
Tak tok tak.
Dua pria bertubuh tegap datang dengan membawa beberapa tote bag di tangan mereka.
"Ini kado yang Bos minta" ucap salah satu pria tersebut menunduk hormat sambil menaruh tote bag di atas meja di hadapan Naya.
"Ini hadiah kecil dariku, ku harap kau suka, untuk mas kawin kau tinggal bilang apa yang kau ingin, akan aku beri" ucap Daniel pasti.
"T tapi apa ini, dan siapa yang akan menikah?" tanya Naya panik.
"Bukan kah ibumu sudah mengatakan kalau aku akan melamarmu, dan dia menyetujui kalau kita akan menikah" terang Daniel jujur.
"Tapi aku tidak menyetujuinya"jawab Naya cepat.
"Kau harus menerima lamaranku, karena itu yang aku mau, tak ada yang bisa menolak keinginanku" ucap Daniel masih dengan percaya diri.
"Untuk sementara aku akan tinggal tak jauh darimu, jadi ku harap kau bisa menjaga dirimu untuk tidak bergaul apa lagi dekat dengan lelaki lain, karen aku sangat tidak menyukainya,ingat baik-baik pesanku, aku pergi ...sayang" Naya mengepalkan tangannya, sungguh pria yang amat kurang ajar, sudah berapa banyak sang ibu menerima hadiah dari Daniel karena telah menerima pinangan tanpa persetujuan darinya.
Daniel pergi dengan kawalan dua pria bertubuh tegap, sungguh laku dan gayanya jauh dari citra seorang anak lurah yang sederhana.
Naya memandang tote bag di depannya, dengan hentakan kesal ia mengambil dan membawa tanpa memeriksa isinya terlebih dahulu, akan ia kembalikan nanti pada Daniel, pikir Naya.
Di apartemen Naya masih berusaha menghubungi nomor Daniel tapi ponselnya saat terus saja gagal menghubungi nomor tersebut.
"Sialan brengsek....kenapa tidak aktif" umpat Naya.
__ADS_1
Lalu ia menghubungi Ningsih ibu tirinya namun sama saja tidak On, ibunya memang jarang mengaktifkan ponsel karena menurutnya tak penting komunikasi lewat dunia maya kecuali yang menghasilkan uang.
Seharian Naya menghabiskan waktu di depan televisi sambil rebahan, hingga ketukan pintu membangunkannya.
Ceklek.
"Halo mbak Nay, aku datang....kamu masih sakit Mbak? nih aku bawani sop sama bubur sama salad buah" ucap Vega semangat mengeluarkan makanan yang baru ia beli sepulang dari kantor.
"Wah jadi repot nih,..."
"Ahh nggak kok, ayo sekalian kita makan bareng"Vega menata makanan di meja makan.
"Lho Mbak, kamu kenapa jalannya agak pincang gitu?"tanya Vega panik.
"Eh hm a anu ...tadi agak terkilir waktu baru bangun"elak Naya dengan wajah gugup.
"Hm tidak perlu Ga, nanti aku oles minyak juga sembuh, ini hanya salah gerak saja" tolak Naya, mana mungkin kakinya yang di urut kalau yang sakit sebenarnya bagian lain, ia membatin.
Keduanya menikmati makan dengan lahap, hingga sore menjelang malam, Vega pun pamit, namun tatapan matanya tiba-tiba teralihkan ke beberapa tote bag yang tergeletak di lantai di dekat rak sepatu.
"Lho Mbak, kapan belanja nya kok nggak ajak-ajak aku" pekik Vega histeris seraya menghampiri tote bag dan membukanya spontan.
"Ah Ga jangan..." teriakan Naya terlambat karena Vega sudah terlebih dahulu mengeksekusi hadiah pemberian Daniel tersebut.
Mata Vega berbinar terang saat melihat banyak benda bermerk terkenal berada di dalam tote bag tersebut.
__ADS_1
Sepasang sepatu cantik, tas mungil dan jam tangan mewah membuat Vega semakin terkagum-kagum.
"Waah uangmu banyak sekali Mbak Nay, ck ck ck.....habis berapa kau belanja ini semua Mbak?" tanya Vega dengan decak kagum tiada henti.
"Itu hadiah dari orang Ga, bukan uangku..."
"H a d i a h...dari siapa Mbak, aduh mau dong dapet hadiah seperti ini, siapa orangnya Mbak?"
"Hm Daniel" jawab Naya singkat.
Ddrtt drrt.
"Ya halo Ayah,...oh oke aku pulang sekarang Yah" ..panggilan rupanya menyuruh Vega untuk segera pulang.
"Mbak aku pulang ya..." Vega dengan tergesa meninggalkan apartemen karena panggilan sang Ayah.
Sepeninggal Vega, apartemen kembali sepi, Naya membersihkan peralatan makan lalu membersihkan tubuhnya.
Suasana sore yang cerah dengan sinar rembulan penuh, membuat Naya tertarik memandang indahnya bulan dari jendela balkon yang sengaja ia buka.
Ia ingin segera menghubungi Ningsih sang ibu, tapi nompr kontaknya masih tak aktif.
Pria yang mengaku bernama Daniel itu kemungkinan besar adalah lelaki yang Ningsih jodohkan untuknya.
Meski seorang anak lurah dari desa tapi gaya dan tingkah Daniel jauh dari kata sederhana, baju dan barang yang melekat di tubuhnya semua berharga mahal, apalagi dengan hadiah yang sudah ia berikan untuknya.
__ADS_1
Merasa matanya mulai sepat Naya pun beranjak ke kamarnya untuk merebahkan tubuh, sukurlah rasa tak nyaman di daerah intinya sudah jauh berkurang jadi besok ia bisa bekerja.