
Melihat kondisi sang atasan terlihat memprihatinkan, Sam memutuskan untuk bermalam di apartement.Mulut Danu yang berbau alkohol terus meracau tak jelas di tengah tidurnya membuat Sam tak tenang.
Mungkin pukul dua dini hari baru Sam bisa terlelap setelah Danu benar-benar tidur.
Pagi hari Sam bangun dan merasa sangat pusing, namun ia tetap harus berangkat ke kantor.
"Sam...kenapa kau ada di sini?"tanya Danu dengan suara berat dan berjalan sempoyongan ke dapur.
"Semalam saya datang dan melihat Bos tak sadar tidur di lantai" jawab Sam sambil berbenah hendak berangkat.
Danu mengerutkan alisnya mencoba mengingat kejadian semalam.
"Sam....maafkan aku" Danu berucap lirih membuat Sam kembali berbalik.
"Maafkan aku yang telah menuduhmu telah memfitnah Silvy" sambung Danu sambil menelan ludah kasar, semua gambar dan rekaman vidio Sikvy sudah Danu lihat.
"Apa maksudmu Bos?" tanya Sam penuh selidik.
"Entah harus mulai darimana, tapi aku ingin mengatakannya padamu, kini aku tahu yang sebenar-benarnya....aku hanya ingin kau me maafkanku" sikap gentle Danu membuat Sam tersenyum bahagia dan pria itupun mengangguk tulus.
"Syukurlah jika akhirnya kau sadar Bos, meski..."
"Meski apa Sam?."
"Meski mungkin kesalahanmu sudah membuatmu akhirnya kehilangan orang yang sangat berharga."
"Apa maksudmu?."
"Ah sudahlah, semua sudah tejadi...saya hanya bisa berharap semoga Non Naya memaafkanmu Bos."
"Ah ya, dimana dia sekarang Sam, aku harus meminta maaf padanya."
"Luka di kepala Non Naya membuatnya belum bisa bergerak bebas Bos."
"Tidak, aku tidak memintanya datang ke sini, aku yang akan datang padanya."
Dari sikap dan cara bicara Danu, Sam pikir atasannya itu jujur dan tulus, jadi kemungkinan besar apa yang Januar sangka bahwa Danu adalah otak dari semua kejadian yang menimpa Naya adalah salah.
Semoga saja kau memang tak ada hubungannya dengan kecelakaan yang menimpa istrimu bos, batin Sam.
"Baik bos, nanti sore kita akan berangkat menemui Non Naya, dan ini....non Naya menolak menerima semua pemberianmu" Sam menyerahkan amplop lalu meninggalkan apartement.
Tangan Danu bergetar saat menerima amplop yang Sam sodorkan.hatinya semakin terasa hancur, ia yang terus saja menuduh Naya hanya menginginkan hartanya tenyata salah besar.
Naya bahkan sepeserpun tak pernah menggunakan uang pemberiannya, ATM pun tampak utuh masih berada di dalam amplop.
Apa yang telah aku lakukan, suami macam apa aku, menuduh istri gila harta, tapi di luar aku malah main gila dengan wanita yang jelas-jelas hanya mencintai hartaku, aku memanjakan wanita murahan sedangkan istriku sendiri dalam penderitaan, lelaki macam apa kau Danu, teriakan yang hanya bisa Danu ucapkan dalam hati.
Kedua mata pria tampan itu mulai berkabut, memori tentang semua penghinaannya pada Naya kembali membayang jelas, hinaan, caci maki, bahkan kata-kata kotor yang ia tujukan pada Naya pastilah membuat hatinya hancur.
"Apa yang telah aku lakukan Tuhan...."
Teriakan Danu menggema di seisi ruangan apartement.
"Kembalikan dia padaku Tuhan....biarkan aku membayar semua dosa-dosaku padanya, biarkan aku menerima caci maki darinya, biarkan aku bersimpuh di kakinya"
__ADS_1
Air mata akhirnya luruh dari mata Danu, rasa sesal tiada tara dan sesak dadanya seakan membuat pria itu tak bisa lagi bernafas.
Ia memukul dadanya kencang, berharap ganjalan yang menekan jantungnya hancur.
Wajah lembut Naya menari-nari di pelupuk matanya, senyum hangat yang selalu ia tunjukan setiap pagi, senyum yang tulus dan penuh kasih.
"Kembalilah Naya...maafkan suamimu yang tak tahu diri ini, biarkan aku menebus dosa-dosaku padamu Nay.....kembalilah istriku."
Dua jam lebih Danu termenung penuh penyesalan, jam menunjukan pukul sepuluh, ia bergegas ke kamar mandi, ia harus menemui Naya, ia akan meminta maaf padanya, bahkan kalau perlu ia akan bersujud agar Naya memaafkannya.
Setelah memakai setelan jas nya Danu pun melajukan kereta besinya menuju perusahaan, ia Kan meminta Sam untuk mengantarkannya bertemu Naya.
Ceklek.
"Sam ayo antarkan aku padanya sekarang juga, aku harus menemuinya Sam" Sam mengusap dadanya, jantungnya seakan berhenti kala pintu di buka kasar oleh Danu.
"I iya tapi masih banyak pekerjaan saya Bos" tolak Sam halus.
Danu memghempaskan tubuhnya di kursi di hadapan Danu, memang setumpuk berkas di mejanya sudah menanti tanda tangannya.
"Sam, apa saja yang kau ketahui tentang hubungan antara Silvy dan pria itu" tanya Danu.
"Benarkah kau siap untuk mengetahuinya bos?" tanya balik Sam.
Danu mengangguk pasti, ia kini sudah percaya pada semua yang Sam katakan tentang Silvy, dan Danu yakin masih banyak bukti kebusukan Silvy yang masih Sam simpan
"Aku siap menerima apapun yang akan kau katakan tentang Sikvy"
Sam merogoh ponselnya, lalu menatap Danu intens.
Rekaman tentang kemesraan Silvy dengan selingkuhannya bahkan adegan ranjang yang telah Sam dapat sejak lama sudah dia simpan baik-baik dalam ponselnya.
Danu memandang Sam tajam lalu mengangguk.
"Berikan padaku semua bukti tanpa kecuali" ucap Danu.
Sam pun mengirim semua gambar rekaman juga adegan blue film Silvy pada Danu tanpa kecuali.
Danu melangkah ke ruangannya, ia harus mempersiapkan hatinya.
"Bos, hentikan jika memang kau tak sanggup melihatnya" ucap Sam dalam.
Tanpa menjawab, Danu keluar ruangan Dengan langkah pasti.
Pukul tiga sore Sam sudah menuntaskan kerjaannya.
Ceklek.
"Apa semua kerjaanmu sudah selesai" tanya Danu tiba-tiba.
"S sudah Bos"jawab Sam tergagap, sikap Danu tampak biasa saja, raut wajahnya pun tak berubah.
Apakah bosnya belum melihat rekaman dan gambar yang ia kirim?, batin Sam.
"Ayo kita menemui Naya."
__ADS_1
Sam mengerutkan alisnya, niat Danu begitu keras ingin menemui Naya.
"Baiklah ...ayo."
Sam melajukan mobil menuju apartement Januar.
Langkah Sam panjang memasuki lobi bersama Danu.
"Asisten Sam...!" satu suara memanggil nama Sam, membuat dua pria itu menoleh.
"Bu Heni? Dari mana, mana Non Naya?" tanya Sam.
"Saya habis belanja, Mbak Nay sedang pergi bersama Mbak Elis ke salonnya, katanya suntuk di apartement terus."
"Apa...Naya pergi, bukannya kesehatannya belum pulih, kenapa kau biarkan dia pergi jauh" Danu bertanya dengan wajah panik.
Bu Heni tampak bingung, siapa pria yang bersama Sam tersebut, pikirnya.
"Ehm kepala Mbak Nay sudah semakin membaik, dan dokterpun sudah mengijinkan Mbak Nay unyuk mulai beraktifitas ringan."
"Tapi.."tangan Sam menahan Danu agar segera pergi menyusul Naya.
"Baiklah bu Hen, kami akan menyusul mereka" terang Sam ramah lalu menarik tangan atasannya.
Di depan lobi Danu menghempaskan tangannya kesal, semakin lama Sam semakin berani bertindak tak sopan padanya.
"Kenapa kau menarik tanganku heh!" hardik Danu.
"Apa kau akan tetap menghabiskan waktu percuma hanya untuk menasehati Bu perawat tersebut hingga kita akan kehilangan waktu untuk bertemu Non Naya" jelas Sam logis membuat Danu mati kutu.
Danu hanya diam karena kali ini asistennya memang benar.
Setelah mengirim pesan pada Elis, Sam pun melajukan mobil menuju alamat salon milik sahabat Naya tersebut.
Salon Elis berada di tempat yang cukup strategi karena berada di deretan pertokoan.
Danu tiba-tiba menahan Sam saat ia melihat Naya dan Elis sedang duduk di sebuah ruko penjual makanan ringan di sebelah salon.
"Sam..bukankah itu Naya?"tanya Danu.
"Iya benar bos itu non Naya.." Sam hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal, Danu sudah lebih dulu melesat cepat ke arah di mana Naya dan Elis.
"Naya..."panggil Danu semangat.
Naya dan Elis menoleh ke asal suara, tiba-tiba Naya diam membeku di tempatnya, wajahnya tampak tegang kala melihat Danu sedang melangkah ke arahnya.
"Naya kita harus bicara..." ucap Danu dengan tangan menggapai tangan Naya, namun hatinya mencelos, Naya bangkit dan mundur berapa langkah hingga jangkauan tangannya meleset.
"Maafkan aku Nay...dengarlah kita harus bicara, ku mohon ..beri aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki kesalahan dan dosaku Nay...kembalilah, mari bersama-sama kita mulai dari awal."
Elis dengan sigap memasang badan menghalangi tubuh Naya di belakangnya.
"Untuk apa kau datang ke sini?" tanya Elis sinis.
"Naya ....ku mohon, kembalilah, maafkan aku Nay.."suara Danu serak parau tak menghiraukan keberadaan Elis, hatinya berdenyut nyeri, Naya bahkan menghindar darinya, Naya yang lembut dan selalu tersenyum kini telah berubah.
__ADS_1
"Lis..bawa aku pergi dari sini" kalimat Naya lirih dan bergetar.