Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Kau Membuatku Nyaman


__ADS_3

Pukul lima sore Januar menyelesaikan semua dokumen yang masuk ke meja nya.


Tok tok.


"Masuk" ucap januar.


Vega menunduk hormat lalu memberikan beberapa file di atas meja Januar.


"Mau pulang Ga?" tanya Januar.


"Iya Pak, tapi nunggu Mbak Naya dulu, di pantry nggak ada, di produksi pun nggak ada, ponselnya susah di hubungi" keluh Vega.


"Kamu pulang saja dulu, biar Naya nanti aku yang akan mengantarnya pulang."


"Baik Pak, terima kasih."


Vega berlari penuh semangat karena sejak tadi perutnya sudah sangat keroncongan.


Januar pun bergegas membuka kunci ruangan setelah memastikan tak ada lagi orang yang akan masuk ke ruangannya, dan senyum tipisnya terbit kala melihat Naya masih tertidur pulas di ranjang miliknya.


Posisi tidur yang sangat tidak anggun, bahkan bibir merahnya sedikit terbuka.


Ah ..kenapa kau malah terlihat sangat **** bahkan saat pose wajah jelekmu, batin Januar.


Ceklek.


Suara pintu yang tertutup membuat Naya bangun, Januar menghela nafas kecewa karena sebenarnya ia masih ingin menikmati pemandangan indah itu.


"Sorry mengganggu tidurmu" sesal Januar.


Naya tergagap dan bangun dari ranjang lalu melihat jam di pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Hah ...ya Tuhan, sudah sore...Vega pasti menungguku" pekik Naya panik sambil ke kamar mandi untuk membersihkan muka.


Tak lebih dari lima menit Naya kembali muncul dengan anak rambut yang basah.


"Sudah kukatakan padanya kalau tak usah menunggumu" ucap Januar lalu mengambil sepatu Naya yang berserarkan di lantai juga blazernya yang berada di headboard ranjang lalu memakaikannya dengan lembut.


"Ayo kita pulang, sebentar lagi gelap" sambung pria tampan itu lalu menggengam tangan Naya untuk keluar dari ruangan.


Dada Naya berdesir kala Januar seakan tak ingin genggaman tangannya terlepas darinya.


"Sst masih banyak orang, nanti mereka lihat kita" bisiknya lirih.


"Biarkan saja mereka tahu" ujar januar tenang sambil terus berjalan menuju parkiran mobil, beberapa kali Naya berusaha mengurai tangan pria itu namun usahanya sia-sia.


Dua satpam mengangguk hormat saat keduanya melewati pintu lobi perusahaan, begitu juga penjada gerbang, mereka tersenyum meliat keduanya.


Januar beberapa kali melirik Naya yang berada di sampingnya, ia selalu nenunduk dan menyembuntukan wajahnya dari tatapan orang-orang.


Wajah cantik dengan bibir mungil itu tampak cemberut.


Naya menggelengkan kepalanya, bibirnya pun terkatup rapat.


Januar tersenyum tipis, Naya saat mode merajuk sangat menggemaskan, bibirnya yang tipis dan imut membuatnya ingin sekali ia melahapnya.


Sesampainya di gedung apartemen, Naya turun dengan tergesa lalu melangkah memasuki lobi.


Hei, bahkan mengucap salam perpisahan pun dia tidak, geram Januar dalam hati, lalu pria itu pun turun dan mengikuti Naya masuk ke dalam lift.


Bukannya kesal karena di acuhkan sang kekasih, Januar justru merasa tingkah Naya begitu lucu.


Naya tetap diam mematung melihat Januar ikut masuk ke dalam lift, ia masih kesal dengan sikap Januar.

__ADS_1


Tii tiit.


Ceklek, Naya masuk di ikuti Januar di belakangnya.


"Kau masih marah?" tanya Januar polos lalu menarik pinggang ramping Naya hingga tubuhnya kini menempel padanya.


Naya mendengus kesal.


"Kau selalu saja bertindak tanpa berfikir, bagaimana nanti pendapat mereka yang tadi melihat kita, apa yang akan mereka pikirkan tentang dirimu, seorang CEO muda berjalan bergandengan tangan dengan seorang janda sepertiku apalagi aku baru bercerai belum lama, nama baikmu akan di pertaruhkan Januar..." ucap Naya panjang dan kesal, namun Pria tampan itu hanya tersenyum santai bahkan ia semakin mendekatkan wajah baby face nya hingga hidung mereka beradu.


"Semakin kau kesal kau semakin manis" gombalan Januar tak membuat kekesalan Naya sirna bahkan Naya menghempaskan tangan pria tampan itu hingga terlepaslah pelukannya.


"Sayang tunggu, oke maafkan aku, aku tak akan melakukan lagi" ucap Januar akhirnya.


Naya memandang januar intens, ia ingin mencari kesungguhan dari ucapannya, karena kalimat yang keluar dari mulutnya sungguh tidak bisa di percaya, janji yang Januar ucap hanyalah pemanis di bibir saja.


"Oke kali ini aku pegang janjimu tapi dengan syarat, jika sampai kau melakukan lagi maka lebih baik hubungan ini, kita akhiri sampai di sini."


Januar terdiam, benarkah yang di katakan Naya berasal dari dalam hatinya? Apakah hanya karena hal kecil seperti itu akan membuat mereka putus .


Apa yang harus aku lakukan agar kau tak pergi dariku.


"Kenapa diam? apa kau keberatan dengan yang aku minta?" tanya Naya ketus masih dengan wajah kesal.


"Aku hanya belum bisa memahami apa yang ada dalam pikiranmu, apa kau masih ragu tentang rasa cintaku hingga alasan kecil itu membuatmu marah dan ingin meninggalkanku?" tanya Januar sinis, ia sungguh tak suka jika Naya memintanya putus.


"Ini semua demi kebaikanmu, aku tak mau kau dan nama baik keluargamu rusak karena diriku, aku tak ragu dengan perasaanmu dan aku pun yakin tentang cinta yang ada dalam hatimu untukku , aku hanya masih memikirkan orang-orang di sekitarmu yang tentu tak akan memahami perasaan kita dengan mudah, apa kata mereka nanti" Naya tampak mulai histeris membuat Januar terhenyak, dengan gerak cepat Januar merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannnya lalu berkali-kali ia mendaratkan ciuman ringan di puncak kepala Naya dengan lrmbut.


"Sudah tenanglah, maafkan aku, aku benar-benar janji tak akan mengulangi hal bodoh itu,karena aku yakin kau pun mencintaiku dengan tulus" bisik Januar hangat.


Naya diam mengatur nafasnya di dekapan dada bidang Januar, hatinya terasa lebih lega, aroma maskulin menyeruak di indra penciumannya, begitu nyaman dan menenangkan.

__ADS_1


"Apa kau akan tetap memeluku?" tanya Januar yang melihat Naya tak juga melepasnya.


"Aku begitu nyaman di sini" ucap Naya sambil mengendus dada bidang Januar, karena sebenarnya detak jantungnya sedang bergerak sangat cepat.


__ADS_2