Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Lu Masih Bocah


__ADS_3

Januar melajukan mobil menuju apartemen, suasana malam akhir pekan cukup padat, hingga laju jalan pun tersendat.


Meski jalanan yang ramai kendaraan juga orang berlalu lalang, namun hati januar terasa sepi, masih terngiang saat Naya merasa Tiwi sedang menjodohkan dirinya dengan Anis, apalagi dengan lantangnya sang kakak mengucap bahwa akan merestui jika Naya bersatu dengan Kevin.


Januar meremat kemudi kencang, cukup lama ia terjebak dalam kemacetan, hingga di menit ke dua puluh akhirnya mobil bari mulai berjalan lancar.


Ceklek.


Januar memasuki apartemen dengan langkah gontai, karena haus ia berniat mengambil minuman di kulkas ruang dapur.


Klik !!!.


Ruangan yang tadi gelap kini berubah terang saat Tiwi menyalakan lampu dapur.


"Hmm dari mana kau?" tanyanya masih dengan setengah sadar melangkah menuju dapur.


Januar tak menjawab karena Tiwi hanya bertanya basa-basi.


"Hei kalau di tanya harus jawab ..."rupanya Tiwi masih menunggu Januar menjawabnya.


"Nganter Naya" jawaban singkat Januar membuat Tiwi melotot lalu mentoyor kening sang adik.


"Hei panggil dia 'Mbak' ..dia lebih tua darimu! Nggak sopan kau!."


Januar hanya diam, tingkah Tiwi sungguh membuatnya kesal, ia sudah beberapa menit berdiri di depan kulkas dengan rambut acak-acakan hanya mengumpat panjang pendek ke arahnya.


"Kau tahu, Naya adalah sahabat terbaik kakakmu ini, jadi jangan coba-coba kau berlaku kasar padanya, ingat, andai tak ada dia, entah bagaimana nasib mbak mu ini, dia berani berkorban untuk melindungi kakakmu yang cantik dan mempesona ini, dia rela menggunakan tubuhnya untuk menangkis pukulan orang yang akan menjahati Kakak, dia adalah dewa penolong kakak, jadi kalau ada yang ingin menyakitinya maka langkahi dulu mayatku ini heum..." Tiwi menepuk dadanya yang membusung.


"Siapa yang mau menyakitinya?"tanya Januar.


"Jika Mbak ingin terus melindunginya kenapa tak kau suruh dia tetap tinggal bersamamu, kenapa kau justru menyuruhnya untuk menerima Kevin, apa Mbak yakin kalau Kevin tak akan menyakitinya?"


Tiwi mengerutkan alisnya memandang januar.


"Karena aku yakin hanya Kevin lah yang bisa membahagiakannya karena dia mencintai Naya dengan tulus, tak ada lelaki yang setulus itu mencintai Naya ku" jawab Tiwi yakin.


"Apa Mbak yakin kalau Naya juga mencintai Kevin?harusnya Mbak tanya duli padanya, apa dia juga menyukai pria itu, apa dia juga aaahhh...." Januar menghempaskan tangannya ke udara, rasanya tak ada gunanya berdebat dengan orang yang sedang dalam pengaruh alkohol.


Tiwi hanya mengerjapkan matanya bingung.


"Andai kau tahu bahwa masih ada pria lain yang mencintainya lebih dari siapa pun, bahkan dengan sepenuh jiwa dan raga yang di punyainya" gumam Januar lirih sambil melangkah pergi.


"Hei kau bicara apa bocah.." teriak Tiwi namun tak di gubris Januar.


Brakk.

__ADS_1


"Blekok ijo songong !!!kaget Gue Januaarr...."teriaknya sambil menepuk dada saat suara pintu yang di banting Januar terdengar keras.


Januar menghempaskan tubuhnya di kasur besar miliknya, kesal dadanya begitu terasa, dengan tanpa perasaan Tiwi begitu mengagungkan Kevin dengan cinta tulusnya pada Naya.


Minggu pagi Naya sudah bangun untuk membantu Bu Heni bersiap, meski berat tapi Naya tak bisa meminta wanita paruh baya itu untuk terus tinggal bersamanya karena kesehatannya sudah pulih dan ada orang lain yang lebih membutuhkan pertolongannya.


"Bu Hen, terima kasih sudah mau bertahan tinggal sama aku, maaf kalau ada kata-kata atau perbuatanku yang nggak ibu suka, jaga diri Ibu Hen di tempat yang baru ya" Naya berucap lirih sambil membereskan baju Bu Heni, sedangkan Bu Heni tersenyum lembut, ia sudah menganggap Naya seperti putrinya sendiri, meski mereka tinggal hanya sebentar tapi ikatan batin mereka sudah begitu erat.


"Iya Mbak Nay, ibu juga minta maaf kalau ibu pernah buat Mbak Nay kesal, dan masakan Ibu nggak sesuai dengan selera Mbak Nay juga.."


"Nggak Bu Hen, semua masakanmu pas untukku bahkan aku akan merindukan masakan juga perhatianmu hiks hiks...aku tinggal sendiri sekarang Bu huu huuu...nggak ada lagi yang temenin nonton televisi, nggak ada lagi yang bisa aku mintain pendapat tentang gimana penampilanku, juga nggak ada lagi yang akan mendengar curhatku" Naya terisak sedih, Bu Heni pun memeluknya erat, keduanya larut dalam tangis perpisahan.


Bahkan Naya masih tak bisa membendung tangis yang terus mengalir saat melihat mobil yang membawa Bu Heni pergi.


"Sudahlah hapus air matamu itu, malu banyak orang lihat" Kendra berbisik lirih setelah melihat orang di sekitar mereka yang memandang Naya.


Naya mengusap air matanya lalu melangkah kembali ke apartemen.


"Nay..." panggil Kendra.


"Heum"


"Apa hari ini kau tak ada acara?"


Naya menggeleng pelan, karena memang ia ingin menghabiskan akhir pekan di apartemennya.


Kendra menggeleng, ia hanya ingin memastikan apakah Naya akan pergi bersama Januar, sebebarnya ia ingin mengajaknya pergi tapi ia masih harus menemui pasien yang akan dirawat Bu Heni.


Naya mencebik lalu pergi meninggalkan Kendra.


Menikmati waktu libur sambil tiduran dan menonton televisi cukup membuat hatinya terhibur namun suara kegaduhan di depan pintu apartemen cukup menarik perhatiannya, bahkan juga samar terdengar suara beberapa orang.


Ceklek.


Naya menyembulkan kepalanya untuk melihat apa gerangan yang terjadi.


Tampak beberapa orang hilir mudik mengeluarkan perabotan dari apartemen yang berada tepat di sebelah milik Naya.


"Maaf pak, apa penghuni nya akan pindah?" tanyanya pada salah satu pria yang membawa tas koper.


"Iya betul Mbak, kami di perintah untuk mengambil barang-barang pemilik apartemen ini" jawabnya hormat.


"Apa apartemen ini di jual pak?"


"Kalau untuk soal itu kami tidak tahu Mbak, soalnya kami juga tidak bertemu dengan sang pemiliknya langsung"

__ADS_1


Naya hanya mengangguk sambil ber 'oh 'ria lalu kembali menutup pintunya.


Sementara itu, di tempat lain.Elis keluar kamar masih dengan muka bantal menuju lemari pendingin.


"Hmm masak apa kamu Nis?" tanyanya yang melihat Anis memakai apron sambil mengocok adonan telur.


"Mau buat omelet Mbak, di kulkas tidak banyak bahan makanan, jadi aku pakai yang ada aja" jawabnya.


"Oke nanti kita belanja buat keperluan dapur" ujar Tiwi.


"Apa Januar sudah bangun?" tanyanya lagi.


Anis menggeleng pelan, padahal ia berniat untuk membuatkan sarapan untuknya, tapi Januar seakan mengurung dirinya di kamar.


Tok tok tok.


Tiwi mengetuk pintu kamar Januar keras.


"Jan banguuun" teriak Tiwi.


Januar hanya melirik sekilas lalu menutup telinganya dengan headset, dan kembali masuk dalam selimut tebalnya.


Tiwi akhirnya menyerah dan kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri. Namun sekilas memorinya kembali mengingat ucapan Januar yang ia ucapkan tadi malam.


Apa memang ada seorang pria yang mencintai Naya secara diam-diam pikirnya.


Dari ucapan Januar, mengatakan bahwa ada pria yang mencintainya dengan tulus selain Kevin.


"Siapa dia" gumamnya lirih.


Anis sudah selesai menyiapkan hidangan di atas meja, senyumnya mengembang penuh harap, ia membayangkan Januar pasti akan merasa senang dan suka dengan hasil masakannya.


Ceklek.


Dengan celana jeans hitam belel juga jaket hitam membuat Januar terlihat gagah dan macho, wajah tampan dengan rambut yang ia tata rapi membuatnya semakin mempesona, aroma wangi maskulin menyeruak di hidung Anis saat Januar duduk di kursi meja makan.


"Mau kemana kau bocah?" tanya Tiwi dengan lirikan tajam.


"Ck umurku sudah dua puluh satu Mbak, mana bisa di sebut bocah" prores Januar.


"He he ..iya iya juga, tapi kamu bagiku masih bocah kok" Tiwi mengacak rambut rapi Januar hingga membuat pria baby face itu mengamuk dan menghempaskan tangan Tiwi.


"Ah kenapa kau rusak rambutku" protesnya kesal.


"Ciee ciee....mentang-mentang ada Anis, dandan Lu rapi amat?"

__ADS_1


Siapa bilang gue dandan buat dia, batin Januar.


__ADS_2