
"Kalau begitu kenapa kau masih risau dengan si anak lurah itu?"timpal Tiwi kesal.
"Tebtu saja aku tak tenang, dia bukan pria..., ah sudahlah" Januar menghempaskan tangannya di udara lalu melangkah panjang ke ruang dapur dan mengambil air di kulkas, ingin rasanya ia masuk ke dalam frizer untuk mendinginkan kepalanya yang terasa panas karena memikirkan bagaimana kelanjutan kisah cintanya dengan Naya.
Tiwi hanya memandang trenyuh sang adik, raut wajahnya terlihat gundah gulana.
"Apa yang harus Gue lakuin?"tak tega Tiwi akhirnya berucap lirih.
Untuk sesaat Januar terdiam lalu memandang ke arah Tiwi memastikan apakah sang Kakak benar-benar iba padanya.
"Benarkah kau mau melakukan apa pun untukku ?" tanyanya tak percaya.
Tiwi mengangguk meng iya kan, jika tak ada dia, maka pada siapa lagi januar akan mengadu dan meminta pertolongan, pikirnya.
"Baik ayo kita berangkat" Januar menarik tangan Tiwi tiba-tiba.
"Hei-hei, mau kemana kita, kau tak lihat apa yang kupakai sekarang" Tiwi menghempaskan tangan sang adik kesal.
"Hmm cepatlah ganti baju, kita berangkat sekarang?" ujarnya.
"Iya..tapi kemanaa?."
"Nanti ku beri tahu di perjalanan, sekarang tak ada waktu lagi karena lebih cepat akan lebih baik."
Tiwi pun bergegas mengganti bajunya dengan outfit casual yang nyaman.
Lima belas menit untuknya bersiap, lalu keluar kamar dengan celana jeans hitam yang di padu dengan t shiry putih di lengkapi jaket denim membuat Tiwi tampak cantik dan manis.
Januar tersenyum puas lalu menyambar kunci mobilnya dan melangkah keluar apartement.
"Pelan langkahmu Jan.."teriak Tiwi sambil berlari kecil di belakang sang adik.
"Makanya tumbuh tuh ke atas..."cibir Januar.
"Dih ...ngehina kakak sendiri yaaa...oke fine, gue batal ikut Elu"protes Tiwi kesal lalu langkahnya berhenti.
Januar tergagap, jika Tiwi mogok menjadi pendukungnya, maka akan semakin berat perjuangan Januar ke depannya nanti.
__ADS_1
"Hmm, Mbak...pilih mana yang kau mau" Januar menyodorkan ponselnya yang berisi daftar tas bermerk terkenal terbaru.
Sontak mata Tiwi langsung berbinar terang, lalu matanya mulai menscroll barang yang sedang di buru nya.
"Oke aku pilih ini" Tiwi menyerahkan kembali ponsel Januar.
Ck, dasar semua wanita sama saja, umpatnya setelah melihat harga tas yang Tiwi suka, namun Januar tetap memesan tas premiun tersebut untuk sang Kakak.
"Oke done...ayo berangkat" ujarnya.
Tiwi tersenyum bahagia lalu kembali mengikuti langkah Januar.
"Kau memang adik kebanggaanku" ujar Tiwi sambil menepuk pundak sang adik meski ia terpaksa menjinjitkan kakinya.
"Tapi kau tak pernah mendukung apa keputusanku."
"Hei..bukan kah kita sudah deal tadi?" protes Tiwi.
"Itu karena salah satu barang impianmu sudah ada di tanganmu" sindir Januar.
"He hee..."Tiwi tersenyum masam.
"Sebenarnya kita ke mana?" tanya Tiwi.
"Ke tempat calon ibu mertua ku Mbak."
"Hah!! Ke kampung halaman Naya???!!"
Januar mengangguk puas.
Tiwi hanya menggelengkan kepalanya, kampung halaman Naya terletak cukup jauh dari ibukota, tiga jam lebih perjalanan yang harus mereka tempuh.
Drrt drrt.
Januar melirik Tiwi saat ponselnya bergetar.
"Siapa?" tanyanya tanpa suara.
__ADS_1
"Naya.."
Tenggorokan Jnauar seakan tercekat kala Tiwi menyebut Naya.
"Ya ..ada apa Lu Nay?" tanya Tiwi tegang.
"loud speaker" pinta Januar tapi dengan isyarat tangan, dan Tiwi pun mengabulkan.
" Lu di mana Wi?"
"Ehm Gue lagi di....perjalanan Nay, ada perlu apa?"
"Enggak, cuma suntuk aja weekend di apartement mulu, oiya Lu jalan sama Elis?"
Tiwi memandang Januar meminta persetujuan untuk menjawab "Ya".
"Nggak Wi, Gue sendiri.."jawab Tiwi ragu karena Januar menggelengkan kepalanya agar tidak mengatakan saat ini Januar juga ada di sampingnya.
"Ooh, ya udah..Gue ke tempat Elis ya..tadi Kendra minta ketemuan di sana, tau tuh anak..tumben ngajak ketemuan nada bicaranya serius lagi" kalimat Naya membuat darah Januar tiba-tiba terasa mendidih, ingin ia memutar balik arah tujuannya namun apa daya, ia sudah memasuki jalan bebas hambatan.
"Ya udah, salam buat mereka ya Nay."
"He ehm, Lu juga ati-ati di jalan ya...bye"
Tiwi melirik ke sampingnya dan menelan ludah kasar.
Wajah Januar tampak tegang dan matanya menatap dingin ke arah jalan di depannya, ia memikirkan apakah Kendra akan mengungkapkan perasaannya pada Naya.
"Sudahlah, Naya tidak pergi dengan orang lain, Kendra dan Elis adalah sahabat Kakak mu ini, jadi Kau tak perlu cemas" terang Tiwi bijak, ia tahu kegundahan sedang menyerang adiknya yang posesif.
"Justru aku tak tenang jika Naya pergi menemui Kendra Mbak."
"Memangnaya kenapa sii, toh mereka sudah lama bersahabat bahkan sejak di bangku kuliah, dan Kendra pria yang baik."
"Mereka bersahabat tapi tak menjamin tumbuhnya rasa cinta di hati salah satu dari mereka"protes Januar.
"Jadi Elu takut Naya naksir Kendra....Jaaan Jan, Elu tuh..."
__ADS_1
"Bukan Naya Mbak, tapi Kendra...dia itu suka sama Naya..."