Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Dahlan dan Jeremy


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Naya kini mood Januar meningkat tajam, bibirnya bahkan tak henti menyunggingkan senyum manis.


Tatapan matanya yang biasanya dingin dan acuh, kini terlihat ramah bersahabat.


Ujo yang mengetahui apa penyebab Januar berubah hanya bisa tersenyum masam, keberadaan Naya sungguh merupakan moodboster terbaik bagi Januar.


Sementara itu Daniel yang berada di kamar hotel, tampak fokus dengan laptop di depannya.


Beberapa anak buah berhasil mendapat informasi tentang Januar, pemimpin PT.Tinar Perkasa yang sekaligus atasan Naya.


Daniel tersenyum masam, wajah Naya selalu terlihat bahagia saat bersama Januar, banyak foto dan rekaman CCTV memperlihatkan kedekatan keduanya, entah kenapa denyut dadanya terasa nyeri kala Naya tersenyum di depan Januar, sedangkan saat bersamanya, Naya begitu dingin dan ketus.


Apa kau lupa saat masa kecil kita Nay, Daniel membatin.


Di ambilnya foto kecil dari dalam dompetnya, foto di kala Naya masih duduk di bangku sekolah dasar sedangkan dirinya sudah berseragam putih biru, masa di mana mereka sering bertemu dan berkumpul bersama Setyo, almarhum sang ayah


Daniel tersenyum masam, ia masih ingat Naya adalah anak yang sangat berbakti, ia sangat menyayangi sang Ayah, apapun larangan selalu ia taati bahkan apapun akan ia lakukan agar ayahnya senang.


Haruskah aku menunjukan foto ini padamu, agar kau tahu bahwa ayahmu menyetujui perjodogan kita.


Daniel mengusap lembaran foto di tangannya, andai ia tahu akan seperti ini ia tak akan mau melanjutkan sekolah di luar negri dan meninggalkan Naya yang akhirnya di jadikan sapi perah oleh ibu tirinya.


Andai ia tahu bahwa Ningsih akan menjodohkannya dengan seorang pria brengsek yang hanya membuat sengsara Naya kecilnya.


Dan masih banyak penyesalan di hati Daniel karena keputusan yang di ambilnya dahulu.


Drrt drrt.


"Ya Ayah..."sapa Daniel hangat.


"Gimana kabarmu Nil, apa sudah kau bertemu dengan Naya, cepatlah bawa dia ke mari, Ayah ingin berjumpa dengannya" ucap Dahlan di ujung telepon.


Daniel menghela nafas berat.


"Tenang saja Ayah, aku sudah bertemu dengannya, tapi ku lihat dia masih sangat sibuk, mungkin setelah urusannya selesai baru aku bisa membawanya"bohong Daniel.


"Apa kau perlu bantuan Ayah heum?"tanya Dahlan lembut.

__ADS_1


"Tidak perlu Ayah, biar putramu ini yang akan mengatasinya" jawab Daniel lirih, meski dalam hati, ia pun tak tahu apakah ia akan berhsil membawa Naya ke rumahnya.


"Baiklah, kami semua menunggu kabar baik darimu."


Daniel menutup ponselnya lalu melihat jam di pergelangan tangannya.


Ia ada janji dengan Aslan yang sudah menunggunya di lobi hotel, ia akan mengajaknya bertemu dengan calon mertua yang baru datang dari KL.


Dan senyum Aslan terbit saat Daniel muncul dari lift.


"Ayo kita langsung cabut" ujar Aslan tak sabar.


"Cih tidak sabar sekali kau bro"umpat Daniel kesal mengikuti Aslan.


"Sebagai calon menantu yang baik, Gue harus tepat waktu, agar restu mereka mudah Gue dapetin."


Daniel hanya mencebik kesal.


"Mana mobil Elu?" tanya Daniel.


"Noh yang kuning, nomor tiga dari kanan"tunjuk Aslan.


"Kita langsung ke apartementnya saja nggak lama kok" terang Aslan.


"Kenapa sebentar doang?"


"Sekedar say helo, takut mereka masih lelah, mungkin baru besok Gue datang lebih resmi."


"Ciee cieee...yang mau minta restu sumringah banget tuh muka" canda Daniel membuat Aslan tersenyum masam.


"Tapi hatinya belum gue dapetin bro, susah banget" keluh Aslan jujur.


"Hmm mau butuh bantuan?"tanya Daniel.


"Ah tidak perlu, gue pasti bisa dapatin dia tak lama lagi."


Daniel mengangguk bangga, Aslan memang sahabatnya yang selalu percaya diri dan penuh perhitungan dalam setiap caranya untuk meraih apa yang ia ingin.

__ADS_1


Dengan jantung berdebar Aslan melangkah beriringan dengan Daniel memasuki lobi apartement Tiwi, satu tote bag ia genggam dengan hati-hati yang rencananya akan ia berikan pada calon mertua.


"Rileks bro..." ujar Daniel bijak, ia tahu saat ini Aslan sangat gugup, terlihat dari tangannya yang tak henti memilin tali tote bag yang di jinjingnya.


Teet.


Ceklek, senyum manis Tiwi menyambut Aslan dan Daniel.


Cukup terkejut Daniel saat melihat wajah Tiwi yang terlihat cukup familiar, bentuk bibir dan matanya mengingatkan pada sese orang.


"Kenalin temen Gue Wi, Daniel " sapa Aslan yang di balas anggukan ramah lalu Tiwi menyodorkan tangan bersalaman.


"Ayo masuk..apa ini Lan?"tanya Tiwi saat Aslan menyerahkan tote bag padanya.


"Oleh-oleh buat Ayah sama Ibu" bisik Aslan lirih.


"Yaah, Ayaah, ada Aslan Yah, dia bawa oleh-oleh buat Ayah..."pekik Tiwi nyaring, membuat Jeremy yang berada di ruang televisi bangun dan menghampiri Aslan, ia memang banyak mengenal sahabat putrinya itu, termasuk Aslan.


"Hai Lan, apa kabarmu, wah repot-repot bawa oleh-oleh segala, harusnya Om yang ngasih kamu oleh-oleh .." sapa Jeremy ramah lalu mengulurkan tangan bersalaman.


"Nggak apa-apa Om, hanya sekedar makanan ringan dari daerah Bandung, saya ingat Om suka makanan itu" jawab Aslan hormat.


"Waah kau benar, terima kasih banyak Lan, oiya siapa dia? "tanya Jeremy menelisik Daniel.


"Teman Saya Om, Daniel " terang Aslan.


Daniel dengan hormat mengulurkan tangan.


Namun Jeremy tampak lama meneliti wajah yang pernah ia lihat itu.


"Sepertinya Om pernah lihat wajahmu?" tanya Jeremy pada Daniel, begitupun Daniel yang juga mengamati Jeremy dengan cermat.


"Om bukankah sahabat Ayah yang pernah datang ke kampung dulu bukan?" tanya Daniel ragu.


"Siapa nama Ayahmu?" tanya Jeremy antusias.


"Dahlan Om, Dahlan Sanjaya."

__ADS_1


Sepersekian detik Jeremy mematung menelisik wajah Daniel, lalu pria paruh baya itu memeluk erat tubuh Daniel sambil menepuk pundak pemuda tampan itu.


"Rupanya kau putra Dahlan, sudah dewasa kau nak" ucap Jeremy haru.


__ADS_2