Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Keras Kepala.


__ADS_3

"Hm, siapa Nay?" tanya Elis saat melihat Naya tersenyum melihat layar ponsel.


"Mas Danu minta ketemu, katanya mau ngobrol."


Elis hanya menelan ludah kasar dan memutar matanya jengah, ingin ia menceritakan kebejatan Danu di belakang Naya, tapi ia tak mau sahabatnya itu kembali terluka.


"Lalu kapan kau akan menemuinya?"


"Mingkin besok atau lusa."


"Coba sini Gue lihat rambut Lu?" Elis melepas kain kupluk di kepala Naya.


"Hmm, ku kira sudah tak perlu lagi kau memakai obat dariku" Elis mengusap rambut Naya yang kian panjang.


Naya melihat wajahnya di cermin dan tersenyum melihat rambutnya yang sudah lebih panjang dan subur.


Januar melihat jam di pergelangan tangannya, terasa waktu sangat lambat berjalan.Entah kenapa Januar selalu ingin berada dekat dengan Naya, hatinya terasa kosong jika tak melihat Naya.


Ah perasaan apa ini, batin Januar.


"Apa kalian sudah pulang?"kalimat yang tak sadar tangannya ketik pun terkirim.


Januar meremat kepalanya kesal, ada apa dengan hatinya yang selalu merasa terikat dengan Naya.


"Sadar Jan, dia masih bini orang woy..."ia bermonolog sendiri dengan geram.


"Aku baru sampai" jawaban Naya membuat Januar sontak menegakan tubuhnya, tak percaya Naya menjawab pesannya.


"Jef, acara tinjauan ke lokasi sore ini tolong ti batalkan, aku harus pulang" ujar Januar bergegas membereskan berkasnya.


"K kenapa Tuan, apa ada acara darurat yang lain?" Jefry tampak cemas, takut kalau ada agenda yang terlewat olehnya.


"Tidak ini bukan urusan pekerjaan, tapi bagiku ini lebih penting dari apapun" jawab Januar santai lalu pergi dari ruangan.


Bukan urusan kantor tapi urusan paling penting dari semua urusan yang lain, apa itu.


Jefry hanya bisa memandang kepergian Januar.


Sementara itu, Danu meremat ponselnya kencang, Silvy terus saja memohon maaf padanya bahkan setelah ia menolak dengan kasar pun silvy tetap teguh pada pendiriannya.


Banyak pesan Silvy tak Danu balas, bahkan panggilanpun Danu acuhkan, padahal ia sudah mengganti nomor ponselnya dengan nomor baru, entah dari mana wanita itu mendapatkan kembali nomornya.


"Ada apa Bos?apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Sam.


"Aku bingung Sam, dari mana Silvy mendapat kembali nomor baruku, padahal sudah aku ganti" terang danu.


"Wanita selalu punya banyak cara untuk mencapai apa yang di inginkannya bos" jalas Sam bijak.


Danu pun mengakui kelicikan Silvy yang masih saja mengelak saat ia mengetahui perselingkuhannya pertama kali bahkan wanita itu malah memutar balikan fakta dan malah menuduh Naya lah yang bermain hati di belakangnya.


"Apa yang harus kita lakukan untuk menangkapnya Sam? Apa kau punya rencana?"


"Ehm mungkin sebaiknya kita serahkan pada pihak berwajib bos, kita tidak memiliki hak menangkapnya karena itu bukan wewenang kita."


"Benar juga kau, tapi Silvy begitu licin bak belut, bahkan Polisi pun kesulitan menangkapnya karena selama ini ia berpindah-pindah tempat."

__ADS_1


Hm tentu saja licin, kau pun terjebak oleh licin tubuhnya kan bos, Sam membatin.


"Aku ingin segera membawa Naya kembali ke apartemen Sam, aku tak ingin pria itu terlalu dekat dengannya, Naya adalah miliku."


"Kau yang telah membuatnya menjauh darimu Bos."


"Maka itu Sam, andai aku bisa buktikan bahwa bukan akulah dalang di balik ini semua maka Naya pasti akan memaafkanku dan kembali padaku lagi" ucap danu percaya diri.


Pukul empat sore, Januar pulang dengan langkah panjang, mengetahui Naya sudah berada di apartemen membuatnya tak sabar ingin segera pulang.


Teet.


Ceklek.


Ruangan tampak hening, Januar mencari di ruang televisi dan ruang makan, ternyata kosong dan sepi.


tok tok tok.


Karena tak ada jawaban Januar pun membuka pintu kamar dengan perlahan.


"Nay...Mbak Elis" panggilnya lirih.


"Naya..." kembali Januar memanggil namun kamarpun ternyata kosong.


Apa dia bohong kalau ia sudah pulang, batin Januar lesu.


Ia pun menghempaskan tubuhnya di sofa, semangat yang menggebu kini seakan hilang.


Ceklek.


Matanya berubah berbinar terang, Naya datang dengan membawa bungkusan makanan.


"Pak Jan sudah pulang? Kebetulan saya beli makanan, ayo kita makan" sapa Naya hangat.


Hati Januar bersorak kegirangan, ada sedikit perhatian dari Naya membuatnya sangat bahagia.


"Mana mbak Elis? Kenapa tidak pulang bersamamu lagi?"tanya Januar.


"Dia masih di salon, mungkin pulang malam, lumayan lagi banyak pelanggan, biasanya kalau tiap awal bulan memang pelanggan membludak" terang Naya sambil mengunyah sate ayamnya.


"Apa kau pulang sendiri?"Januar tampak panik.


"Tidak, saya di antar sopir Elis kok."


Januar menganggukan kepalanya lega, keduanya menghabiskan makan dengan tak banyak bersuara.


Naya hendak bangkit untuk mengumpulkan piring kotor namun di cegah Januar.


"Biar aku yang cuci piringnya, kau mandilah lalu istirahat, pasti kau cape."


Naya mengerutkan alisnya, bukankah seharusnya Januar lah yang merasa cape karena ia baru pulang dari kantor, sedangkan dirinya hanya main sekedar mengusir kebosanan di salon Elis.


"Jangan Pak, biar saya saja yang cuci, bapak Januar yang pasti letih dari kantor" Naya merebut piring dari Januar, namun tetap pria itu tak melepas piring di tangannya.


Praaaangg.

__ADS_1


Piring beling pun jatuh dan hancur berkeping-keping di lantai, membuat Naya terkejut dan spontan memundurkan langkahnya yang tentu saja hal itu berakibat fatal, membuat kakinya menginjak pecahan piring tersebut.


"Aahkk..."pekiknya tertahan seiring dengan tumbang tubuhnya.


"Naya awas...." beruntung langkah Januar panjang dan sigap.


Dengan tangan kekarnya ia berhasil menangkap tubuh Naya yang limbung hingga tak sempat tejatuh yang akan membuatnya menimpa pecahan piring di lantai.


Untuk sesaat Naya memejamkan mata pasrah, namun ia cepat membuka matanya saat merasakan tangan Januar kini memeluknya erat.


Dengan tenang Januar membopong Naya ala bride style menuju sofa dan membaringkannya perlahan.


Naya mendesis ringan saat telapak kakinya terasa perih.


Januar bersimpuh dan memeriksa kaki Naya yang sobek dan berdarah.


"Diamlah jangan bergerak, aku akan membersihkan lukamu" ucapnya lalu bergegas mengambil kotak obat dan air untuk membasuh kaki Naya.


Naya hanya bisa diam menahan perih di kakinya, sambil melihat pecahan piring yang masih berserakan.


Januar melangkah dengan tenang karena kini ia memakai pelindung kaki.


"Sudah ku bilang biar aku yang akan membersihkannya, dasar keras kepala, kenapa kau tak mau mendengar kata-kataku" Januar berucap dengan nada rendah namun tegas, hatinya sungguh cemas saat melihat darah banyak keluar dari telapak kaki Naya.


"Sssshh ..maaf."


"Sakitkah?"tanya Januar panik karena ia sudah mengeluarkan kekuatan selembut mungkin saat membersihkan luka Naya.


Naya mengangguk pelan, karena memang terasa perih saat alkohol mengenai kulitnya.


"Apa kita ke rumah sakit saja?" tanya Januar.


"Tidak, jangan..ini hanya luka kecil" jawab Naya cepat.


Tapi Januar pun tak dapat berbohong karena luka sobekan di kaki Naya cukup dalam.


Setelah menutupnya dengan kain perban Januar pun mengambil air minum lalu menyodorkan pada Naya.


"Minumlah agar kau tenang."


Naya menurut dan meminum hingga air tandas satu gelas.


Kini hanya ada rasa sesal di hatinya saat melihat Januar membersihkan pecahan piring di lantai hingga bersih, bahkan pria lembut itu sangat teliti mencari sisa-sisa serpihan ke setiap sudut.


Teet.


Naya bangun bermaksud membuka pintu saat terdengar bel berbunyi.


"Jangan bergerak, biar aku yang membukanya" suara Januar menggema dari ruang dapur membuat Naya diam membeku.


Ceklek.


"Mana dia? Apa yang terjadi" suara dokter Kendra mengagetkan Naya, rupanya Januar memintanya datang lewat pesan singkat.


Januar mendengus kesal saat tubuhnya terdorong ke belakang karena dokter Kendra menabraknya secara tak sadar saat hendak menuju ke arah Naya.

__ADS_1


Ish kalau bukan dokter, sudah ku usir kau.


__ADS_2