Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Bukan Orang Biasa


__ADS_3

"Maaf Tuan, nomor tersebut tak bisa kami lacak, tapi aktif terakhir masih ada di kota ini dua belas jam yang lalu"pesan dari Tanu.


Januar menghela nafas kasar, ada rasa kecewa di hatinya, sangat minim informasi tentang anak lurah tersebut, apalagi Naya tidak mengetahui seluk beluk atau asal usul tentang siapa calon suaminya itu.


"Baiklah, tunggu informasi dariku selanjutnya" jawab Janiar lalu menutup ponsel.


Sementara itu Naya dudul bersandar di kursi di ruangannya, setelah meminum ramuan dari Januar rasa kantuk Naya seakan tak tertahan,semua aktifitas fisik di serahkan pada Vega, sebenarnya sedikit tak enak pada juniornya itu, tapi itu semua atas perintah Januar.


Tak beda jauh dengan Januar yang sedang mulai bergerilya mencari informasi tentang sosok Daniel, begitu pun Kevin mulai tak tenang saat laporan dari anak buahnya yang melihat Naya bertemu dengan seorang pria.


Beberapa lembar foto sudah ada di tangannya, ada sedikit rasa iri di hati Kevin, pria itu terlihat cukup tampan dengan tubuh atletis tinggi tegap dan wajah sedikit bule.


Bukan anak lurah biasa, pikir Kevin.


"Sejauh mana informasi yang sudah kalian dapat" tanya Kevin pada tiga anak buahnya, mereka merupakan tim inti yang ia sebar untuk menyelidiki siapa saja pria yang ada di sekitar Naya.


Kini semakin bertambah rival Kevin, dan semua bukanlah lawan yang enteng, jika sosok yang dicalonkan sebagai suami Naya berwajah tampan maka entah bagaiman dengan pria yang sudah berhasil mencuri hati Naya, pastilah lebih darinya, pikir Kevin.


Jika semula ia anggap biasa saja anak lurah tersebut karena ia belum bertatap muka langsung, tapi kini nyalinya menciut kala melihat langsung sosok tersebut.


"Mungkin dia bukan orang biasa bos, identitasnya sulit kami dapatkan, mungkin ada kekuatan lain yang melindunginya" terang salah satu anak buah Kevin.


"Apa maksudmu?"


"Kami belum menyelidiki secara detil Bos, mungkin setelah semua kami dapat, akan kami informasikan secepatnya."


"Oke, ku tunggu kabar secepatnya dari kalian" ucap Kevin.

__ADS_1


Ke tiga pria itu pun pergi meninggalkan


Bos besar mereka yang sedang galau karena cintanya di tolak.


Jika kemarin mereka mendapat tugas mencari pria yang Naya sukai, kini tugas tambahan bahkan lebih berat bagi mereka...informasi tentang pria sebagai kandidat calon suami Naya belum juga mereka dapat informasinya.


Kevin melajukan kereta besinya menuju Tinar perkasa, ia ingin menanyakan langsung pria misterius yang di calonkan Ningsih untuk Naya.


Januar memandang Naya yang pulas tertidur hanya dengan menyandarkan tubuhnya di kursi, perlahan Januar membopong tubuh ramping itu ala bride style dan memindahkan ke ruangan pribadinya.


Drrt drrt.


"Aku tunggu di lobi perusahaan, ada yang ingin aku tanyakan padamu" pesan Kevin yang sempat muncul dan kebetulan Januar baca.


Cih, sudah di tolak masih saja kau tak tahu malu, umpat Januar dalam hati.


"Hai Jan" panggilnya ramah dengan tangan melambai ke Januar.


"Hai..." jawaban santai Januar singkat dan dingin.


"Aku mengirim pesan pada Naya tapi belum juga ia baca, apa kau tahu di mana dia?."


"Hmm biasanya di bagian produksi, mungkin tidak membawa ponsel" jawab Januar bohong.


"Ada apa?" tanya Januar penasran.


Kevin meraih ponsel dan menunjukan pada Januar.

__ADS_1


"Apa Lu tahu siapa pria ini?" Januar melihat layar di mana Naya terlihat sedang bicara dengan seorang pria yang cukup tampan.


Januar menggelengkan kepalanya, meski wajahnya terlihat tenang namun di dalam dadanya bergemuruh, panas mata yang kini ia rasakan.


"Dia calon yang ibu Naya pilih untuk jadi suaminya" jelas Kevin.


Tangan Januar mengepal keras, rupanya itulah sosok yang di ceritakan Vega, pria yang memberikan hadiah barang branded pada Naya.


Kevin terpaksa pergi setelah tak ada balasan apa pun dari Naya, bahkan kini ponselnya tak aktif, tentu saja tidak online karena Januar sudah menon aktifkannya.


Dengan tatapan dingin Januar melihat Kevin pergi meninggalkan gedung Tinar Perkasa.


Memasuki ruangan Januar langsung membuka kamar pribadinya dan tak lagi mendapati Naya di sana.


"Sayang, di mana kau sekarang, kita pulang bersama" pesan yang Januar kirim ke Naya.


"Aku pulang bareng Vega, kami sudah menuju parkiran" jawab Naya.


Januar menghela nafas kecewa, lalu ia pun berkemas, ia ingin meminta Tanu untuk meretas CCTV lobi apartement Naya, ia tak mau kalah cepat dengan yang di lakukan oleh anak buah Kevin.


Pria tampan itu keluar dari mobilnya setelah memastikan Naya berada dalam apartement.


Bukan surprise namanya, kalau Naya tahu lebih dahulu bahwa sekarang dia tinggal bersebelahan dengannya.


Januar memang sudah cukup lama berencana membeli sebuah hunian untuknya pribadi, rasanya tak terlalu bebas jika masih tinggal di apartement kakaknya, meski sampai saat ini hanya Jefry dan Tanu yang mengetahui hal itu.


Senyum tipisnya mengembang saat melewati pintu apartemen Naya, tinggal berdekatan dengan wanita pujaan membuatnya merasa lebih tenang.

__ADS_1


__ADS_2