Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Murka Danu


__ADS_3

Sepanjang perjalanan keduanya terdiam, Januar sesekali melirik ke wanita di sebelahnya, dengan potongan rambut baru membuatnya terlihat sungguh imut dan menggemaskan,


"Ehm Pak, lokasi acara berubah."


Ciiiiittt.....


Bunyi gesekan roda mobil terdengar saat Januar menginjak rem, tubuh Naya bahkan terhentak ke depan, untung saja seat belt terpasang sempurna hingga tubuhnya tak membentur dashboard.


"Pindah? Kenapa mereka memberi informasi mendadak!" sungut Januar kesal.


"I ini" Naya menyerahkan ponselnya pada Januar saat Tiwi memanggil.


"Iya Kak, apa benar lokasi acara di rubah?."


"Iya Nu, sorry Kakak lupa mengatakan pada kalian, maaf....nanti Kakak share lokasi acara nya."


Tiwi langsung menutup panggilan, tak mau lagi ia menjadi sasaran kemarahan sang adik untuk kesekian kali.


Januar hanya bisa menghela nafas kasar, untung saja lokasi yang di kirim sang Kakak berjarak lebih dekat dari saat ini mobilnya berhenti.


Di sebuah parkiran hotel Januar menghentikan mobilnya.


Terlihat para tamu sudah banyak hadir dan acara pun sudah mulai beberapa saat yang lalu, tampak dari wajah mereka yang fokus pada sang pemilik acara yang sedang memberikan sambutan.


"Kita terlambat" bisik Naya di samping Januar.


"Tenanglah, kau bukan salah satu karyawan mereka jadi gajihmu tak akan terpotong" jawab Januar tenang.


Naya hanya mencebik kesal, ingin ia mentoyor atasan sekaligus adik sahabatnya tersebut.


Setelah selesai memberikan kata sambutan dan pria yang ternyata sang pemilik kantor cabang tersebut berjalan mendekati Naya dan Januar.


"Selamat datang Nona Naya dan..." kalimatnya terhenti saat tangannya mengulur ke Januar.


"Dia Tuan Januar, adik dari Ibu Tiwi" jelas Naya.


"Oh ...maaf Tuan" pria yang bernama Dahlan tersebut menunduk hormat lalu menyalami Januar.


"Januar."


"Dahlan, maaf kami merubah alamat pesta karena sesuatu dan lain hal kami mengadakan pesta pembukaan kantor cabang di hotel ini."


"Ah tidak apa-apa Pak, dan maaf juga, kami datang terlambat" Naya menjawab dengan hormat karena Januar hanya diam tanpa tanda akan menjawab ucapan Dahlan.


"Baiklah silahkan menikmati hidangan kecil yang telah kami sediakan, terima kasih atas kehadiran Tuan Januar" Dahlan pun membungkuk lalu pergi menemui tamu yang lain ia merasa jengah karena wajah Januar sungguh tampak dingin.

__ADS_1


Namun Naya tak perduli dengan tingkah dingin Januar, karena ia lebih tertarik pada hidangan yang tersaji di atas meja, perutnya yang keroncongan memintanya untuk mencicipi makanan lezat tersebut.


Jika Naya asik dengan makanan di atas meja, Januar lebih fokus pada pria tampan yang tengah menatap Naya dari jarak cukup jauh, dan ia pikir pria tersebut bukan salah satu tamu dari Tuan Dahlan.


Cih, dasar mata buaya, batin Januar kesal, entah kenapa ada rasa tak rela saat pria itu terus menatap Naya.


"Ssst ayo pulang" Januar menyikut bahu Naya pelan.


"P pulang, tapi kita kan baru datang Pak?" protes Naya karena ia belum makan satu pun hidangan yang di ambil.


"Iya pulang, aku ngantuk" ucap Januar ketus, membuat Naya mengerutkan alisnya.


Akhirnya mereka pun kembali pulang, Januar langsung mengantar Naya hingga ke gerbang gedung apartementnya.


Naya membungkuk hormat saat Januar melajukan mobil.


Ia bergegas naik ke lantai apartement sang suami, hatinya masih merasa dongkol, begitu banyak hidangan lezat tapi Januar tak memberinya waktu sedikit pun untuk mengisi perutnya yang keroncongan, bahkan pria datar itu dengan tanpa perasaan mengajaknya meninggalkan pesta tanpa alasan.


Setelah mengganti baju dengan baju rumahan Naya melihat isi kulkas, berharap ada bahan makanan yang bisa di masaknya.


Hanya makanan simpel yang ia buat, untuk mengisi perutnya agar tak lagi berontak.


Teet.


Naya sontak bangun dan mengangguk hormat pada sang suami.


"Kau sudah pulang?" tanya Danu sambil melirik Naya dari sudut matanya.


Hanya untuk pergi ke sebuah pesta kecil, istrinya rela berdandan memotong rambutnya sedemikian rupa, cebik Danu dalam hati.


"Aku hanya sebentar di pesta Mas, Bos ku tidak terlalu suka keramaian" jawab Naya lembut.


"Lalu apa kau di sana pun tidak makan?"tanya Danu saat melihat meja makan ada masakan yang mungkin baru matang dan tercium wanginya di hidung Danu.


"I iya, kami tak sempat makan mas, makannya aku langsung masak kebetulan di kulkas ada bahan yang bisa di masak" terang Naya panjang.


Danu menghela nafas panjang, lalu melangkah ke kamarnya tak menghiraukan penuturan Naya, ia masih gundah,Silvy belum juga bisa di hubunginya.


"Tuan, ini tas nya" Sam mengulurkan tas Danu.


"Heum, kau langsung pulang saja, dan bawa mobil ke rumahmu, besok aku mungkin berangkat agak siang" ujar Danu.


"Baik Tuan" Sam membungkuk lalu melangkah ke pintu apartement.


"Pak! Pak Sam...mau pulang?" tanya Naya membuat Sam menahan langkahnya.

__ADS_1


"Iya Non.."


"Makan dulu sini, saya masak banyak, sayang nggak ada yang makan.."


Naya melambaikam tangan pada Sam, pria itu tampak ragu dan melihat ke arah pintu kamar Danu.


"Nggak usah mikirin Tuan, dia tak pernah makan masakan saya..." Naya berucap jujur membuat dada Sam berdenyut nyeri.


Wanita yang begitu lembut dan penuh perhatian tapi Danu acuhkan hanya demi wanita penggila harta seperti Silvy, Sam sudah pernah melihat Silvy pergi berdua dengan lelaki yang tak hanya satu orang.


Namun Sam tak pernah mengatakan hal tersebut pada Danu, biarlah atasannya yang akan melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana watak sebenarnya wanita yang selama ini ia pilih.


"Pak Sam, ayo makan" ajak Naya lembut sambil menyiapkan piring kosong.


"Nggak baik Lho Pak, nolak rezeki" sambungnya sambil senyum manis.


Dasar pria yang amat bodoh, wanita secantik dan se lembut ini ia tinggalkan hanya untuk wanita tak bermartabat seperti Nona Silvy, ucap Sam tapi hanya berani ia ungkapkan dalam hati.


Sam pun akhirnya duduk dan menikmati makan malam bersama Naya.


Masakan sederhana, hanya ayam goreng dengan sambal dan lalapan, namun begitu nikmat.Naya tersenyum saat kening Sam di banjiri keringat karena rasa pedas sambal buatannya.


"Minum Pak" Naya menyodorkan segelas air hangat.


Sam menggeleng dengan raut wajah puas, sungguh lezat masakan istri atasannya itu.


Ceklek.


Danu keluar dari kamar dan tertegun melihat sang asisten ternyata masih berada di apartemennya sedang makan satu meja dengan Naya.


"Kau belum pulang Sam?" tanya nya penuh selidik.


"Pak Sam aku tawarin makan dulu Mas, aku masak banyak, sayang kalau di buang sedangkan kau tidak pernah mau masakan buatanku" sindir Naya jujur, ia merasa harus melindungi Pak Sam dari murka suaminya.


"Maaf Tuan..."Sam tertunduk dengan wajah penuh penyesalan.


Naya menatap Danu tajam, ia tak rela Pak Sam mendapat masalah karena dirinya.


"Mas, Pak Sam tidak salah aku yang...."


"Sudahlah, itu tak penting bagiku, kalian teruskan makan kalian, aku mau tidur" Danu berucap sinis lalu kembali ke kamarnya.


Naya menatap pria di hadapannya dengan penuh sesal.


"Maaf Pak, karena saya bapak jadi kena marah Tuan.."sesal Naya.

__ADS_1


__ADS_2