Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Tunggu Tiga Bulan


__ADS_3

Desah nafas keduanya saling memburu bahkan ciuman Januar semakin memanas membuat Naya seakan kehabisan oksigen karena sesapan Januar begitu kuat dengan lidah yang mengakses liar di rongga mulutnya.


Januar melepas ciuman saat Naya menepuk pundaknya cepat.


"Maaf" ucapnya dengan rasa sesal saat melihat Naya menghirup nafas panjang setela terlepas dari ciumannya.


Januar tersenyum gemas sambil mengusap sisa salivanya di bibir Naya, wanita yang tiga tahun kebih tua darinya tapi wajahnya masih terlihat imut dan menggemaskan saat merona merah.


Tok tok tok.


Naya cepat bangkit dari pangkuan Januar lalu membetulkan bajunya yang tersingkap lalu memangkah untuk membuka pintu.


Ceklek.


"Mbak Nay lama ba....." ucapan Vega menggantung karena melihat Januar yang duduk santai sambil mata ke arah televisi.


"Oh ada Pak Jan?" tanyanya kikuk.


"Heum, aku baru datang, tadinya mau ajak dia keluar tapi...katanya ada janji sama kamu" jawabnya tenang.


Vega mengangguk lalu ikut duduk di sebelah Januar.


"Kau mau minum apa Ga?"tanya Naya dari dapur.


"Apa aja Mbak yang ada" jawabnya sambil melirik ke gelas Januar.


Baru datang tapi minumnya sudah mau habis, ia membatin.


"Kalian mau pergi ke mana?" tanya Januar.


"Mau cari apartemen Pak"


"Oh kau mau pindah dari rumah kedua orang tuamu?" tanya Januar dan Vega mengangguk bangga.


"Padahal ada satu unit apartemen di gedung ini yang di jual dan kebetulan di sebelah Mbak Nay, tapi aku kalah cepat."

__ADS_1


"Kenapa memangnya?"


"Orang itu membeli tiga kali lipat dari harga yang di tawarkan" jawabnya lesu.


"Ooh" Januar hanya ber oh ria.


"Lalu kau akan mencarinya lagi ke mana?" sambungnya.


"Di mana aja asal harganya nggak terlalu mahal dan tidak terlalu jauh dari gedung Tinar Perkasa Pak"


"Oke nanti aku bantu carikan, kalau begitu aku pamit dulu" Januar bangkit hendak pergi namun tatapan aneh Vega membuat langkahnya tertahan.


"Kenapa? Ada yang salah dengan wajahku?"


"Bapak pakai lipstik?" Vega melangkah maju ingin memastikan noda di bibir Januar.


Januar mengusap bibirnya tenang, sementara jantung Naya berdebar sangat kencang, bagaimana ia bisa se ceroboh itu.


"Hm ini mungkin minuman jus dari gelas itu" Januar mengedikan dagu kearah gelas.


"Oke aku pergi, hati-hati kalian, bye."


Di tengah suasana malam yang dingin, Januar memacu kereta besinya menuju ke sebuah bar di mana Aslan sudah menunggunya.


Seringai tipis dari bibir Januar terbit, rasa manis dari bibir lembut Naya masih terasa jelas.


Aah kenapa bibirmu begitu membuatku candu.


Tak butuh wakti lama sampailah ia di sebuah bar yang terletak di pinggiran kota, Januar memasuki ruangan dimana suasana yang remang bersampur asap rokok dengan aroma khas menyeruak hidungnya yang mancung.


Tak sulit untuk menemukan sosok Aslan karena memang ia terlihat lebih menarik perhatian di bannding pengunjung lain, meski duduk santai menikmati blue vodka cocktail nya tapi wajahnya yang tampan rupawan dengan tubuh tegap membuat Januar mudah melihat dan langsung mendekatinya.


Dasar calon kakak ipar sialan, setelah perjanjian tak tertulis malah melarikan diri, umpatnya dalam hati.


"Hmm hmm" dehemannya membuat Aslan menyeringai.

__ADS_1


"Ha ha ha ...apa kabar calon adik ipar,sorry gue ada urusan lain hingga baru sempat menghubungimu"ujarnya akrab.


Januar hanya berdecih kesal.


"Hampir ku masukan kau ke blacklist calon kakak ipar yang gagal kalau saja kau telat menghubungiku satu jam lagi" jawab Januar ketus.


"Ha ha ha ha..apa yang membuatmu bermuram durja wahai adik ipar" ledek Aslan .


"Aku ingin memiliki Naya secepatnya" jawaban Januar singkat dan tak terbantah.


"But why?"tanya Aslan basa basi.


"Kau tahu Kevin dia...."


"Ck ck ck ...Kevin yaa, gue ingat, bukankah dia sekarang sudah menjadi seorang CEO di perusahaan mikiknya yang sudah menggurita, bahkan ia termasuk dalam jajaran pengusaha muda terkaya se ASIA."


Semakin geram Januar mendengar penuturan Aslan.


"Sorry, sorry...kenapa dengan Naya, apa kau kini ragu dengan kelebihanmu, atau...Naya ragu karena kini Kevin kembali hadir, aku masih ingat, dulu dia begitu hancur saat mengetahui gadis yang amat di cintainya menikah dengan Danu, tapi kurasa dia kini sudah tahu kalau Naya sudah bercerai dengan pria brengsek itu dan...."


"Apa kau masih akan terus menyebutkan daftar kelebihannya di hadapanku heum" nafas Januar memburu dan tatapannya sinis,pertanda ia merasa tak senang.


"Eit sabar ...sabar.."ucap Aslan bijak.


"Aku akan secepatnya menikahinya apapun yang terjadi."


"Tidak bisa, setidaknya kau harus menunggu tiga bulan lagi untuk bisa mendapatkannya."


"Kenapa seperti itu?dia sudah sah cerai dari Danu, lalu apalagi yang ahrus di tunggu?"protes Januar


"Karena ia harus melewati masa idahnya dulu, baru kau bisa menikahinya dan menjaga kemungkinan kalau dia tidak sedang...."kalimat Aslan menggantung karena merasa tak enak hati.


Januar menghempaskan nafas kasar.


" Katakan berapa yang harus aku bayar agar bisa mempercepatnya."

__ADS_1


Aslan hanya menggelengkan kepalanya sambil mengumpat dalam hati.


Dasar keras kepala, umur saja kau sudah dewasa tapi tingkahmu masih seperti bocah.


__ADS_2