
Januar tersenyum lega setelah membaca pesan Naya kalau hari ini ia sudah bisa masuk kerja.
Dengan penuh semangat Januar melajukan mobil menuju perusahaan, sapaan dan anggukan hormat para karyawan saat berpapasan ia balas dengan senyum manis.
"Pagi Tuan" sapa Ujo.
"Pagi Jo, apa Naya sudah datang?" tanya balik Januar.
"Sudah tuan, Mbak Nay baru datang."
"Hm ..ooiya jangan buatin dia kopi seperti biasa, seduh saja serbuk minuman ini, bagus buat memulihkan stamina tubuhnya" terang Januar lalu menyerahkan satu box berisi minuman herbal bertuliskan bahasa yang tak di mengerti Ujo.
"Siap Tuan" jawab Ujo dengan senyum ceria, kini semakin jelas dugaannya kalau ada cerita tersembunyi antara Naya dan pemimpin Tinar Perkasa itu.
Semua tentang Naya pastilah pria itu tahu, juga perhatian yang ia berikan melebih sikap atasan pada karyawan biasa.
"Pagi Bang Ujo" Naya datang dengan senyum manisnya menyapa Ujo.
"Pagi Mbak Nay."
"Kopi seperti biasa ya Jo" ujar Naya sambil berlalu ke ruangannya.
Ujo tak menjawab ia hanya melaksanakan yang Januar perintahkan padanya.
Tak lama Vega datang dengan tergesa, ada satu dokumen yang belum ia distribusikan kemarin, padahal pukul sembilan mereka harus meeting.
Ujo hanya menggelengkan kepalanya, Vega adalah gadis manis yang energik namun terkadang teledor.
"Ada apa Ga?" tanya Naya melihat Vega tergesa kembali keluar.
"Mau distribusi ke lapangan dulu Mbak" jawabnya sambil berlari kecil.
Tok tok tok.
"Masuk"
__ADS_1
Ceklek.
"Ini minumnya Mbak Nay" sapa Ujo.
"Lho, kan aku minta kopi seperti biasa Jo, kenapa minuman seperti ini" protes Naya.
"Ini suruhan dari Tuan Januar Mbak, katanya Mbak Nay di suruh minum ini, buat memulihkan stamina."
"Minuman apa ini? baunya aneh" tanya Naya ragu.
Drrtt drrt.
"Minumlah apa yang Ujo buat, itu aku beli kemarin khusus untukmu, bagus untuk memulihkan stamina wanita....tubuhmu akan cepat bugar dan kembali nyaman setelah meminum ramuan itu..maaf kalau aku terlalu semangat kemarin malam" Naya cepat menutup pesan dari Januar.
"Mbak Nay kenapa? Mukanya jadi merah begitu" tanya Ujo penasaran.
"Enggak Bang, t terima kasih minumannya" Naya gugup dan salah tingkah, rupanya Januar masih risau tentang keadaannya setelah apa yang telah di lakukan di malam panas itu.
Ujo pun pergi mengambil minum kali ini untuk Januar.
Bersamaan dengan itu Naya, mengantar dokumen ke ruangan CEO Tinar Perkasa berpapasan dengam Vega dari ruang Divisi keuangan.
Tok tok.
"Masuk" ucap Januar yang matanya tetap fokus pada berkas di atas mejanya.
"Minumnya Tuan" ucap Ujo.
"Hmm, apa dia sudah minum ramuan herbal dariku Jo?" tanya Januar tak menyadari selain Ujo masih ada Naya dan Vega di ruangan itu.
"Sudah Tuan."
"Benar dia sudah meminumnya?" kembali januar bertanya ragu.
"Tuan bisa bertanya langsung pada orangnya" Ujo melirik Naya yang kini wajahnya bak kepiting rebus.
__ADS_1
"Oh ...kau juga di sini rupanya? Bagaimana, apa benar sudah kau minum ramuan itu?"
Naya mengangguk, ingin rasanya ia mencekik leher Januar yang dengan santainya memperlihatkan perhatian selagi masih ada orang lain di ruangan itu.
"Waah senang ya jadi orang cantik, banyak yang perhatian....ada yang kasih obat, ada yang kasih barang branded....duh beruntungnya kamu Mbak" celetukan Vega membuat Januar menatap Naya tajam.
"Barang branded? apa maksudmu Ga?"tanya Januar penuh selidik.
"Itu Pak, kemarin ada banyak tote bag di apartemen Mbak Nay, isi nya tas, sepatu jam tangan dan itu barang-barang bermerk semua, mahal-mahal lho itu? teman Mbak Nay ...royal-royal ya, ingin aku punya teman yang royal seperti itu?"celoteh Vega polos.
Naya hanya bisa pasrah dengan wajah tertunduk.
Melihat situasi yang mencekam, Ujo segera keluar ruangan, sedangkan Vega masih dengan santai menunggu berkas untuk di tanda tangan Januar.
Dengan wajah bersungut Vega keluar ruangan, sikap Januar yang tadi hangat tiba-tiba berubah sangat dingin.
Januar menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dengan netra menatap Naya yang masih tertunduk.
"Apa ada yang mau kau jelaskan?" tanyanya Dingin.
Tenggorokan Naya tercekat, Januar tak akan melepasnya pergi dari ruangan sebelum ada penjelasan darinya.
"Dia pria yang di jodohkan ibuku, namanya Daniel, kemarin dia datang memberi hadiah, dan aku bermaksud mengembalikan padanya namun nomornya tak aktif" jelas Naya lengkap.
"Kenapa tidak langsung kau tolak saat itu juga?" protes Januar.
"Aku tak bisa memaksanya karena dia langsung pergi meninggalkanku."
"Berikan nomornya padaku" pinta Januar tegas.
Naya pun mengambil ponselnya di saku blazer lalu mengirimkan nomor Daniel.
"Baiklah, untuk masalah ini biar aku yang tangani, kau boleh kembali ke ruanganmu."
Naya mengangguk lalu pergi dari ruangan dengan perasaan lega.
__ADS_1
"Nu kau selidiki nomor ini, dan cari di mana lokasinya sekarang" pesan yang Januar kirim pada Tanu.
Lelaki berinisial D memang meresahkan, umpat Januar dalam hati.