
"Untuk apa kau ke salon Elis, bukankah sudah ku suruh untuk istirahat di rumah."
Kendra menatap Naya tajam, meski wajah Naya selalu tersenyum namun sirat matanya menampkan kesedihan mendalam.
"Aku kangen, kapan lain ada kesempatan untuk bertatap muka saling mengobrol dengan Elis" jawab Naya bohong.
Kendra menganggukan kepalanya dan kembali fokus pada jalanan.
Di depan salon, Elis sudah menunggu dengan senyum bahagia, wajah tampan Kendra selalu ia rindu siang dan malam, meski pria itu hanya menganggapnya sebagai teman biasa.
"Heum kalian pulang bareng?" tanya Elis.
"Tidak, aku tadi mengobatinya, dan dia di ijinkan pulang awal oleh Pak Januar setelah merasa kepalanya pusing, kebetulan akupun hendak pulang jadi...kita pulang bersama" terang Kendra jujur.
"Oke terima kasih banyak ya Ken, Lu udah anterin gue ke sini" ucap Naya sambil melambaikan tangan.
"Gue nggak di suruh mampir nih" canda Kendra yang sebenarnya ia pun masih ingin bersama mereka, tapi raut wajah Naya mengisyaratakan mereka hanya ingin berdua.
"Ah hm kami mau ke suatu tempat" jawab Elis jujur.
"kalau begitu hati-hati lah kalian, aku pulang bye.." Kendra pun melambaikan tangan lalu pergi dengan kereta besi nya.
"Nay, apa keputusan Lu udah final?" tanya Elis.
Naya mengangguk pasti "Untuk apa mempertahankan rumah tanggaku jika hanya aku saja yang berusaha."
"Apa pun keputusanmu aku selalu bersamamu" ucap Elis sambil merangkul sahabatnya.
"Cepatlah, aku tak ingin lagi menunda waktu" Naya mengurai rangkulan Elis, ia sedang berusaha menetapkan hati agar tegar dalam langkahnya.
Keduanya memasuki mobil Elis yang terparkir di samping salon, Naya sudah memintanya untuk mencari sebuah rumah sederhana untuknya lewat pesan singkat, dan Elis pun sigap, dengan kekuatan dunia sosial media yang ia miliki, ada beberapa kandidat rumah yang di jual dengan harga terjangkau, namun biar bagaimana pun Elis masih harus meriksanya secara langsung.
"Ini kita lihat rumah yang di jalan X dulu yang paling jauh dari kerjaan Lu?" tanya Elis.
Naya mengangguk menurut saja.
"Coba Lu lihat di gambar yang gue kirim, sesuai nggak sama selera Elu?"
Naya mengamati sebentar namun ia tetap belum pasti karena gambar sama realita terkadang berbeda.
Dan benar saja, sesampainya di lokasi, rumah tersebut tampak jauh dari yang terlihat di gambar, kayu dan plafon yang sudah rapuh sangat berbahaya jika tidak segera di ganti, dan Naya tak ada anggaran biaya untuk hal itu karena memang ia mencari rumah untuk keadaan darurat.
"Kita coba ke tempat yang lain ya Nay? Letaknya cukup dekat dengan kantor Elu tapi lokasinya ada di area padat pemukiman" terang Elis.
"Ehm kita coba aja lihat dulu" jawab Naya berharap.
Kembali Elis melajukan kereta besi menuju lokasi rumah ke-dua.
__ADS_1
Baru sampai di lokasi gang rumah pun mereka sudah di sambut dengan banyaknya anak-anak bermain di tepi jalan, di tambah dengan sempitnya bahu jalan membuat gerak mobil merayap lambat.
Naya mengedarkan pandangan mencari wujud rumah yang ada dalam foto.
"Sempit banget jalan nya Lis" ujar Naya.
"Ho oh, mana banyak bocil lagi, tukang jajanan gerobak bejibun banget ...sayang banget kalau mobil Gue lecet-lecet" sesal Elis.
Tiba-tiba mata Elis terfokus pada salah satu rumah yang tampak kosong.
Namun kembali keduanya menelan kekecewaan, rumah kosong tersebut penuh ramai oleh pedangan jajanan yang mangkal, mereja dengan bebas berdagang di gepan rumah tersebut karena memang di sekitarnya tak ada tempat lahan untuk berjualan.
Elis bisa melihat raut wajah Naya yang kembali kecewa karena rumah tersebut pun belum sesuai harapamnya.
"Hari ini dua dulu ya Nay, besok kita cari lagi semoga saja kita nemu."
Naya mengangguk meng iya kan.
"Apa Lu bener udah mau jual apartemen Elu itu?"
"Iya Lis, Gue pingin punya tabungan, se enggaknya jika nanti tabungan Gue udah di beliin rumah, otomatis Gue nggak punya pegangan nih, nah hasil jual apartemen itu mau Gue tabungin dan buat membeli perlengkaoan ruamh tangga" jawab Naya diplomatis.
"Kenapa Elu nggak tinggal saja di apartemen Elu?"
Naya menggeleng cepat.
"Gue pengin punya rumah sederhana yang punya halaman untuk nanti Gue tanam bunga-bunga dan juga Gue ingin buat taman kecil" mata Naya menerawang membayangkan rumahnya yang berada di kampung dan masih banyak pepohonan hingga udara terasa sejuk dan asri.
"Gue sampai sini aja ya Nay, sorry" sesal Elis karena sore ini salonnya harus tutup buku.
"Heum, terima kasih banyak ya Lis, udah bantu gue, bye..."
Naya memandang kepergian mobil Elis hingga menjauh.
Memasuki ruangan apartement yang mewah namun sepi dan hening, Naya merasa sangat kesepian, apalagi dengan sikap Danu yang juga acuh dan dingin.
Ceklek.
Deg.
Ternyata Danu sudah berada di ruang tengah sambil memegang benda tipis persegi panjang miliknya.
"M mas sudah pulang?" tanya Naya gugup.
"Heum" jawaban singkat Danu seperti biasa.
Naya pun melangkah ke dapur untuk mengambil minum.
__ADS_1
"Sudah berapa lama kau bekerja dengan pria itu?."
"Maksud Mas Danu, Pak Januar?" Naya balik tanya.
"Siapa lagi, memangnya bos mu ada berapa?" sambung Danu kesal.
"Jika dengan Pak Januar baru sekitar satu bulan, sebelumnya jabatan CEO adalah sahabatku, Kakak dari Pak Januar" terang Naya.
"Pantas kalian terlihat cukup dekat, bahkan dia tampak perhatian padamu" ucap Danu sinis.
Naya mengerutkan alisnya mendengar kalimat sindiran Danu.
"Aku memang sahabat dekat dengan Kakak pak Januar mungkin beliau pun menganggapku sebagai Kakak nya sendiri" jawab Naya.
"Ck siapa tahu di belakangku kalian ada hubungan lain" kalimat Danu semakin membuat kuping Naya panas.
"Apa maksudmu Mas?sungguh aku dan pak Januar hanya sebatas karyawan dan atasan saja, tak lebih."
"Tapi dia sangat perhatian padamu, bahkan dia rela menyingkat meeting hanya karena kau sedang sakit."
Naya tertegun, ia baru menyadari arah mana kalimat Danu.
"Beliau memotong waktu meeting bukan karena aku saja Mas, memang karena materi sudah selesai dan semua sesuai rencana maka untuk apa lagi membuang waktu memperpanjang meeting" bela Naya.
"Oohh bahkan kau pun membelanya ha ha ha..."tawa Danu kecil namun terdengar begitu mengejek.
"Mas meski hubungan kita hanya sebatas suami istri di atas kertas aku sama sekali tak pernah menghianati ikatan suci ini, biarpun kau tak pernah menganggapku sebagaimana seorang istri tapi aku tetap menghormatimu Mas" Naya membela diri kesal rasanya ia di rendahkan oleh suaminya sendiri.
"Hah, dalamnya hati siapa tahu, bahkan dengan asistenku saja kau begitu perhatian" timpal Danu lagi.
"Mas...! cukup..!kenapa kau tega memfitnah aku seperti itu, aku bukan wanita murahan seperti yang kau sangka, tega kamu Mas" Naya tak kuasa menahan perih di hatinya.
"Aahh, kau sangat pandai sekali bersilat lidah, aku tahu akal licikmu...kau memutar balikkan fakta, kau memfitnah wanita yang aku cintai, kau pasti sudah merencanakan hubungan kami agar hancur" Danu semakin meninggikan suaranya.
"Apa maksudmu Mas?" tanya Naya dengan tatapan mata tajam.
"Huh, kau pasti sudah bersekongkol dengan Sam, foto rekayasa yang kalian buat tak akan membuatku percaya, akal licikmu sudah bisa ku baca..."
"Atas dasar apa kau memfitnahku seperti itu Mas?" teriak Naya.
"Ahh sudahlah mengaku saja kau, akupun akan memaafkanmu, tapi ingat ... Jangan pernah lagi kau berani memfitnah wanitaku, atau lebih baik kita berpisah sekarang juga, toh kaupun akan bebas bersama dengan para kekasihmu di luar sana."
Kalimat Danu membuat Naya terdiam.
Entah apa yang membuat suaminya begitu mara, bahkan menuduhnya telah bersekongkol dengan asisten Sam.
"Apakah harus secepat itu Mas,sungguh aku tak pernah berbuat seperti yang kau tuduhkan..."Naya berusaha menenangkan Danu.
__ADS_1
"Tidak aku tak percaya semua ucapanmu, mulai sekarang kita berpisah...dan untuk orang tua kita, kau jangan khawatir, aku yang akan mengatakan secara langsung pada ibu mu...dan juga, aku akan mengganti semua uang yang telah ibu mu keluarkan untuk menyelenggarakan pesta akad nikah kita, bahkan akan kuganti beserta bunganya, jadi setelah kita berpisah pun kalian tak perlu khawati akan kekurangan uang, aku akan memberi kompensasi yang cukup untukmu dan keluargamu hidup, tanpa harus bekerja keras..."Danu berucap lantang lalu pergi ke kamarnya.
Air mata Naya akhirnya lolos dari sudut matanya, hati nya bagai remuk tak berbentuk, pernikahan yang ia harap hanya sekali seumur hifup bahkan harus berakhir hanya dalam hitungan minggu.