Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Kerja Sama


__ADS_3

Vega menyisir apartemen Naya hingga ke setiap sudut ruangan, matanya berbinar penuh kekaguman.


"Mbak Nay aku juga mau beli apart biar bisa mandiri seperti Mbak Nay" ujarnya semangat.


"Heum kamu pasti bisa, mulailah menabung, sisihkan penghasilanmu, jangan selalu mengandalkan kekayaan orang tuamu? Ingat mereka akan bangga jika kau bisa mandiri dari hasil keringatmu" tutur Naya bijak.


Vega menganggukan kepalanya pasti.


"Wah Bu Hen masak apa?"Vega menuju dapur minimalis di mana Bu Heni sedang masak untuk persiapan makan malam.


"Ibu masak sop, sambel, perkedel dan ayam srundeng, Mbak Vega doyan?" tanya Bu Heni hangat.


Vega mengangguk pasti, masakan Bu Heni sangat enak, apalagi makan waktu hangat dan makan bersama.


Naya menuju kamar untuk membersihkan tubuh karena perutnya pun sudah sangat keroncongan.


Sementara itu Januar dengan langkah lesu menuju apartemen yang kini terasa amat sunyi.


Ia menghempaskan tubuhnya di sofa panjang miliknya, memandang ruang dapur lalu ke arah pintu kamar yang biasanya di tempati Naya.


"Kenapa tempat ini terasa sepi tanpa kalian" Januar bermonolog sendiri dan melangkah tanpa sadar menuju kamar Naya.Ia hempaskan tubuhnya di ranjang besar yang biasa Naya tempati.


"Bahkan wangimu masih tercium jelas di kain seprei ini" ucap Januar sambil mencium aroma Naya yang masih tertinggal di seprei.


Tanpa berfikir lama, Januar melangkah keluar lalu masuk ke kamarnya untuk mandi.


*************


Di lobi apartemen, di salah satu sudut lobi di mana Danu menunggu kedatangan Naya bersama Richard dan Sam.


"Bos, apa saya perlu menemanimu di sini?" tanya Sam karena Danu tampak gelisah menunggu, sudah lebih dari tiga puluh menit Naya belum juga muncul.


"Kau tunggulah di sini sebentar lagi" jawab Danu, namun seketika netra matanya berbinar saat melihat bayangan Naya keluar dari lift.


Sam dan Richard menoleh ke arah di mana mata Danu tertuju.


Meski hanya celana tranning hitam panjang yang ia padu dengan kaos putih polos sudah cukup membuat Naya terlihat sangat manis dan imut, bahkan wajah natural yang hanya ia olesi perona bibir merah muda sudah membuat tatapan ke tiga pria itu fokus ke arahnya.


Jika Danu memandang Naya dengan raut kesedihan karena wanita itu akan sepenuhnya lepas dari ikatan sebagai seorang istrinya, berbeda dengan Richard yang menatap penuh rasa kagum.


Naya mengangguk hormat pada Danu lalu menoleh pada Sam dan Richard.

__ADS_1


"Kenalkan dia pengacara Richard" sapa Danu di balas dengan uluran tangan Naya untuk bersalaman dengan Richard.


Pengacara muda tersebut menyambut uluran Naya dengan hormat.


Naya duduk di kursi sebelah Danu, berhadapan dengan Richard yang terus saja mencuri pandang ke arahnya.


"Maaf kalau aku menghubungimu malam-malam seperti ini, tapi ku rasa kau akan senang setelah tahu apa maksud kedatanganku" terang Danu berusaha tenang, sedang dadanya terasa berat hingga nafas pun terasa sesak.


"A apa itu?" tanya Naya bingung namun berusaha untuk tetap tersenyum.


Danu memandang Richard mengisyaratkan untuk mengeluarkan dokumen yang ia bawa.


"Andai kau tahu hal terberat dalam hidupku adalah melepasmu pergi dariku, memutuskan janjiku yang telah ku ucapkan, namun tak bisa aku jalankan, tak pernah bosan aku untuk meminta maaf padamu, yang telah membuang waktu bersamaku hanya membuat luka dan air mata, terimalah..." suara Danu terbata seakan tenggorokannya tercekat, bahkan untuk menyelesaikan kalimatnya ia tak sanggup.


Naya meraih map lalu membukanya, seketika darahnya berdesir, surat tanda perceraian sudah ada di tangannya, rupanya Danu sudah mengurus surat perceraian itu hingga mereka tak perlu harus menjalani sidang.


Naya memandang Netra Danu yang tampak berembun, untuk pertama kali Naya melihat ketulusan di matanya.


"Terima kasih Mas" ucapnya lirih dengan bibir tersenyum tipis.


"Aku ingin... meski pernikahan kita berakhir sampai di sini, tapi hubungan kita tak terputus, andai kau masih mau menjadi sahabatku, aku akan sangat berterima kasih..." ucap Danu dengan suara berat.


"Terima kasih Nay, hubungi aku jika waktumu senggang, dan jaga kesehatanmu" Danu bangkit di ikuti Richard, lalu Naya dan Sam.


Richard dan Sam mengangguk pamit lalu melangkah pergi, tinggal Danu yang masih tegak menatap Naya, ia ingin melihat wajah cantik mantan istrinya sepuasnya, berat rasanya pergi meninggalkan wanita yang selalu menerbitkan senyum tulus meski seribu tombak menghujamnya, ia bagai karang yang selalu tenang di hantam badai, Naya nya kini bukan lagi miliknya.


Naya melambai melepas Danu yang pergi menyusul Sam dan Richard.


"Hmm ada yang habis bertemu dengan mantan suami nih" suara berat tiba-tiba mengagetkan Naya.


"Kau...?"


Januar duduk di kursi sambil mata terus menatap map di tangan Naya.


Naya tersenyum lembut lalu menyerahkan map pada Januar.


Wajah kesal Januar berubah seratus delapan puluh derajat, senyum lebar kini terbit dari bibir tipisnya.


"Ah kini tak ada lagi halangan untuk memilikimu" gumamnya.


"Apa menurutmu begitu?"tanya Naya serius.

__ADS_1


"Apa maksudmu?!"


"Entahlah, bukan aku ragu akan perasaanmu, tapi rasanya aku tak punya nyali untuk berharap lebih padamu, dengan status yang melekat padaku, juga perbedaan hidup kita yang sangat jauh" Naya bertutur lirih.


"Kenapa kau masih berfikir sepicik itu tentang keluargaku, kenapa status dan derajat yang selalu membuatmu bimbang, apa dengan seluruh cinta dan sayangku tak cukup untuk membahagiakanmu, apa kau masih takut dengan segala kemungkinan yang bahkan belum pernah kita coba untuk menghadapinya, aku hanya ingin kau selalu di sampingku, kita hadapi bersama, dan aku yakin ayah dan ibu pasti tahu apa yang terbaik untuku, dan Kak Tiwi besok akan pulang berlibur ke sini, aku akan membicarakan dengannya."


"Apa ?! Tiwi pulang? Kenapa dia tidak bilang padaku?" tanya Naya kaget.


"Dia sebenarnya memintaku untuk menjaga rahasia ini, ia ingin memberi kejutan pada kalian" ujar januar.


"Dan aku akan mengatakan jujur tentang hubungan kita, aku akan..."


"Tidak,jangan lakukan itu, aku tak ingin membuatnya kecewa, adik lelaki satu-satunya yang menjadi harapan keluarga, ternyata jatuh cinta pada seorang janda, pasti dia akan sangat kecewa, pasti dia akan membenciku"


Januar meraih jemari tangan Naya dan menggenggamnya erat.


"Aku yakin kakak tidak sedangkal itu berfikir tentang kamu, aku yang akan menghadapinya."


"Tapi aku belum siap" Naya menggeleng ragu.


"Baiklah, aku tak akan mengatakan hubungan kita pada kak Tiwi, tapi aku akan berusaha mencari waktu yang tepat untuk membicarakannya, aku ingin kau secepatnya menjadi mikiku."


Naya tersenyum tipis, ia tak pernah merasa begitu di perjuangkan, dialah pria pertama yang membuat Naya merasa di cintai dan di mengerti.


"Istirahatlah, aku akan pulang" ucap Januar sambil mencium kening Naya lembut.


Lama ia mendaratkan bibirnya di kening wanita yang kini menjadi tujuan hidupnya itu.


Naya melambai tangan sebelum panel lift tertutup.


Januar pun pergi keluar menuju di mana mobilnya terparkir, namun langkahnya terhenti saat pria tampan berdarah turki sudah ada di belakang dengan senyum tipis ke arahnya.


Ck ada apa lagi ini si tukang tebar pesona, gerutu Januar dalam hati.


"Jangan suka kau pamerkan wajah tak sukamu padaku, menyesal kau nanti" ucap Aslan santai.


"Apa maksudmu?" senyum smirk Aslan terbit, saat Januar memandang kesal padanya.


"Aku ingin membantu melancarkan hubunganmu dengan Naya asal kau setujui permintaanku" kalimat Aslan membuat Januar menatalnya tajam.


Aslan ternyata mengetahui perasaannya pada Naya, dan jalinan persahabatan mereka sangatlah erat, mungkinkah ia harus mencoba bantuan apa yang pria campuran Turki itu tawarkan padanya.

__ADS_1


__ADS_2