Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Bagai Bumi dan Langit


__ADS_3

Januar memacu mobil dengan kencang menyusul mobil yang membawa Tiwi dan Naya, darahnya semakin mendidih saat melihat mobil Kevin memimpin di depan.


Tangan Januar meremat kemudi kencang hingga buku-buku tangannya memutih.


Ampat puluh menit kemudian mereka sampai di sebuah rumah makan mewah yang terletak di pinggiran kota.


Bangunan yang mengusung tema outdoor, menampilkan kursi-kusri cantik dan meja bundar berbahan kayu juga pepohonan besar yang yang membuat rindang dan asri di suasana siang nan terik itu.


Senyum Kevin terlihat begitu bahagia, ia yang dulu hatinya terluka karena kabar tentang pernikahan Naya, kini kembali berbunga setelah Tiwi kembali mengabarinya tentang status Naya saat ini.


Dengan seribu harapan yang kini kembali tumbuh membuat Kevin kembali menyusun rencana yang dulu gagal ia lakukan untuk Naya, gadis manis nan imut yang selalu hadir di mimpinya kini tak akan ia lepaskan.


Meski mereka makan siang bertiga tapi sikap Kevin sangat jelas terlihat berbeda jika terharap Naya, tatapan hangat nan penuh cinta selalu terbit dari matanya yang tajam.


Namun hal itu bukan masalah besar bagi Tiwi,menu yang sudah tersaji di atas meja makan membuat nya kalap mata, kerinduannya akan masakan tanah kelahiran seakan terobati, Naya dan Kevin memandang sambil terkekeh melihat Tiwi yang lahap menghabiskan makan siang.


Di tengah keasikan mereka menikmati makan siang, Naya di kagetkan dengan notifikasi pesan dari Januar.


"Kalian terlihat begitu bahagia" kalimat yang Januar kirim ke ponselnya berikut gambar mereka sedang asik tertawa membuat Naya membeku.


"Kau di mana?" balas Naya.


"Aku selalu berada tak jauh darimu."


Naya mendengus kesal saat melihat meja yang terletak di ujung berdekatan dengan sebuah pohon yang cukup besar tengah memandangnya tajam.


"Kenapa kau tidak bergabung di sini?" tanya Naya.


"Aku tak ingin mengganggu kalian, kelihatanya dia sangat bahagia bersamamu" jawab pesan dari Januar


Dada Naya tercekat, apakah saat ini Januar sedang cemburu.


"Kenapa Nay?" tanya Kevin lembut lalu melihat ke arah di mana Naya tertuju.


"Tidak apa-apa Vin, aku hanya nggak enak sama atasanku kalau waktu istirahatku terlalu lama"tutur Naya, untung saja bersaman dengan itu beberapa pengunjung lewat hingga pandangan Kevin tak sempat menangkap sosok Januar.


"Ah tenang aja, adik Gue nggak bakal berani marahin Elu, kalau dia berani hemm!!"Tiwi memperagakan telunjuknya horizontal di lehernya.

__ADS_1


Naya hanya tersenyum masam.


Kau tak tahu saja begitu posesif adikmu itu Wi, batin Naya lirih, namun saat ia kembali melirik ke tempat Januar tak ada lagi sosok pria tampan itu di kursinya.


"Apa yang kau cari Nay?"tanya Kevin kembali, namun Naya kembali menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu ayo kota pulang" ajak Kevin.


Senyum Naya terbit lalu langsung berdiri.


"Ish sebegitu takutnya kau sama adik gue Nay" ujar Tiwi kesal karena ia masih ingin menikmati makan siang dengan santai.


Sesampainya di Tinar perkasa Kevin membuka pintu samping mobil di mana Naya duduk, tatapannya begitu lembut dan hangat, bertemu kembali dengan wanita yang dulu menghilang membuat Kevin begitu bahagia, ia tak perduli apapun status Naya kini, ia tak akan lagi melepasnya pergi, apapun akan ia lakukan untuk mendapatkan wanita itu.


Tiwi melangkah menuju gedung Tinar Perkasa sedang Naya masih berdiri karena Kevin menahan tangannya.


"Nay, apa kau tak keberatan kalau aku ajak makan malam?" sungguh tutur kata Kevin terdengar begitu lembut di telinga, membuat Naya tertegun.Tega kah ia kembali menghancurkan hatinya.


"Maaf Vin, aku ada acara dengan temanku Vega" jawab Naya, Vega memang memintanya untuk mencari apartemen untuknya.


"Oke baiklah, cepat hubungi aku kalau kau sudah ada waktu, aku menunggumu."


Sementara tak jauh dari mereka sepasang mata memandang keduanya dengan darah berdesir panas dan dada bergemuruh, lalu melajukan mobilnya keluar dari area Tinar Perkasa.


"Mbak Nay baru pulang? mana Bu Tiwi Mbak?" tanya Vega begitu Naya datang ke ruangan.


"Bu Tiwi langsung pul.ang Ga, ada urusan lagi di luar" jawab Naya.


"Wahh, masih muda cantik, kaya dan pintar, andai aku bisa seperti dia, alangkah bahagianya hatiku" Vega berandai sambil tersenyum, begitupun Naya.


Ia pun merasa beruntung bisa memiliki teman seperti Tiwi, meski memiliki harta melimpah tapi hatinya selalu tulus pada orang lain.


"Ga, apa Pak Januar ada di ruangannya?" tanya Naya sedikit ragu.


"Tidak ada Mbak, sejak sebelum makan siang tadi beliau belum pulang" jawab Vega.


Hingga sore waktu jam pulang pun sosok Januar tak muncul, ada kegundahan di hati Naya, dimana kah Januar setelah dari rumah makan tadi.

__ADS_1


"Ayo kita pulang Mbak?" ajak Vega.


"Hm aku nanti dulu Ga, masih ada dokumen yang harus aku cek, kau duluan saja, oiya bagai mana apa kau sudah mendapat apartenen yang kau ingin?"


"Belum Mak, ternyata unit yang di sebelah Mbak Nay sudah di jual, aku susah-susah nawar sengaja aku naikin harganya, eh sudah ada orang lebih dulu nawar dengan harga tiga kali lipat" ujar vega kesal.


"Hah tiga kali lipat, wah...bisa buat beli satu unit lagi tuh, ngapain beli apartemen sederhana gitu kalau bisa buat beli yang lebih luas dan nyaman."


"Iya Mbak, aku pun heran."


Karena hanya beberapa dokumen yang harus di revisi, Naya hanya lembur hingga pukul enam.


Bebarengan dengan Ujo ia pun meninggalkan gedung Tinar perkasa, dengan ojek online ia pun pulang, meski harus rela menghirup banyak asap knalpot tapi perjalanan cukup singkat.


Di atas sofa panjang di depan televisi Naya merebahkan tubuhnya yang penat, matanya memandang langit putih di atas kepalanya.


Benar kata Vega, alangkah bahagia jika terlahir dari keluarga kaya, tanpa perlu bersusah payah bekerja, hidup pasti terjamin, tak seperti dirinya, meski berjuang susah payah membanting tulang pasti lah hidupnya akan tetap seperti ini.


Naya menghela nafas panjang, memikirkan kisah cintanya yang mengganjal di hati.


Tingkat hidupnya dengan Januar bagai bumi dan langit, apalagi di tambah dengan status janda yang di sandangnya kini, mana mungkin ia berani berharap bisa di terima di keluarga Januar.


Naya bangun dan membuka baju kantornya, menggantinya dengan tangtop putih dan celana t shirt hitam sebatas paha, memperlihatkan paha putihnya yang mulus.


Drrt drrt.


"Mbak, jangan kemana-mana, aku nanti ke tempatmu" bunyi suara di ujung telepon, rupanya Vega dalam perjalanan menuju apartemen Naya.


Merasa haus Naya membuka lemari pendingin dan mengambil buah untuk di buat jus.


Suasana menjelang malam sangat gerah, ia pun menyalakan televisi dan duduk menikmati jus buah terong belanda cukup membuat moodnya membaik.


Teet


Bunyi bel pintu terdengar nyaring, bergegas Naya bangun dan menuju pintu.


Ceklek.hati Naya mencelos saat ternyata yang datang bukanlah Vega melainkan Januar.

__ADS_1


"Kau..."


"Boleh aku masuk"tanya Januar tenang namun dadanya berdebar kencang, tak pernah ia melihat Naya memakai baju se terbuka itu sebelumnya.


__ADS_2