
"Pak Jan....saya mohon, hapus semua keinginan yang ada di hatimu, saya bukan wanita yang pantas buat anda" pinta Naya tegas.
"Tapi hatiku sudah terlanjur menyukaimu" jawab Januar santai.
"Tapi saya mempunyai suami Pak."
"Toh sebentar lagi kau akan bercerai."
"Dan nantinya saya akan menjadi janda."
"Maka dari itu, aku akan melamarmu untuk menjadi istriku, dan status janda pun akhirnya hilang juga kan"jawaban Januar santai tapi membuat Naya sangat kesal.
Ia pun pergi ke kamar dengan menghentakan kakinya.
"Aku akan sabar menunggumu sampai kau bercerai dari suamimu..."ucap Januar santai mengiringi kepergian Naya yang mencebikan bibirnya.
Januar mengempaskan nafas kasar, sungguh berat meyakinkan Naya bahwa perasaannya memang nyata, kini ia semakin menyadari semakin Naya menolaknya, maka semakin berkobar pula rasa ingin memiliki wanita itu.
Karena Naya belum menyelesaikan piring yang di cucinya, Januar pun terpaksa meneruskannya.
Ceklek.
Bu Heni datang dengan sekantong belanjaan di tangannya.
"Lho kenapa Mas Jan yang mencucinya, biar Ibu saja Mas."
"Nggak apa-apa bu, ini juga sebentar lagi selesai" Januar menjawab santai.
"Di mana Mbak Nay?"
"Di kamarnya Bu."
Sementara di dalam kamar, Naya menghempaskan tubuh ke ranjang besarnya, sikap Januar semakin berani, bukan ia membenci pria bertampang baby face itu, tapi Naya merasa kesal dengan sikapnya yang cuek dan santai, apalagi saat ia dengan gamblangnya mengungkapkan perasaan sukanya, pria itu bahkan acuh dan tak perduli bahwa hal itu sudah membuat jantung Naya berdebar keras, ia tak ingin terlalu tinggi berhayal, di sukai oleh seorang yang se sempurna Januar sungguh Naya bahkan tak berani memimpikannya.
Naya sadar siapa dirinya yang hanya wanita biasa yang tanpa pesona, bahkan wanita yang pernah gagal berumah tangga, bagaimana nantinya masa depan Januar jika ia hidup bersama dengan seorang janda.
Membayangkan saja sudah sangat mengerikan bagi Naya.
Tok tok tok.
"Ya..."Naya bangun dari ranjang saat pintu kamarnya di ketuk.
"Ini jus brokolinya mbak Nay" ucap Bu Heni dari balik pintu.
Ceklek.
Namun Naya mundur satu langkah saat ternyata sosok yang berada di depan pintu bukan Bu Heni melainkan Januar.
Naya memindai Januar penuh selidik, apa telinganya tadi salah dengar, jelas-jelas tadi suara Bu Heni, pikirnya.
"Bu Heni nggak tahan sedang ke kamar kecil dulu" bisik Januar sambil mengedipkan satu matanya genit.
Naya mendengus kesal lalu menarik tuas pintu, namun kaki Januar menahannya hingga pintu terhalang.
"Gelas kotornya mau sekalian aku bawa" ujar Januar.
__ADS_1
Dengan menahan geram Naya pun terpaksa meminum segelas jus brokoli hingga tandas tak tersisa.
Glek glek.
Lalu Naya menyodorkan kambali gelas ke Januar.
"Kalau minum pelan-pelan cantik, kan bibirmu jadi kotor" dengan santainya Januar mengusap lelehan jus di sudut bibir Naya lalu melangkah meninggalkan pintu dengan senyum smirk.
Dasar gila, umpat Naya tapi hanya dalam hati lalu bergegas menutup pintu.
"Apa mbak Naya sudah me minum jusnya mas Jan?"tanya Bu Heni yang baru keluar dari kamar.
"Sudah Bu, memang kenapa Naya harus minum jus brokoli?"tanya Januar.
"Itu saran dari dokter Kendra, karena kecelakaan kemarin takutnya mempengaruhi syaraf otaknya jadi dokter Kendra menganjurkan untuk banyak minum jus brokoli" terang Bu Heni.
Januar hanya manggut-manggut.
Drrt drrt.
"Iya kak, ada apa?" jawab Januar saat Tiwi menelponnya.
"Gimana persiapan sidang besok? Apa Naya sudah siap? teman kakak nanti malam akan datang, namanya Aslan, dan dia pengacara hebat, kau tak perlu risau" jelas Tiwi singkat.
"Namanya tua amat"ucap Januar sarkas.
"Nggak usah kau cela orang lain sebelum kau bertemu langsung dengannya" protes Tiwi tak terima.
"iya ..iyaa sorry."
"Kenapa tidak telpon saja langsung."
"Dua kali panggilanku tak di angkat sama dia"jawab Tiwi ketus lalu menutup panggilan.
Januar mengerutkan alisnya, apa ia langsung tidur setelah meminum jus tadi, batinnya.
Januar kembali memeriksa dokumen yang akan di bawa ke pengadilan besok, cuaca siang yang terik akhirnya membuat pria tampan itu pun terlelap di sofa ruang kerjanya.
Sore hari Januar bangun setelah perutnya merasa keroncongan.
"Mas Januar baru bangun?tadi ibu sudah ketuk pintunya manggil mas Jan untuk makan siang,tapi tak ada jawaban."
"Hmm.."Januar hanya menjawab dengan gumaman lirih.
Bu Heni langsung menyiapkan makan siang yang terlambat, sedangkan Januar duduk menunggu dengan masih muka bantal.
"Apa semua sudah makan bu?"tanya Januar.
"Sudah semua Mas.."
Januar pun menikmati makan siang sendiri.
Ceklek, Naya keluar dari kamar yang mungkin habis tidur siang juga karena rambutnya pun tampak acak-acak an.
"Nay, nanti ada pengacara Aslan datang" sapa Januar saat Naya di hadapannya mengambil segelas minuman.
__ADS_1
"Aslan?" mata Naya berbinar, ia adalah salah satu sahabatnya dulu satu kampus.
"Kalian kenal?"tanya Januar tak suka.
Naya mengangguk antusias, sudah lama ia tak bertemu sahabatnya itu, setelah kuliah ia meneruskan pendidikan di luar negri membuat mereka berpisah.
"Kapan dia datang?"tanya Naya tak sabar.
"Mungkin sekitar pukul delapan."
Naya dengan langkah panjang menuju kamarnya untuk menanyakan kabar bahagia itu pada Tiwi, Januar hanya memandang kepergian wanita yang di sukainya dengan hati melas.
Wanita itu masih saja mengacuhkannya.
"Bu Hen, apa ada makanan?nanti malam akan ada teman kak Tiwi datang, dia pengacara yang akan membantu Naya besok."
"Oh kalau begitu nanti Ibu bikinin camilan."
"Apa tidak mereporkan Bu Hen? atau apa kita beli saja biar praktis."
"Hm tidak usah Mas, nanti ibu buat aja, tidak repot kok, toh semua bahannya sudah ada."
"Kalau begitu terserah Bu Heni saja."
Januar pun kembali ke kamarnya.
Bu Heni mulai sibuk membuat kue untuk camilan nanti malam, Naya yang baru keluar kamar dan melihat Bu Heni cukup sibuk pun akhirnya ikut membantu.
Kini Bu Heni bisa bernafas lega setelah berhasil membuat kue seperti yang sedang viral di sosial media.
"Bu Hen, aku mandi dulu ya, mungkin sebentar ladi dia datang" Naya melepas apron di tubuhnya lalu ke kamar.
Bu Heni tersenyum senang, Naya sangat antusias menunggu kedatangan tamu itu, mungkinkah dia tamu istimewa, pikir Bu Heni.
Ceklek.
Januar yang sudah rapi dengan baju casualnya tampak segar dengan rambut setengah basah, alisnya mengedik saat ia lihat meja makan sudah tersaji kue cantik warna warni dengan aroma harum.
Teett.
Januar melangkah ke pintu.
Ceklek.
Pria tampan itu tertegun saat melihat tubuh tegap berdiri tepat di hadapannya, pria berhidung mancung dengan alis mata tebal dan bibir merah alami tersenyum ramah padanya.
Hati Januar mencelos, Aslan yang ia kira pria sudah berumur namun ternyata ia tak berbeda jauh darinya bahkan sangat tampan, atau mungkin mereka sepantaran.
Ada rasa iri di hatinya, kenapa pria di depannya terlihat begitu sempurna.
"Aslan.."pria itu mengulurkan tangan pada Januar dengan senyum ramah.
"Januar, silahkan duduk."
Celana bahan berwarna moca dan kemeja navy lengan panjang yang ia lipat sebatas siku memperlihatkan bulu lebat di tangannya.
__ADS_1
Januar kini di landa ketar ketir, di posisi apakah pria itu di hati Naya.