon."
"Ah kau ini, mana mungkin pak Jan marah dan menyalahkanmu hanya karena kepalaku kambuh."
Hm kau tak tahu saja pria itu begitu protektif padamu, se ujung kuku pun kau terluka maka ia akan berubah menjadi singa yang siap menerkam orang yang melukaimu,.
Keduanya pun berangkat menuju salon, jarak yang cukup dekat hingga hanya membutuhkan waktu empat puluh menit.
"Pagi anak-anak" sapa Elis pada para karyawannya.
"Pagi mbak Elis, mbak..Nay hai, mbak Naya apa kabaranya, maaf ya mbak aku belum sempat jenguk mbak Nay" sapa seorang karyawan kepercayaan Elis yang sudah cukup mengenal Naya.
__ADS_1
"Hmm nggak apa-apa kok, kalian cukup sibuk, aku ngerti kok."
"Mbak Nay duduk mbak, mau minum apa nanti Mimi ambilin" sapa Mimi gadis imut yang super ramah.
"Nggak usah repot Mi, kalau ada air bening hangat aja" jawab Naya lembut.
"Oke siap mbak Nay."
"Mbak Nay bagaimana kondisi luka-luka mu?sudah sembuh kan?" tanya karyawan lain yang kepo karena Naya tak biasanya menggunakan topi kupluk.
"Hm sudah sembuh, dan rambut kepalaku pun sudah cukup panjang" Naya melepas kupluk penutup kepalanya.
"Waah, mbak Nay memang cantik, dengan rambut panjang atau pendek pun kau tetap terlihat manis dan imut" ucap Mimi sambil menyodorkan segelas air minum.
Suasana salon menjadi riuh, para karyawan banyak mengerubungi Naya, Naya yang selalu ramah dan hangat selalu mendapat temoat di hati mereka.
"Hei, apa kalian lupa bos kalian itu gue, kenapa malah dia yang di sambut, atau mau ku potong gajih kalian semua heum?" Pekik Elis kesal karena Naya begitu mereka perhatikan.
"Yaa nggak gitu mbak El, ..mbak Naya kan baru saja tertimpa musibah, kami hanya ingin menyapa dan menanyakan keadaannya."
"Iya."
"Iya mbak Elis, jangan potong gajih kami."
Wajah mereka berubah muram membuat Naya pun tersenyum.
"Tenang, tenang...kalau kalian di potong gajihnya oleh dia, aku yang pertama akan protes" Naya pasang badan dengan tubuh kecilnya.
"He hee, nggak lah, aku cuma bercanda.....udah nih, makanan kalian bagi-bagi"ucap Elis.
Dan salon pun kembali riuh karena sorakan para karyaan yang lega.
"Sst Nay, ayo ke ruanganku" ajak Elis menarik tangan Naya.
Naya mengikuti langkah Elis memasuki ruangan pribadinya.
"Duduklah di sini, jangan kau terlalu lelah, aku tak mau singa lapar itu nanti menerkamku" Ujar elis.
"Hah singa?mana" jawab Naya polos.
"Haiss sudahlah, ayo kita makan dulu."
Naya hanya menampakan wajah bingung tak mengerti dengan ucapan Elis.
__ADS_1
Drrt drrt.
"Nay bisakah kita bertemu? Aku ingin bicara banyak denganmu."