
Danu yang hanya memakai handuk tak bisa menggerakan tubuhnya dengan leluasa karena Silvy memeluknya dengan erat.
Bunyi bel pintu yang ia kira Sam yang datang, ternyata Silvy.
"Sayang, honey ...plis maafin aku" pekik Silvy yang terus memeluk Danu erat.
"Jangan pernah lagi kau memanggilku dengan sebutan seperti itu lagi, jijk aku mendengarnya brengsek" suara Danu bergetar karena amarah yang membuncah.
"Baiklah..tapi ijinkan aku bicara dulu."
"Lepaskan tangan kotormu dariku sialan..." maki Danu keras, tapi Silvy bagai lintah yang terus membelit tubuhnya tak bisa lepas.
"Aku tak akan melepasnya sebelum kau ijinkan aku untuk bicara Mas."
"Ishh brengsek..."Danu kini semakin dilema.
Jika ia terus menggeliatkan tubuhnya untuk melepaskan diri dari pelukan Silvy, sudah pasti handuk akan lepas dari pinggangnya.
Meski darahnya panas membara tapi Danu berusaha untuk tenang.
"Mas, sebenarnya saat itu aku di jebak mas..." tutur Silvy memulai siasatnya.
Danu hanya diam tanpa kata, ia akan memberi silvy kesempatan untuk menjelaskan, apa yang akan ia jadikan alasan untuk membela dirinya.
"Saat itu aku begitu merindukanmu, tapi aku tak bisa datang ke apartement yang pasti akan membuat istrimu terluka, aku melampiaskan rasa rinduku pada minuman kesukaanku di bar, dan saat itulah dia datang dan memberikan aku obat laknat yang akhirnya membuatku tak sadar mas.."
Danu masih tak memberikan reaksi, pada apa yang Silvy katakan.
"Sungguh mas, aku di jebak..hiks" Silvy mengeluarkan jurus pamungkas yang selalu berhasil.
"Mas, apa kau tak percaya padaku...apa aku sudah ada lagi di hatimu mas huu huuu."
"Sudahlah dan tolong lepaskan aku."
"Tidak, aku tak akan melepaskanmu jika kau tak memaafkanku"protes Silvy.
"Mas apa kau lupa, kisah kasih kita selama ini? Apakah bisa hilang semudah itu mas..."
Danu terdiam, di hatinya paling dalam memang masih ada setitik rasa yang masih bersemayam di hatinya, rasa cinta yang begitu dalam pada Silvy, wanita yang menjadi kekasihnya selama lebih dari dua tahun lamanya.
"Tataplah aku Mas, dan katakan jika memang kau sudah membenciku, katakan bahwa kau sudah tak mencintaiku lagi..agar aku bisa pergi membawa cinta yang selalu ku jaga di hatiku"
"Dengar Sil, di antara kita memang sudah selesai, kita tak bisa bersatu lagi"hardik Danu.
"Benarkah mas, benarkah tak ada maaf untuku...hiks"Silvy luruh di kaki Danu, tangisnya begitu menyayat hati.
"Bangunlah Sil.."Danu menundukan badan dan meraih tubuh Silvy, dan saat itu lah Silvy tak membuang kesempatan, dengan cepat ia kembali memeluk Danu erat.
__ADS_1
Bahkan dengan kini Silvy memagut dan menyambar bibir Danu dan ********** dengan panas.
Danu sontak berontak namun ******* Silvy begitu erat bahkan sesapan demi sesapan kecil berubah semakin penuh gairah.
Jika semula Danu berontak, semakin lama akhirnya pria itu mulai ikut terhanyut dengan perasaan yang kembali hadir dalam dadanya.
Silvy tersenyum puas dalam hati, Danu mulai membalas ciumannya bahkan pria itu semakin buas ******* bibir Silvy.
Namun tanpa di sadari keduanya.
Brakk.
Ciuman keduanya terurai saat suara keras mengagetkan Danu dan Silvy dari arah pintu yang terbuka.
"N naya....." pekik Danu saat di lihatnya air mata Naya menganak sungai dari sudut mata indahnya.
Karena pintu yang masih sedikit terbuka, membuat Naya bisa melihat adegan dengan jelas di mana Danu tengah mencium Silvy penuh gairah.
Tak menghiraukan tongkat penyangganya yang terjatuh, Naya berlari menuju Lift yang kebetulan membuka.
"Non Naya...k kenapa Non?" Sam yang berpapasan dengannya terkejut karena melihat Naya dengan bercucuran air mata hendak masuk ke dalam.
Tanpa menjawab kalimat Sam, Naya cepat memencet tombol hingga panelpun tertutup.
"Naya..Sam kejar dia" teriak Danu membuat Sam bingung.
"Bos, tahan bos..sabar, nina ninu nya nanti dulu jika kalian sudah kembali bersatu" ucap Sam santai tanpa tahu apa yang terjadi.
"Heh blekok, siapa yang mau nina ninu....cepat kejar dia" hardik Danu kesal.
"T tapi....kenapa non Naya menangis bos?" tanya Sam, dan saat itulah Silvy muncul di belakang Danu.
Sam menghela nafas kasar, kini ia sudah tahu apa yang membuat Naya terlihat begitu hancur.
"Dasar wanita iblis.." geram Sam sambil berlari menyusul Naya yang kebetulan panel lift sudah kembali terbuka.
"Maafkan aku mas"ucap Silvy lirih dengan wajah penuh sesal, namun siapa sangka jika di hatinya sedang bersorak girang
Danu tak menghiraukan ucapan lirih Silvy, ia berlari masuk kembali ke kamarnya untuk memakai baju.
Secepat kilat Danu berlari menyusul Naya setelah memakai celana dan kaos.
Sementara itu Sam hanya berdiri lemas di tepi jalan saat melihat mobil taxi yang membawa Naya menghilang.
Ciiittt.
"Sam di mana dia?"tanya Januar yang keluar dari mobil dengan tergesa, ia sangat terkejut saat Vega yang datang ke kantor membawa lamaran mengatakan bahwa Naya pergi menemui Danu.
__ADS_1
Tanpa memperdulikan meeting yang akan di pimpinnya Januar meninggalkan perusahaan untuk menyusul Naya.
"Dia sudah pergi tuan, cepat ikuti taxi biru itu?" titah Sam yang tanpa sadar ia telah memerintah seorang CEO.
Januar pun melajukan mobilnya menyusul taxi yang membawa Naya, ia bahkan tak sempat menanyakan apa yang terjadi pada asisten Danu itu.
Melihat wajah panik Sam, pastilah terjadi sesuatu pada Naya.
Januar memacu mobil dengan kencang, perasaannya sungguh cemas, ia sempat melihat Naya berlari keluar dari gedung apartemen tanpa memakai tongkat penyangganya.
Meski mengerahkan seluruh kemampuan menyetirnya tapi Januar tak bisa menyusul taxi yang membawa Naya, ia tetap tertinggal cukup jauh.
Sementara itu,Naya hanya bisa duduk di kursi penumpang dengan tatapan kosong ke depan, hatinya begitu sakit, harapan bahwa rumah tangganyya akan membaik tapi ternyata Danu kembali menghianatinya.
Bahkan kini ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri, mereka berciuman sangat panas dengan Danu yang hanya memakai handuk menutupi pinggangnya.
"Sudah sampai mbak" ucap sopir taxi lirih, ia tak tega mengagetkan penumpangnya yang terlihat melamun.
"Mbak, apa mbak sakit?"sambungnya lembut, Naya terlihat tak baik-baik saja.
Dengan wajah tanpa ekspresi Naya membuka pintu mobil setelah menyerahkan uang pada sopir.
"Mbak lebihannya mbak.."pengemudi menyusul Naya.
"Ambil saja pak, buat bapak"jawab Naya singkat.
"Terima kasih mbak..." ucapnya gembira.
"Apapun yang sedang menimpamu, bapak harap kau bisa melaluinya dengan sabar mbak" do'anya lirih penuh haru.
Naya melangkah menuju deretan ruko di mana terdapat salon Elis.
Beberapa pengunjung menatap Naya aneh, kakinya yang berbalut perban tampak berwarna merah tanda darah keluar dari luka nya.
Namun Naya tetap melangkah dengan tenang, ia tak merasa sakit di kakinya yang kembali berdarah, ia seakan lupa jika luka kakinya masih basah.
"Mbak Nay ...dari mana mbak, kaki mbak Nay kenapa? aduh mbak..."pekik salah satu karyawan salon yang melihat kedatangan Naya dengan kaki berdarah.
Karyawan lain berlari menyongsong Naya yang tetap tenang berjalan santai.
"Cepat hubungi mbak Elis.." titah salah satu karyawan, rupanya Elis sedang tak ada di salon.
"Naya...tunggu."
💜💜💜💜💜💜
Jangan lupa suportnya yaa..biar ngothor semangat lagi up nya 😘😘😘😘
__ADS_1
Like, vote dan komen say bestiee 🤗🤗🤗🤗