Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Perasaan Hati Januar


__ADS_3

Bluss...


Wajah Naya seketika merah merona, ada rasa aneh berdesir di dadanya, rasa bahagia yang tak dapat ia ungkapkan, baru pertama kali Januar menyanjungnya, kalimat singkat namun membuat dunia Naya menjadi berwarna.


Dres berwarna nude dengan model lengan sebatas tiga perempat ber motif bunga sakura, terlihat pas di tubuhnya yang ramping, bahkan potongan rambutnya yang pendek membuat wajahnya semakin bertambah imut.


Januar berdiri dan masih memandang wajah Naya yang terlihat malu-malu menggemaskan.


"Jadilah miliku.."ucapnya lirih.


Mata indah Naya membulat, ia melihat jendela lalu ke dinding yang terdapat jam besar.


"Kau cari apa?"tanya Januar yang melihat wajah bingung Naya.


"A apa tadi pak Jan bilang, saya kira saya salah dengar" ucap Naya mencoba menenangkan debaran jantungnya dan mencari kebenaran apakah pemdengarannya baik-baik saja.


"Kau tidak salah dengar, aku ulangi lagi...jadilah milikku" ulang Januar.


Naya menggeleng tak percaya, begitu tiba-tiba Januar mengungkapkan perasaannya, perasaan yang sama sekali tak pernah Naya duga.


"I ini tidak benar, pak Januar jangan mempermainkan saya..." Naya melangkah mundur perlahan, sementara Januar semakin memajukan langkahnya.


"Tak tahukah kau isyarat yang selama ini aku perlihatkan padamu, sadarkah kau dengan semua perhatianku selama ini....tahukah kau semua yang aku lakukan bukan karena perhatian dari seorang yang menganggapmu seperti kakak, tapi perhatian seorang laki-laki pada perempuan yang dia sukai" Januar menatap Naya tajam.


"P pak Januar sebaiknya berfikir lagi, dan jika itu benar, sebaiknya mulai saat ini pak Januar hilangkan perasaan itu, saya mohon ..saya tidak..."


"Dengar Naya..dengarkan aku,aku sudah berfikir ribuan kali, sudah ribuan jam aku mempertanyakan tentang perasaanku selama ini, dan aku yakin kalau perasaan itu memang benar, aku menyukaimu Kanaya Dewanty."


"T tapi..."Januar semakin memajukan langkahnya hingga kini jarak kian terkikis membuat Naya tersudut ke dinding tembok.


"Aanda salah, perasaan anda tidak benar ..." kalimat Naya lirih sambil menggelengkan kepalanya.


Tok tok tok.


Tubuh Januar terhuyun ke belakang saat Naya mendorongnya keras.


Ceklek.


"Waaah ternyata perusahaan Tinar Perkasa begitu luas, pegal kakiku meski hanya mengelilingi separuh gedung ini"ucap Vega antusias.


"Kenapa hanya lihat separuh gedung?"Januar menimpali dengan ketus.


"Mungkin besok kalau aku sudah mulai bekerja kak" jawab Vega santai.


"Mbak Nay, kau kenapa? Mukamu merah? Kau sakit" Vega berucap sambil meneliti wajah Naya yang merah merona.


Naya menggeleng pelan lalu menarik tangan Vega.


"Ayo kita pulang sekarang" ucapnya sambil berlalu.


"Tunggu mbak Nay, aku pamit dulu sama calon bosku,kak Jan aku pamit ya.."

__ADS_1


"Mulai besok panggil aku 'Bapak'."


Vega mengangguk cepat sambil mengadukan jempol dan telunjuknya membentuk huruf O.


Kini Jefri hanya berdiri termenung, wajah merah dan sikap Naya sangat aneh.


"T tuan, mbak Nay kenapa?"tanya Jefry ragu.


"Tanya saja sendiri."


Brakk, Januar membanting pintu lalu keluar ruangan dengan wajah kesal.


"Eh buset blekok..."pekik Jefry sambil mengusap dadanya.


"Nasiib nasiib , begini nasib jadi kacung....selalu teraniaya" pria bertubuh kekar itu bermonolog sendiri.


Drrt drt.


"Jef bawa semua dokumen kembali ke ruanganku."


Jefry melirik setumpuk dokumen di atas meja yang rupanya belum di sentuh Januar.


Selama ia berada di ruangan itu apa saja yang ia kerjakan hingga dokumen penting itu terabaikan, sebenarnya ada apa denganmu Tuan.


Sementara itu Naya diam membisu di sebelah Vega yang masih berceloteh riang.


Gadis itu terlihat sangat bahagia, bahkan sopir pribadinya pun ikut senang melihat putri atasannya bisa magang di sebuah perusahaan besar.


"Baik Non, kalau saja putra bapak sudah kerja saya mau jodohin sama mbak cantik ini" pak Harun melirik ke kursi belakang.


"Ah bapak bisa aja, mbak Naya sudah punya suami pak"timpal Vega sambil menyikut tangan Naya namun sang empunya tampak melamun.


"Hah saya kira masih gadis, wah maaf ya non" sesal Harun sambil menundukan kepalanya dan melirik kursi penumpang.


"Mbak Nay, tuh pak Harun minta maaf" kembali Vega menyikut Naya kali ini sedikit hentakan keras.


"Ah e apa Ga?"


"Ish mbak Nay ngelamunin apa sii, dari tadi bengong mulu, apa pak Januar sudah jahatin mbak Nay?"pertanyaan Vega membuat Naya terkejut.


"T tidak Ga..."jawabnya gugup.


"Mbak kita makan-makan dulu yuk, buat ngerayain aku magang he hee."


"Ehm aku lagi nggak mood Ga, mungkin lain kali aja ya, lagian kalau jalan masih pake tongkat gini kayaknya kurang nyaman."


"Hmm baik mbak, oiya apa kaki mbak Nay sudah sembuh?"


"Sudah Ga, mungkin besok juga sudah bisa jalan tanpa tongkat"Naya tak ingin mengatakan kalau perintah supaya tetap menggunakan tongkat adalah titah dari Januar yang tak mungkin bisa terbantah.


"Oke mbak."

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Naya lebih banyak diam, ia masih memikirkan ungkapan perasaan Januar padanya.Ia sungguh tak menyangka kalau adik sahabatnya itu mengimpan perasaan padanya.


Apa yang akan terjadi nanti jika Tiwi mengetahui hal itu, apalagi keluarganya yang sudah sangat baik pada nya.


"Ayo mbak turun" ucapan Vega mengagetkan Naya hingga terjingkat.


"I iya.."


Keduanya memasuki apartemen dengan suasana hati yang berbeda, Vega yang sedang di landa bahagia karena akhirnya lamaran magangnya di terima sedangkan Naya merasa gundah gulana karena baru saja ia menerima ungkapan perasaan dari atasannya yang tak lain adik sahabatnya sendiri.


Ceklek.


Vega menghempaskan tubuhnya di sofa panjang sedangkan Naya langsung ke dapur untuk mengambil minuman di kulkas.


Glek glek glek, segelas minuman dingin Naya teguk tanpa sadar.


Vega melihat Naya dengan alis berkerut, tak biasanya Naya minum air dingin, biasanya ia sangat pantangan dengan minuman dari lemari pendingin.


Ceklek.


Otak Naya masih belum bisa menerima ungkapan perasaan Januar, hatinya masih menolak keras hal itu.


Setelah membersihkan tubuh Naya keluar dari kamar, meski raga di apartemen tapi pikiran Naya masih melanglang buana di entah berantah, bahkan tatapannya masih terlihat kosong.


"Makan mbak Nay, mbak Vega" tawar Bu Heni.


Ketiganya pun menikmati makan bersama dengan suasana hening.


Bu Heni mengedikan alisnya pada Vega, isyarat bertanya apa yang terjadi pada Naya, namun vega hanya menjawab dengan gelengan kepala.


"Mbak Nay mau kemana?"tanya Vega melihat Naya langsung pergi ke kamar setelah menyelesaikan makannya.


"Tidur" jawab Naya singkat.


"Besok pagi kita jalan pagi ya Mbak, mumpung hari libur"ajak Vega penuh harap.


Naya mengangguk meng iya kan.


"Mbak Vega, itu mbak Naya kenapa si, kok sikapnya aneh?."


"Tauk Bu, aku pun bingung, sejak pulang dari kantor, Mbak Nay sikapnya jadi pendiem" tutur Vega jujur.


Pukul enam Januar pulang, dan matanya langsung mencari sosok yang sudah membuat dunianya jungkir balik.


"Bu Hen, Naya mana?"tanya nya karena hanya melihat Bu Heni dan Vega sedang asik menonton televisi.


"Ada di kamar Mas."


Januar melirik pintu kamar Naya yang tertutup lewat sudut matanya.


Ck, pasti dia menghindar lagi, awas saja kalau kau sudah ku miliki, tak akan ku biarkan kau pergi dari sisiku satu jengkalpun.

__ADS_1


__ADS_2