
"Bukankah ini sudah masuk jam istirahat siang?" tanya Kevin dan di balas dengan anggukan kepala oleh Januar.
"Tapi kenapa dia b elum juga datang"Kevin berucap lirih sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
"Apa kau menunggu Naya?"tanya Januar tenang.
"Ya, aku tadi sudah kirim pesan pada Bang Ujo, apa dia lupa"gumam Daniel.
"Sebenarnya aku yang melarang dia untuk datang ke sini" kalimat Januar membuat Kevin tertegun.
"Kenapa kau melarangnya?."
"Hei gaes...."pekik Tiwi riang sambil berlari dari arah parkiran menuju ke arah keduanya.
Semoga saja belum terlambat, do'a nya dalam hati.Setelah Kevin mengirim pesan bahwa ia sedang menuju ke Tinar untuk menemui Naya, Tiwi langsung tancap gas menuju ke perusahaannya, ia tak ingin sang adik membabi buta pada Kevin sahabatanya itu, biarlah nanti ia yang akan menjelaskan perlahan.
Ck, rencana apalagi yang akan kau jalankan Mbak, geram Januar dalam hati.
"Kenapa kau berlari-lari Wi, siapa yang ngejar Elu heum?"tanya Kevin polos.
"Aahhh, aku ingin haaaaahh...makan siang huuh ...haaaah, dengan kalian hhaaaahhh....."kalimat Tiwi terbata sambil berusaha mengatur nafasnya.
"Wah kebetulan, kita makan siang bersama di sini, kita tunggu Naya dulu, sebentar lagi pasti dia datang"ujar Kevin.
Syukurlah, batin Tiwi lega.
"Aku ke belakang sebentar" Kevin bangkit untuk ke kamar kecil.
Kini kedua kakak beradik itu saling pandang dengan asumsi masing-masing dalam benak bereka.
__ADS_1
"Apa ada yang akan kau katakan Mbak?"tanya Januar sinis.
Tiwi menghela nafas panjang, pastilah sang adik mengira kalau ia akan membela Kevin sahabatnya.
"Aku hanya ingin kalian tidak saling membenci, biarlah Naya yang memiliki hak untuk memilih siapa di antara Kalian yang kelak menjadi pelabuhan hatinya."
Januar mendengus kesal.
"Tapi dia miliku Mbak, dia bahkan ..ah sudahlah,pokoknya Kevin harus tahu kalau dia tak bisa lagi mendekati Naya ku" prores Januar.
Tiwi tertegun, kalimat Januar membuat otaknya bertanya-tanya dengan kalimat yang belum terselesaikan.
"Dia kenapa Jan, Naya bahkan apa?"tanya Tiwi panik.
Januar mencelos, ia hampir lupa mengontrol mulutnya yang suka asal ucap, mana mungkin ia akan mengatakna jujur kalau ia dan Naya sudah menghabiskan malam berdua.
"Naya...bahkan sudah bilang kalau dia juga mencintaiku, dan kami akan berjuang demi cinta kami Mbak" kalimat spontan Januar terdengar lancar namun di dalam hatinya sangat gugup.
"Benarkah Naya benar-benar menerimamu apa adanya?"tanya Tiwi penuh selidik, ia heran jika Kevin yang penuh pesona saja bisa tersingkir,tapi kenapa Januar yang memiliki sikap bak beruang kutub malah di terima.
"Mbak, apa kau meragukan adikmu yang tampan ini?" protes Januar kesal.
"Bukan apa-apa Jan, Lu lihat Kevin, di mana coba letak kerkurangannya, tapi Naya masih menolaknya, nah Elu...ganteng kadang-kadang, romantis ..bahkan betuang kutub pun kalah dingin, sama sikap Elu, apa yang Elu banggain" ledek Tiwi.
"Buktinya...dia...dia mau menjadi kekasihku."
"Hah...siapa Cewek Lu Jan?"tiba-tiba Kevin sudah ada di belakang mereka.
"Tauk tuh, ngaku-ngaku punya pacar, main ke luar aja nggak pernah" sambar Tiwi cepat, untung saja Kevin tak mendengar obrolan mereka.
__ADS_1
"Ada, kalian ingin tahu siapa kekasihku?" tanya Januar tenang.
Kevin mengangguk namun wajah Tiwi mendadak berubah pucat sambil menggeleng pelan.
Januar tersenyum masam.
Biarlah dia tahu Mbak, agar tak lagi mengganggu kekasih orang, batin Januar.
"Heum siapa dia? Apa aku mengenalnya?" tanya Kevin penuh semangat.
"Ya..kau mengenalnya, bahkan..."Januar menghentikan kalimatnya kala melihat sosok Naya hendak memasuki kedai sambil melambaikan tangan ke arah mereka.
"Akhirnya dia datang" fokus Kevin kini teralihkan pada Naya.
Ck sudah ku bilang jangan datang ke sini, awas saja kalau kau masih tebar pesona padanya, umpat Januar dalam hati.
"Hai Vin, Wi...kalian sudah lama menungguku, maaf ..."sesal Naya polos tanpa melirik ke Januar yang kini sedang melihat ke arahnya dengan tatapan tajam.
"Belum cukup lama Nay, mana Vega?" tanya balik Tiwi mencoba mengalihkan perhatian.
"Heum dia sedang tak enak badan."
Perhatian Kevin kini hanya terfokus pada Naya yang sedang tersenyum manis, baginya, Naya lah mahluk paling manis di dunia nya.
Januar mendengus kesal apalagi Kevin menarik kursi di sebelahnya agar Naya duduk di sampingnya.
Naya tampak canggung, ia ingin menolak duduk di samping Kevin dan ingin di sebelah Januar, tapi ada Tiwi yang akan membuatnya kikuk, akhirnya ia duduk di kursi yang Kevin sediakan untuknya.
"Ehmm ...apa kalian masih penasaran dengan pembicaraan tadi?" pancing Januar akhirnya tak sabar.
__ADS_1
"Tentu dong, ayo katakan siapa dia" jawab Kevin masih dengan menatap ke arah Naya.
"Wanita yang sudah mencuri hatiku bernama....Kanaya Dewanty"