Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Mengawasimu


__ADS_3

Dengan berat hati Sam akhirnya pamit, ia tak mau nantinya Januar melarangnya untuk bertemu kembali dengan Naya.


"Tolong jaga diri Non baik-baik, dan terima kasih Non Naya masih mau bertemu dengan saya" pesan Sam haru.


"Terima kasih sama-sama asisten Sam, saya yang seharusnya berterima kasih pada asisten Sam."


Meski di liputi banyak pertanyaan Naya pun mengangguk saat Sam pamit pulang.


Sam merasa lega setelah sampai di kantor, sikap Januar sungguh seperti se ekor singa yang selalu waspada saat ancaman marabahaya mengancam anak-anaknya.


Ceklek.


Sam memasuki ruang kerjamya karena masih banyak dokumen yang harus di periksa.


"Bos, kau sudah pulang dari kantor polisi?" tanya Sam saat melihat Danu duduk merebahkan tubuhnya di kursi.


"Hmm, penat rasanya badanku duduk berjam-jam di kantor polisi tadi."


"Lalu kapan sidang akan di mulai?"tanya Sam.


"Senin besok."


"Apa kau sedih karena non Silvy akhirnya tertangkap bos?" tanya Sam jujur.


"Dari mana kau berfikiran bahwa aku merasa sedih, bahkan aku sangat senang dan bersyukur akhirnya bisa lepas dan tidak berjodoh dengan wanita ular seperti Silvy, sungguh aku tidak menduga sama sekali bahwa hatinya begitu jahat."


"Lalu kenapa wajah mu terlihat murung bos?"


"Aku hanya teringat dengan Naya, hatinya pasti hancur, ia pasti sangat bersedih dan mungkin ia mengurung diri di kamarnya."


Sam tertawa dalam hati.


Bahkan non Naya sama sekali tidak memikirkanmu bos, dia tetap tersenyum, dan matanya pun kering tanpa ada se tetespun air mata penyesalan, ucap batin Sam.


Danu masih berfikiran bahwa Naya pasti sangat terpuruk dalam kesedihan karena ulahnya.


"Berarti non Naya pun hari senin ikut sidang bos?"tanya Sam.


Danu mengangguk pelan.


"Apakah rapat tadi lancar?"tanya Danu.


"Lancar bos."


"Apa semua anggota rapat lengkap semua?"


Sam kembali mengangguk tak paham apa yang ada dalam pikiran atasannya.


Danu tampak terdiam, lalu melihat Sam.

__ADS_1


"Menurutmu apakah di antara Naya dan Januar ada hubungan?"tanya Danu lirih.


Sam pun ragu, ia bukanlah pria lugu yang tak tahu raut wajah dan gerak seseorang jika sedang menyukai se seorang, dan ciri-ciri tersebut ada pada Januar.


Pria itu tampak jelas sangat perhatian bahkan cenderung overprotektif pada Naya bahkan jika orang yang tak mengenalnya mungkin akan menganggap mereka adalah sepasang kekasih.


"Kenapa diam kau Sam?"


"E s saya tidak mengetahui hal itu bos."


"Aku sangat menyesal telah membuatnya kembali terluka Sam, selama pernikahan kami tak pernah sekalipun aku membuatnya tersenyum."


Kenapa baru kau sadari sekarang bos, ucap Sam tapi dalam hati.


Sementara itu Elis dengan langkah cepat memasuki apartemen Januar, ia tak bisa langsung menemui Naya saat kejadian di salon, karena ia sedang di luar kota.


"Nay...hiks maafin gue nggak ada saat kau butuhkan" ucapnya sambil memeluk tubuh Naya erat.


"Hei hei ..ada apa Lu datang-datang langsung histeris."


"Waktu gue denger Lu terluka gue mau langsung pulang, tapi pelanggan gue ngndang untuk datang ke rumahnya buat tretmen perwatan sebelum pernikahannya."


"Iya nggak apa-apa kok Lis."


"Kalau nggak apa-apa kenapa harus pake kursi roda?"


"Jadi kekasih suamimu lah yang telah melakukannya?benar-benar wanita tak berperasaan, untung dia sudah tertangkap polisi, kalau saja bertemu denganku dahulu, entah apa nyawanya masih bersatu dengan raganya atau sudah berpindah ke alam lain, sialan ..ingin gue bikin ukiran di wajahnya pakai pisau cuter."


"Sudahlah, toh polisi sudah menanganinya."


"Lalu kapan sidang di mulai."


"Senin esok, dan akupun di minta untuk hadir oleh polisi."


"Heum, oke tenang ada gue.."


Naya tersenyum lega, se tidaknya ada Elis yang selalu bisa membuat hatinya tenang.


"Lalu kakimu..??"tanya Elis sambil melihat ke kaki Naya.


"Sebenarnya ku pikir tak perlu harus memakai kursi roda, tapi heum..." Naya mengedikan dagu dan matanya menatap ke sudut di mana terpasang kamera kecil.


Mata elis membulat tak percaya, sebegitu protektifnya Januar pada Naya.


"Eh trus gimana kelanjutan cerita Elu dan calon mantan suami Lo?"


Naya menarik wajahnya dan alisnya pun menyatu, apa maksud Elis dengan kalimat'calon mantan suami'.


"Entahlah Lis, gue semakin berat untuk melanjutkan pernikahan ini, gue pikir perjodohanku dengan mas Danu memang harus berakhir sampai di sini.."

__ADS_1


"Akhirnya...." ucap Elis lega, Naya tipe orang yang akan percaya hanya dengan melihat dengan mata kepalanya sendiri, mau sepanjang apapun ia menceritakan kebejatan Danu, tak akan membuatnya percaya begitu saja.


"Jadi sekarang Lu udah yakin nih mau pisah ama dia?"


"Ya, mungkin setelah sidang kasus kecelakaan selesai, baru aku mengurus gugatan perceraian, dan gue minta Lu mau temenin gue lagi."


"Kemanapun dan kapanpun,pasti gue ada di samping Elu, kalau perlu Gue akan cari pengacara hebat buat urus perceraian Elu biar cepat tuntas dan Elu sah jadi janda kembang"canda Elis namun di balas anggukan dari Naya.


Naya memeluk Elis erat, persahabatan yang membuatnya bisa bertahan menjalani beratnya kehidupan, dua sahabatnya selalu bisa menghibur hatinya yang rapuh.


"Eh ada mbak Elis, kapan datang mbak?" Bu Heni muncul dari kamarnya.


"Baru bu Hen, gimana kabar putra ibu di kampung?"


"Alhamdulillah sudah membaik mbak, makanya Ibu langsung kembali pulang ke sini, ibu takut mbak Naya kesepian he hee.."


"Mbak El mau minum apa mbak?"


"Ehm se adanya aja Bu, nggak usah repot-repot, saya cuma mau nengokin Naya, kemarin saya lagi di luar kota Bu Hen, jadi nggak bisa langsung ke sini" terang elis lagi.


Bu Heni pun ke dapur untuk membuat minuman sementara Elis dan Naya kembali meneruskan pembicaraan yang terpotong.


"Nay sebenernya gue mau ngomong jujur sama Elu, tapi takutnya Elu nanti jadi malah sedih."


"Ck aah tumben Elu masih menjaga hati Gue, biasanya juga asal nyablak aja, perasaan gue mah kagak penting bagi Elu."


"Gue benci Lu akan menyandang status janda, tapi itu lebih baik jika harus kau lanjutkan hubungan pernikahan toxic dengan Danu, Gue rela lahir batin kalau Elu jadi janda kembang."


Kedua nya pun tertawa lepas membuat seseorang yang jauh dari tempat di mana mereka berada melihat dan tertegun.


Belum pernah aku lihat kau tersenyum selepas itu, andai aku bisa membuat senyummu kembali , apapun akan kulakuakan.


Januar melihat layar laptopnya, setiap hari ia terus mengawasi kamera CCTV yang sudah ia pasang di ruangan apartemennya.


Kala waktu senggang bahkan saat sibuk pun Januar selalu menyempatkan diri untuk menge cek keadaan di apartemen.


Tok tok tok.


Tok tok tok.


Ceklek.


"Tuan surat jalan ini harus di tanda tangani sekarang juga, karena barang akan segera di kirim" ujar Jefry.


"Tuan januar..."Jefry meninggikan nada suaranya, membuat Januar yang fokus dengan laptopnya tersentak kaget.


Jefry yang berdiri di samping Januar sempat melihat layar laptop.


Hanya rekaman Mbak Naya dan Mbak Elis, kenapa sudah membuat semua fokusmu teralihkan Tuan, batin Jefry.

__ADS_1


__ADS_2