
Januar yang baru muncul dari kamarnya hanya berbalut handuk putih yang menutup sebatas pinggangnya tampak terkejut saat melihat orang lain berada di dalam apartementnya.
Begitu pula Naya seketika memalingkan wajahnya sudah merah merona bak kepiting rebus ke arah lain.
Meski ia seorang istri namun matanya tak pernah melihat tubuh seorang lelaki yang polos hanya berbalut handuk.
"Apa Kakakmu tak mengirim pesan padamu?" tanya Naya masih dengan memalingkan wajahnya.
"Tidak, tak ada pesan dari Kak Tiwi" jawab Januar gusar, sebenarnya sejak tadi ia belum sempat menge cek ponselnya.
"Ah kalau begitu aku pulang, i ini makan an yang a ku masak tadi."
Naya bergegas keluar dari ruang apartemen dengan dada bergemuruh kencang.
Di dalam lift Naya ber ulang kali mengusap dadanya, nafasmya masih memburu.
Sedangkan Januar hanya tersenyum gemas, asistennya seperti baru pertama melihat tubuh seorang lelaki saja, bukannya ia sudah sering melihat tubuh polos suaminya, pikir Januar.
Setelah memakai baju rumahan Januar melangkah ke ruang makan, melihat apa yang sudah Naya bawa untuknya, senyum tipis tersungging dari bibir merahnya.
Sop ayam, tumis daging dan bakwan jagung, itulah yang ada di dalam kotak makanan tersebut.
"Wangi" ucapnya mengenduskan cuping hidungnya ke arah masakan Naya.
Lumayan makan malam tak harus keluar duit, batinnya.
Suapan pertama membuat alisnya mengerut, apa karena lapar atau kah memang masakan Naya se enak itu.
Kembali Januar mencoba suapan di makanan yang lain dan rasanya pun sama, sangat enak dan mungkin di masak dengan metode sempurna hingga daging terasa begitu lembit dan bumbunya pun meresap.
Sudut bibirnya membentuk garis lengkung menikmati masakan rumahan membuatnya rindu pada sang ibu, sungguh enak masakan asistennya itu.
Tubuh yang lelah dan perut kenyang membut tidur Januar sangat lelap.
Ia bangun setelah alarm ponselnya berbunyi pukul enam pagi.
Bergegas ia membersihkan badan dan berdandan.
Hari ini tak ada pesan dari sang asisten yang berarti ia akan masuk kerja seperti biasa.
Senyum tipis tesungging dari bibirnya, pekerjaannya akan lebih santai dan ringan, Naya selalu bisa mengatasi semua masalah dengan cepat dan tepat.
Drrt drrt.
__ADS_1
"Nu, Lu udah bangun, hari ini ada pesta acara peresmian kantor cabang salah satu klien kita dan acara akan di adakan sore nanti" Tiwi berucap dengan nada tegas.
"Lalu apa urusannya denganku Kak?" tanya Januar santai.
"Ish kau ini ...tentu saja kau harus menghadirinya, mereka mengundangku saat aku masih di Tinar Perkasa dan mereka tak tahu jika saat ini kepemimpinan sudah berpindah padamu,kau harus datang dengan penampilan rapi dan tampan."
"Terus..." Januar semakin tak mengerti dengan kalimat Tiwi yang berbelit-belit.
"Kau harus merubah penampilanmu keong sawah.....!!" teriakan kesal Tiwi membuat Januar menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Kenapa harus ku rubah, menurutku penampilan ku ini sudah maksimal, terlihat gagah dan berani" timpal Januar penuh percaya diri.
"Ish bukan gagah nyong...penampilan Lu kaya kakek-kakek, jambang di mana-mana, lihat saja bibirmu tertutup oleh kumismu...." protes Tiwi.
Januar mengerutkan alisnya dan melangkah ke depan cermin, menelisik wajahnya yang ia pikir gagah dengan kumis dan jambang lebatnya.
"Ah mungkin matamu yang harus memakai kaca mata Kak, wajahku sangat tampan, tak kalah dengan artis tampan turki" ujar Januar membela diri.
"Pokoknya nanti siang kau harus ke salon sahabat Kakak, Elis titik."
"Tapi Kak, aku hanya percaya diri dengan penampilanku yang seperti ini" ujar Januar tak rela melepas penampilan khas nya.
"Tidak, sekarang kau harus berubah, jangan sama kan saat kau hanya duduk tidur dan makan di rumah, kau sekarang seorang CEO Jan...seorang pemimpin harus menjadi panutan para karyawannya, kau harus menjaga dan merawat tubuhmu agar rapi dan enak di pandang."
"Jadi selama ini penampilanku tak layak di pandang! tidak..aku tak mau ke salon, biar saja apa pendapat mereka, inilah aku" nafas Januar memburu, matanya pun me merah.
Januar membuang matanya jengah, sungguh tak rela jika ia harus merubah wajahnya yang selama ini ia banggakan.
Tapi kalau hanya untuk sementara, ia akan berfikir ulang, sesekali berpenampilan berbeda bagaimana rasanya, ia membatin.
Setelah membersihkan tubuh dan memakai setelan jas kerja nya, Januar masih betah me matutkan diri di depan cermin, memandang jambangnya untuk terakhir kali.
"Selamat pagi Tuan" sapa Ujo ramah dengan senjata tempurnya, sapu dan kain lap yang selalu tak lupa ia bawa.
"Heum" Januar membalas singkat.
"Mau kopi mix atau kopi Mbak Nay Tuan" tawar Ujo, kopi yang sering Naya buat memang sudah ia namai dengan kopi Naya agar mereka yang sudah mencobanya tidak susah untuk menyebutkan lagi.
"Aku mix aja bang" jawab Januar singkat.
"Baik Tuan."
Januar masuk ke pantry yang jarang ia masuki, tempat yang bersih dan lengkap tersedia berbagai macam kopi, bahkan di dalam lemari juga tersedia banyak macam mie instan.
__ADS_1
"Apa Tuan mau bikin mie untuk sarapan?" tanya Ujo yang melihat Januar membuka lemari pantry.
"Ah tidak bang, aku hanya ingin melihat saja, isi lemari di pantry lumayan lengkap."
"Iya Tuan, dari sejak Ibu Tiwi yang suka bikin cemilan di pantry kalau sedang ada waktu luang jadi saya sudah biasa jika lemari pantry harus selalu terisi lengkap" terang Ujo.
Januar manggut-manggut.
"Bang kok kopinya bikin dua gelas?" tanya nya heran.
"Oh ini satu buat Mbak Naya Tuan."
"Dia sudah masuk?"
"Sudah sejak tadi Tuan."
Januar pun bergegas ke ruangan Naya yang berada di sebelah ruangannya.
Tok tok tok.
"Masuk" ucap Naya dari dalam.
Ceklek.
Januar dengan wajah yang sudah ia setel ke mode datar, melangkah dengan santai ke ruangan Naya.
"P pagi Pak?" sapa Naya gugup, ada apa gerangan yang membuat atasannya itu masuk ke ruangannya.
"Tidak, aku hanya lewat dan sekalian ingin melihat bagaimana keadaanmu" jelas Januar sambil memandang Naya intens.
"Saya baik-baik saja Pak" ujarnya sambil senyum tipis, tapi di balik senyum manis itu Januar masih merasakan wajah muramnya.
"Ehm apa Kakakku sudah menghubungimu?" Januar mencoba mencairkan suasana.
Naya hanya menggeleng pelan, memang Tiwi tak mengirim pesan apa pun padanya.
"Nanti sore Kak Tiwi meminta kita datang ke salon Mbak Elis" jawab Januar.
Alis Naya mengerut, selain heran ia juga tampak kesal, Januar menyebut Elis dengan panggilan 'Mbak' sedangkan padanya hanya sebutan 'Aku dan kamu'.Naya merasa Januar berat sebelah.
"Untuk apa kita ke sana?" nada suara Naya terdengar sinis membuat Januar mengerutkan alisnya.
"Aku di minta make over karena ada acara pesta nanti malam" terang Januar.
__ADS_1
Naya memalingkan wajahnya dan menutup mulutnya saat tawanya hendak pecah.
Pastilah Tiwi yang menyuruh adiknya merapikan wajahnya setelah Naya berkeluh kesah tentang Januar yang berpenampilan tak biasa seperti para CEO-CEO lain, wajah Januar juga terlihat lebih tua dengan penampilan sekarang.