
Beberapa berkas akhirnya selesai Naya periksa. Ia menuju Pantry untuk memakan gado-gado yang sudah ia beli lewat Ujo.
Sementara itu Silvy tengah meremat ponselnya dengan keras, raut wajahnya tampak terlihat bahwa hatinya sedang emosi tingkat tinggi.
"Kurang ajar! Siapa yang berani bermain api denganku" geramnya.
Dua pria di hadapannya tampak tertunduk takut, mereka tahu jika sampai Silvy murka maka mereka akan menjadi bulan-bulanan sasaran pelampiasan kekesalan Silvy.
Begitupun saat ini, wajah mereka sudah menjadi sasaran lemparan barang-barang milik Silvy.Sepatu, remot bahkan gelas tak segan Silvy lempar ke arah mereka.
Glek.
Keduanya menelan ludah kasar saat tangan Silvy memegang catokan rambut yang masih menyala.
"Pasti wanita itu yang telah mencuri foto-foto itu, wanita tak tahu diri yang telah merebut Danu dariku, brengsek ...!"
Praakkk.
"Akhhh..." benar saja duo Johan dan Joni saling berpelukan erat, saat catokan melayang ke arah mereka.
Beruntung benda panas tersebut hanya menyerempet puncak rambut keduanya.
"Slameet slameet.."ucap Joni lirih.
Sementara Johan hanya bisa diam merapatkan bibirnya yang tak henti bergetar.
"Kalian hei...apa tugas kalian hah?, apa uang yang ku beri selama ini masih kurang hah!" teriakan Silvy menggelegar ke seisi ruangan.
"M maaf Non, k kami juga tak menyangka kalau mereka bisa mendapat foto Nona Silvy" jawab Joni dengan terbata.
"Aku tak mau tahu, pokoknya kalian harus bisa membuat wanita itu sengsara, buat Danu semakin jijik padanya, kalau perlu, buat dia cacat seumur hidup, agar dia berfikir seribu kali jika ingin berurusan denganku, cih...dia tak ada seujung kuku pun jika di bandingkan denganku."
"B baik Non, k kami akan lakukan seperti apa yang Non mau" jawab Joni.
"Cepatlah kalian pergi dari hadapanku, jika sampai esok hari tak juga kau dapat menangkap wanita itu, maka kalian akan tahu akibatnya" Silvy lalu pergi ke kamarnya dengan wajah kesal.
Johan mengusap dadanya berkali-kali, buaya betina itu sangat menakutkan jika sedang marah.
"Sst hei..ayo cepat kita pergi dari rumah ini, sebelum Nona datang dan semakin murka" Joni menyeret Johan yang masih terlihat lemas.
Keduanya bergegas menuju ke parkiran rumah megah itu dan menjalan kan mesin mobil lalu melaju kencang ke arah jalanan.
Nafas lega akhirnya mereka hirup, wajah cantik Silvy sungguh terlihat bagai malaikat maut yang sangat menakutkan.
Johan bergidig ngeri membayangkan Silvy.
"Kenapa LU?" tanya Joni melihat soulmate nya tampak pucat.
"Heran Gue, ada laki-laki yang mau sama dia" jawab Johan jujur.
"Hust jangan ngawur kamu, nanti kuwalat ...gitu-gitu juga dia Bos kita, yang kasih makan kita" ucap Joni menasehati meski hati kecilnya pun mengakui apa yang Johan ucapkan.
__ADS_1
Johan pun akhirnya diam.
"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Johan.
"Kita lihat dulu ke tempat kerja nya" jawab Joni.
Mobil pun menuju Tinar Perkasa.
Sementara itu, Naya bergegas membereskan berkas- berkasnya lalu menumpuk jadi satu, sore ini ia akan langsung ke apartement.
Langit yang cerah dengan awan tipis tak membuat Naya tersenyum, cerahnya langit tak se cerah hatiku, pikirnya.
Ia menghela nafas kasar, mulai sekarang ia kembali menempati apartement setelah Danu memintanya untuk berpisah.
"Bang..Bang Ujo, aku mau minta tolong Bang" panggil Naya pada Ujo yang kebetulan lewat di depan ruangannya.
"Iya ada apa Mbak Nay?"
"Aku minta tolong bawain koperku ke bawah Bang."
"Oh siap Mbak" Ujo menjinjing koper Naya dengan sigap.
"Memang roda koper ini kenapa Mbak?"
"Rusak Bang, he hee...masih bagus, sayang kalau harus ganti lagi."
"Iya betul Mbak, buat apa kita harus buang-buang uang untuk membeli barang yang sebenarnya masih bisa kita gunakan, mending buat beli kebutuhan lain yang lebih penting."
"Ah Bang Ujo ternyata pintar cara berfikirnya top deh" Naya mengacungkan jempol ke arah Ujo.
"Tapi Bang Ujo juga harus tetap bersyukur, masih bisa mengenyam pendidikan hingga tingkat menengah, ..lihatlah orang yang untuk menamatkan sekolah dasar saja mereka tidak mampu."
Ujo manggut-manggut.
"Udah Bang, terima kasih banyak Bang" ucap Naya.
"Iya Mbak, sama-sama..hati-hati di jalan Mbak, sampai jumpa lagi hari senin Mbak" Ujo melambai pada Naya lalu kembali masuk ke gedung Tinar perkasa.
Sudah lebih dari sepuluh menit Naya menunggu taxi online tapi tak juga muncul, sedangkan kakinya sudah terasa kebas dan kepalanya pun masih terasa berat.
"Maaf, dengan Nona Naya?" tiba-tiba sebuah mobil sejuta umat berhenti di depan Naya dan sopir bertanya dengan ramah.
"Iya benar saya Naya."
"Maaf kami terlambat, karena mobil sedang mengalami kerusakan, apa Non Naya masih akan melanjutkan permintaan?" tanya pria bertubuh jangkung dengan ramah.
Naya mengangguk cepat karena tubuhnya memang ingin segera istirahat.
Dengan ramah sopir pun membawa koper lalu memasukan ke dalam mobil.
"Tujuan tetap sesuai aplikasi ya Pak" ucap Naya yang langsung menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang.
__ADS_1
"Baik Non"
Mobil pun melaju dengan keceparan sedang, Naya memejamkan matanya , lumayan istirahat selama satu jam perjalanan , pikirnya.
Sementara itu, Elis tampak gelisah dengan ponsel di genggaman tangannya.
Ia berjalan mondar-mandir, satu jam lebih ia menunggu Naya.Dari keterangan Ujo, Naya sudah satu jam yang lalu pulang dengan membawa kopernya.
"Apa dia tak bilang mau ke mana Jo?"tnya Elis panik di ujung telepon.
"Waktu saya tanya, Mbak Nay bilangnya mau hiling."
"Ya udah Jo terima kasih ya" jawab Elis.
"Iya sama-sama Mbak."
Kembali Elis melihat jalanan berharap Naya segera datang karena sesuai janji mereka akan kembali melihat rumah yang akan Naya beli.
"Kemana kamu Nay" Elis bermonolog sendiri.
Sengaja Elis menutup salonnya lebih awal agar ia bisa lebih leluasa hunting rumah Naya.
"Ada apa nyong...?" tanya Tiwi di ujung telepon.
"Aduh gimana ini Wi, Naya nggak juga bisa di hubungi, kata Ujo ia sudah pulang satu jam yang lalu, sampai sekarang nggak juga keliatan hidungnya tu bocah" celoteh elis.
"Apa bener Lu nggak bisa hubungi dia?coba lagi, Gue akan coba tanyain adik Gue."
Dan kepanikan semakin menjadi karena ponsel Naya masih tetap tak bisa di hubungi.
"Masa Iya dari Tinar ke sini butuh lebih dari satu Jam, aduh bahkan udah mau dua jam ini"Kembali Elis bermonolog.
Drrt.
"Iya Wi, gimana?"
"Kata si Janu, Naya sudah pulang sore tadi dan Ujo juga bilang kalau Naya bawa kopernya katanya mau hiling, emang hiling ke mana tu bocah?"
"Bukan hiling nyong, dia mau pindah tinggal...dan rencananya gue sama dia mau nyari rumah kecil-kecilan buat ia tempati."
"Lha emang kenapa dengan laki nya?"
Elis menghela nafas kasar lalu menceritakan kisruh rumah tangga Naya yang sudah tak tertolong lagi.
"Duh apa dia ke apartementnya?" tanya Tiwi.
"ya udah Gue coba ke aprteementnya sekarang."
Kemana kamu Nay, semoga saja tak terjadi hal buruk.
💜💜💜💜💜
__ADS_1
Like, vote jangan lupa ya.....juga koment readers sangat ngothor tunggu, biar lebih semangat lagi up nya...
🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘