Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Membawanya Pergi


__ADS_3

Januar hanya bisa mendengus kesal, Kendra tentu saja bisa dengan bebas memegang kaki Naya karena dia seorang dokter.


Menurut Kendra luka di kaki Naya tak terlalu dalam hingga tak perlu di jahit.


"Kau hanya perlu mengurangi gerak kakimu Nay, jangan kau buat untuk melangkah dulu."


Naya mengangguk lega, namun berbeda dengan Januar.


"Tapi ku lihat tadi lukanya cukup dalam dokter, ku kira sebaiknya di jahit saja" protesnya.


"Tapi menurutku tidak perlu jahitan tuan Januar yang terhormat, nanti luka akan menyatu sendiri tanpa harus di jahit, hanya perlu di jaga agar tak terkena air dahulu" terang Kendra, kesal rasanya ada pria yang begitu lebay dan over protektif pada Naya.


Naya manggut-manggut paham.


Teet.


Januar membuka pintu dan Elis berhambur ke arah Naya yang masih duduk dengan kaki berbalut kain kasa.


"Kenapa lagi denganmu Nay....kau selalu membuatku khawatir" ucapnya dengan wajah sedih.


"Nggak apa-apa Lis, cuma sobek dikit kok, tadi ada piring jatuh dan pecah, lalu nggak sengaja aku injek."


"Apa lukanya dalam?"sambungnya.


Naya menggeleng cepat.


"Lukanya ku lihat cukup dalam tapi entah kenapa dia tak mau menjahitnya" Januar masih saja melancarkan aksi protesnya pada Kendra.


Tak ingin berdebat Kendra segera mengeluarkan tas nya dan meracik obat untuk Naya.


Dasar norak, batinnya geram.


Elis memandang Kendra yang tampak tenang, dia seorang dokter, tentu saja ia tahu yang terbaik untuk pasiennya.


"Nay kau sudah makan?"Elis mengeluarkan bungkusan makanan yang di bawanya.


"Aku sudah makan tadi, kau makanlah bersama Kendra" jawab Naya.


Januar mendengus kesal kalu pergi menuju kamarnya.


"Makanya cari bini biar bisa diprotektifin, jangan bini orang di posesifin mulu"gerutu Kendra lirih tapi masih bisa di dengar Naya dan Elis.


"Hah, siapa yang mau cari bini Ken?" tanya Naya, Elis hanya tersenyum gemas.


Bahagianya menjadi seorang wanita yang di posesifin oleh dua pria tampan sekaligus, batinnya.


Kendra hanya mencebik kesal karena Januar sudah lebih dulu ke kamarnya.


Teet.


Elis berlari untuk membuka pintu.


Ceklek.


Jefry hanya berdiri mematung di tengah pintu dengan tongkat penyangga kaki yang berada di pelukannya.

__ADS_1


"Siapa yang kakinya terluka?" tanya Jefry polos.


Elis, Kendra dan Naya saling pandang, pastilah Januar yang memesannya.


"Ah kakimu kenapa mbak Nay?" tanya Jefry saat melihat kaki Naya berbalut kain kasa.


Ceklek.


"Sudah datang kau?" tanya Januar dari kamar.


"I ini penyangga kaki yang tuan pesan" terang Jefry.


Januar memandang Naya dan mengukur penyangga kaki yang Jefry bawa.


"Mungkin kurang tinggi Jef, tolong kau tukar lagi" ucapnya santai tanpa dosa.


"Tidak jangan, tidak usah di tukar,biar ku pakai itu saja" Naya berucap antusias, mana mungkin ia tega membiarkan Jefry yang menjadi sasaran Januar untuk di perintahkan kembali untuk menukarkan penyanggaa kaki itu.


"Tapi kalau tidak sesuai dengan tubuhmu pasti tidak nyaman di pakai Nay."


"Tak apa, toh tanpa itu pun aku masih bisa jalan"tolak Naya halus.


Kendra dan Elis hanya saling pandang, Januar benar-benar siaga menjaga Naya.


Setelah Kendra dan Jefry pulang, kini Elis yang masih asik menonton televisi sementara Naya sudah ke kamarnya.


Tok tok tok.


"Masuk" ujar Naya dari dalam kamar.


Ceklek.


"Ini untuk tidur mbak Elis" ujarnya santai.


"Kenapa harus tidur di kasur lantai, ranjang ini sangat besar dan cukup untuk kami berdua" protes Naya tak rela kalau sahabatnya tidur di lantai.


"Kalau kalian tidur berdua aku khawatir tubuh mbak Elis akan mengenai kakimu yang terluka" jawab Januar sambil tetap memasang kasur di lantai.


"A ada apa ini" tanya Elis muncul dari ruang tengah setelah mendengar kegaduhan di kamar Naya.


"Mungkin mbak Elis sebaiknya tidur terpisah dari Naya, aku takut saat kalian tidur nanti kakinya akan tertimpa tubuhmu" kalimat Januar tenang dan tegas seakan tak mau ada penolakan.


"O oke"jawab Elis.


"T tapi...." Naya tak meneruskan kalimatnya saat Elis memberi isyarat untuk diam.


"Panggil aku kalau ada apa-apa"ucap Januar sambil berlalu.


Ceklek.


"Lihatlah singa lapar itu, sangat menyeramkan, ayolah kita tidur" Elis mengambil bantal dan selimut lalu merebahkan tubuhnya di kasur lantai yang cukup nyaman.


"Lis kenapa di situ?"tanya Naya dengan wajah tak enak hati.


"Sst udah, nggak masalah kok buat Gue, kasur lantai ini empuk dan nyaman, lagian dia buat aturan untuk kebaikan lu kok" jawab Elis santai.

__ADS_1


Naya menghela nafas kesal, sungguh Januar selalu keras dengan aturannya.


Pukul enam Naya bangun, dengan langkah tertatih ia menuju ke kamar mandi tanpa tongkat penyangga dari Januar, saat pria tegas itu tak memantaunya Naya lebih merasa santai dan tenang tanpa tekanan.


"Lu udah mandi Nay?"tanya Elis saat melihat Naya sudah rapi dengan baju rumahan dan hendak keluar kamar.


"Udah lu cepetan mandi gih, udah siang nanti telat berangkat ke salon."


Elis pun bergegas mandi, sedangkan Naya membuat minuman kopi pahit kesukaannya.


Ceklek.


"Kenapa jalannya nggak pake tongkat?" tanya Elis saat keluar dari kamar dan sudah berpakaian rapi.


"Hm, nggak usah lebay deh, kaki gue cuma sobek sedikit, bukan patah" jawab Naya ketus.


"Sst cepatan pegang ini, jangan sampai singa lapar itu melihatmu tak memakai tongkat kakimu, bisa-bisa geger dunia lihat dia mengamuk" timpal Elis menyodorkan tongkat pada Naya.


"Hmm trima kasih" Naya meraih tongkat dan menyelipkan di antara ketiaknya.


"Eh Lu jadi nemuin suamimu?" tanya Elis.


"Entahlah, mungkin besok atau lusa, nggak mungkin gue datang dengan keadaan seperti ini."


"Bingung sebenarnya gue sama Elu Nay, Lu masih memaafkan suami kejam Lu itu saja."


"Gue hanya berusaha memperbaiki pernikahan gue yang baru beberapa bulan ini Lis, gue ingin mencoba apakah mas Danu benar-benar tulus ingin kembali dan ingin memperbaiki kesalahannya, Tuhan saja maha pemaaf pada hamba-Nya, masa Gue sebagai sesama manusia yang berlumur dosa masih angkuh dan tak memberi kesempatan."


Elis menghela nafas panjang, semoga benar apa yang di katakan oleh Naya, bahwa Danu memang merasa menyesal akan perbuatannya.


Sementara itu Januar menyandarkan tubuhnya di balik pintu, perbincangan yang tak sengaja ia dengar membuat dadanya sesak.


Naya akan kembali pada suaminya, seharusnya ia merasa ikut senang, tapi kenapa malah perasaan hancur dan sedih tak terkira yang ia rasakan.


Ceklek.


"Jan makan dulu, ini sudah aku buatin sandwich dan teh hangat" tawar Elis di ruang makan.


"Tidak usah Mbak, aku harus berangkat sekarang ada acara meeting pagi ini"tolak Januar lalu pergi begitu saja.


"Kenapa dia?" tanya Elis melihat sikap Januar yang begitu dingin.


Naya hanya mengedikan bahunya.


Sepanjang perjalanan, pikiran Januar sangat kalut, bahkan setelah sampai di kantor pun wajahnya tampak datar dengan tatapan mata kosong, sapaan beberapa karyawanpun di acuhkannya.


Drrt drrt.


Januar melihat layar ponsel saat nomor tak di kenal memanggilnya.


"Aku akan membawa Naya kembali ke apartement secepatnya, jika kau pun tak bisa menjaga nya"suara berat Danu membuat Januar diam membeku, rupanya pria itu tahu tentang apa yang menimpa Naya.


Tuhan kenapa begitu berat aku melepasnya, haruskah aku membiarkan dia kembali pada suaminya, Januar membatin.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ

__ADS_1


Jangan lupa kasih vote nya ya bestieπŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2