Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Sudahi Semua


__ADS_3

Hingga tengah malam Januar tak juga bisa terlelap, hanya bayangan wajah Naya yang bermain di pelupuk matanya.


Ah bisa gila gue, batinnya kesal sambil meremat rambutnya lalu menggeleng kepalanya cepat.


Tanpa sadar tangan Januar mulai berselancar ke akun sosmed milik sang kakak.


Ada rasa menggelitik di dadanya saat melihat ketiga wanita yang sedang berpose masih dengan muka bantal.


"Kau memang manis" guamamnya lirih.


Rupanya mereka bertiga sangat dekat hingga sebagian poto Tiwi berisi tentang kebersamaan mereka, bahkan di sana ada juga Dokter Kendra yang beberapa kali tampak ikut bergabung dengan ketiga wanita itu.


"Pantas saja mereka tampak akrab" kembali ucap Januar bermonolog.


Dan gerakan tangan Januar berhenti di salah satu foto saat Naya sedang berpose di tepi pantai, rambutnya yang tergerai indah membuatnya terlihat sangat cantik bak bidadari.


"Apa yang harus kulakuakn agar senyum indahmu kembali" tangan Januar mengusap poto Naya perlahan.


Namun tiba-tiba kedua alis Januar menyatu, dan darahnya entah kenapa terasa panas mendidih.


Foto yang berlatar di sebuah kantor yang ia tahu itu adalah ruangan di kantornya.


Tiwi, Naya dan seorang pria tampan tengah ber rangkulan dengan senyum lepas.


Pria yang pernah ia lihat sekali saat meeting di perusahaan, namun Januar lupa dengan nama pria tersebut.


Januar semakin merasa kesal saat ia tak bisa melihat akun milik Naya yang ternyata di privasi.


Januar mematikan ponsel, tak rela rasanya melihat Naya dekat dengan lelaki lain.


Pagi hari pukul enam Januar bangun dengan menggeliatkan tubuhnya di atas kasurnya yang nyaman.


Matanya mengerjap pelan, lalu bangkit untuk segera membersihkan diri.


Cukup lama ia memandang wajahnya di depan cermin, mereka yang dekat dengan Naya semua memiliki wajah halus dan putih, apa ia pun perlu mencukur buku halus di dagu juga kumisnya,Januar membatin.


Dan ternyata kini entah sejak kapan tangannya sudah berselancar di atas kulit dagunya, membersihkan bulu halus yang mulai tumbuh memenuhi dagu nya.Kini wajah halusnya tak lagi tertutupi jambang, bahkan kumisnya pun ia rapikan lagi.


Januar menghela nafas panjang, semoga seperti ini yang kau suka, pikirnya.Setelah mematutkan diri di depan cermin Januar pun melangkah keluar sambil berharap penampilannya sudah sempurna di mata Naya.


"Pagi mas Jan" sapa Bu Heni ramah.


"Pagi juga Bu."


"Silahkan sarapan Mas, mumpung masih hangat" titah bu Heni.

__ADS_1


"Ehm apa Naya sudah bangun Bu?" selidik Januar sambil melirik ke arah pintu kamar Naya.


"Mungkin belum Mas, biasanya Mbak Nay akan bangun pagi untuk minum tapi pagi ini Mbak Nay belum keluar dari kamarnya" jawab bu Heni.


Januar menghela nafas kasar, ada rasa kecewa di hatinya saat wanita itu tak melihat penampilannya pagi ini.


"Bu saya berangkat Bu, ingatkan Naya untuk minum obatnya" pesan Januar sambil memakai sepatunya, sia-sia ia menunggu Naya keluar kamar yang akhirnya hanya menghabiskan waktunya karena ada rapat pagi ini.


"Baik Mas, pasti akan ibu ingat."


Ceklek.


"Mbak Nay, mari sarapan Mbak" sapa wanita paruh baya itu ramah.


"Iya Bu" jawab Naya singkat langsung duduk di kursi.


Bu Heni hanya sesekali melirik ke arah Naya, wajah cantiknya kembali murung, makan pun seakan tak berselera.


Diam-diam wanita itu mengirim pesan pada Elis, karena hanya saat bersama sahabatnya itu Naya akan terhibur.


"Minum dulu obatnya Mbak?" ucap Bu Heni lembut, ia tak ingin Januar cemas jika Naya sampai melupakan obatnya.


Meski enggan Naya tetap me minum obatnya, ia sebenarnya merasa sudah pulih, dan pusing kepalanya sudah tak berasa lagi.


Tapi akan banyak orang yang kecewa jika ia sampai melewatkan obatnya.


Naya tak begitu tertarik hingga ia tetap fokus dengan siaran televisinya.


"Ehm hmm, apa kedatangan saya mengganggu tuan putri? "karena mengenal pemilik suara, Naya pun membalikan badan dan memekik bahagia.


"Kau datang ?" tanya nya penuh semangat.


"Heum, aku membawa obat untuk rambutmu" jawab Elis sambil mengeluarkan sebuah botol berukuran sedang.


Mata Naya membulat dan senyumnya terbit, ia pun segera melepas topi kupluknya dan menegakan tubuh agar Elis segera mengoleskan obat di kepalanya.


"Ehm sebenarnya rambutmu tak membutuhkan obat ini Nay, lihatlah..tak memakai obat pun sudah mulai tumbuh lebat"terang Elis.


"Tapi akan lebih cepat panjang kalau memakai obatmu Lis" protes Naya.


"Oke baiklah."


Elis pun mulai menntreatmen Naya dengan lembut, senyum tipis tak henti terbit dari bibir Naya, bu Heni yang melihat pun menjadi lega.


"Bagaimana keputusan Elu Nay? Apa kau masih akan tetap bersama dengan suamimu?"tanya Elis dengan nada rendah karena masih ada bu Heni si sekitar mereka.

__ADS_1


"Keputusanku sudah bulat, kami memang harus berpisah, tapi....."


"Tapi apa?."


"Surat-surat pentingku masih ada di apartement mas Danu."


Elis diam termenung, mencari akal agar berkas penting milik Naya bisa mereka dapatkan kembali.


"Kenapa berhenti?" protes Naya.


Elis pun mencebikan bibir lalu kembali meneruskan kegiatannya.


"Ah, bukankah aku bisa meminta bantuan asisten Sam?" pekik Naya girang.


Mata Elis pun ikut berbinar, itulah cara terbaik agar berkas bisa mereka dapatkan tanpa Naya harus kembali ke apartement Danu.


"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah itu?"tanya Elis hati-hati, ia masih bisa melihat di mata Naya, luka yang dalam karena tahu bahwa kecelakaan itu ada campur tangan Danu di dalamnya.


"Jika memang mas Danu tak mengharapkanku maka aku bisa apa, dia menginginkan perpisahan, maka aku pun harus menyetujuinya."


Elis memandang Naya yang kini kembali murung.


"Baiklah apapun keputusanmu, kami akan mendukung, dan akan kami bantu sepenuhnya agar kau lepas dari lelaki brengsek itu."


Naya mengangguk pasrah, kisah rumah tangganya memang harus behenti sampai di sini, ucapnya pasrah dalam hati.


"Sudah selesai, kau bisa memakainya sehari dua kali, pagi dan sore" terang elis.


"Oke terima kasih" Naya bergegas mengambil cermin untuk melihat kepalanya.


"Aku langsung pulang Nay, salon lagi banyak pelanggan" ujar Elis lalu bersiap kembali pulang.


"Oke terima kasih banyak Lis" Naya memeluk Elis erat seakan tak rela sahabatnya itu kembali pulang.


Naya mengambil nafas panjang melihat Elis menghilang di balik pintu, ia lalu mengetik pesan dan di kirimkan pada asisten Sam.


Drrt drrt.


Naya mengerutkan alisnya saat nama asisten Sam muncul di layar ponsel.


"Iya asisten Sam" sapa Naya.


"Mbak Nay butuh berkasnya kapan? soalnya hari ini saya mungkin tidak bisa mengantar ke mbak Naya, saya sedang ada di luar kota sama bos Danu, mungkin besok sore baru bisa saya antarkan."


"Oiya nggak apa-apa asisten Sam, maaf kalau sudah merepotkan."

__ADS_1


"Tidak sama sekali mbak Nay."


Memang asisten Sam orang yang baik, ia pun hangat pada siapapun, batin Naya serelah menutup panggilan.


__ADS_2