
"Halo Nay...muaacch, cerah banget wajah Elu, habis pake masker apa?" sapa Tiwi hangat.
"Dia mah nggak pakai masker juga wajahnya sudah bersinar berseri-seri sepanjang hari ..." seloroh Kendra membuat ketiganya terbahak.
"Ah Lu bisa aja ...mana sempat pagi-pagi pake masker, oiya mana Ibu ..." tanya Naya berbisik karena ruangan tampak hening.
"Noh di dapur, mau ketemu Ibu apa adik Gue Lu?" tanya Tiwi jujur sambil melirik Kendra dari sudut matanya, Naya hanya mencubit kecil pinggang Tiwi lalu melangkah ke dapur menemui Kathlin.
"Pagi Tante.."sapa Naya lembut.
"Ah hai cantikk ..pagi juga muacch, kamu itu ya semakin terlihat cantik mempesona" Kathlin memeluk Tiwi hangat dan mencium pipinya kiri dan kanan.
"Wah Tante juga semakin anggun saja...kalah rasanya aku sama tante" jawab Naya.
"Ehmm hmm" suara berat membuyarkan kehangatan kedua wanita cantik tersebut.
"Pagi Nay....."sapa Januar kaku.
"Hei ..dasar bocah nggak tahu sopan, dia teman kakakmu dan lebih tua darimu, panggil dia 'mbak'!!" ujar Kathlin sedikit ketus.
"Ah memang Pak Jan memanggil di kantor seperti itu kok Tante..dan kita sudah terbiasa"bela Naya tak enak hati.
Januar hanya tersenyum tipis melirik Naya membuat Naya bersemu merah.
"Lho Pak Jan ...kenapa? Sakit?" tanya Naya memasang wajah kaget namun sebenarnya ia sudah mendapat kabar dari Tiwi tentang kondisi Januar .
"Dia tadi pagi pingsan Nay, badannya panas, untung ada Kendra yang langsung datang setelah di telpon Tiwi.
Spontan Naya memegang kening Januar untuk meraba suhu tubuh sang kekasih namun aksinya sontak membuat Kathlin tertegun.
"Sudah tak panas lagi kok ..syukurlah, ucapnya lega.
"Ooiya Naya maafin tante yah..tante ikut sedih dengar cerita pernikahan kamu ...kamu harus tetap semangat ya sayang ...masih banyak lelaki di luar sana yang akan mencintaimu dengan tulus" Kathlin mengusap pundak Naya lembut.
__ADS_1
"Hmm iya tante terima kasih atas suportnya ..." jawab Naya tulus.
"Wah Naya...kamu datang tidak dengan calon suamimu Daniel?" Jeremy menimpali dari ruang tamu.
Wajah Januar berubah menjadi murung dan hanya bisa menelan ludah kasar.
"Daniel siapa Om?" tanya Kendra terkejut mengengar penuturan Jeremy.
Pria paruh baya itupun menceritakan kisah Naya pada Kendra. Tentang calon suaminya yang anak lurah yang ternyata jodoh dari masa kecilnya yang Setyo inginkan.
Sesekali Kendra melirik Januar yang yang hanya bisa diam mendengarkan dengan hati tersayat, begitupun Naya, ingin rasanya ia menjerit dan mengatakan pada dunia bahwa pria pilihannya adalah Januar, bukan pria lain ataupun Daniel jodoh dari masa kecilnya.
Kathlin muncul dari dapur dengan membawa semangkuk bubur di tangannya.
"Ayo makan bubur ini Jan....biar tubuhmu hangat" ujar Kathlin lembut.
"Tapi mulutku pahit rasanya Bu" tolak pria itu dengan halus.
Seketika wajah Januar berseringai tipis, tentu saja ia dengan senang hati akan makan dan menghabiskan bubur jika sang pujaan yang menyuapinya.
Hanya umpatan panjang pendek dari dalam hati Kendra saat Januar lahap memakan bubur dari suapan tangan Naya.sedang Tiwi menatap dengan haru, ia pun ikut merasakan kebahagiaan kecil yang sedang Januar alami saat ini.
"Oiya Ken, apa kau tahu pacar siapa ni bocah....?"kalimat Jeremy sontak membuat tenggorokan Januar seketika mengeras.
"Uhukk uhukk...." Naya dengan cepat mengambil segelas air sedangkan Tiwi tersenyum gemas.
"Kenapa kau Jan...aku hanya menanyakan pada Kendra, kau tak perlu menjawabnya, habiskan saja bubur itu segera" ucap Jeremy kesal karena bubur banyak menyembur dari mulut sang outra.
Kendra hanya tersenyum masam.
"Maaf Om, saya pun tidak tahu gadis itu..."jawabnya singkat, Jeremy hanya manggut-manggut memahami ucapan Kendra.
Naya dengan telaten menyuapkan bubur se sendok demi sendok ke mulut sang kekasih, sesekali kedua mata mereka saling beradu tatap dan seketika senyum keduanya merekah.
__ADS_1
"Waahh...sudah habis buburnya, syukurlah..terima kasih Nay...kalau bukan kamu yang suapin pasti tak akan habis bubur ini" ucap Kathlin senang melihat buburnya tandas oleh Januar, Naya hanya mengangguk dengan senyum masam.
"Maaf Om dan Tante saya mau langsung pulang dulu, sudah ada pasien yang nunggu di klinik" pamit Kendra yang merasakan hawa panas di dadanya karena melihat interaksi romantis Januar dan Naya di depan matanya.
"Ehm mau langsung berangkat Ken? Oiya mungkin Januar juga nggak masuk kantor hari ini, nanti biar Tim nya yang akan urus semuanya" ujar tiwi bijak.
"Oke Wi, Om, Tante ..Pak Jan...saya pamit dulu" Kendra mengangguk hormat lalu pergi.
Kathlin kembali menuju dapur, untuk membuat sarapan.
Sedang januar kini duduk di ruang tengah sesekali matanya melihat ke arah Jeremy yang tengah asik dengan ponselnya.Sementara Kathlin, Tiwi dan Naya sedang berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
"Ayah...ehm, sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan pada Ayah" Januar akhirnya memberanikan diri mengeluarkan isi hatinya yang terpendam.
"Hmm ada apa? Apa pusing kepalamu sudah sembuh heum? Jangan berfikir terlalu keras, istirahatlah...urusan kantor biar Tim mu yang urus dan Ayah pun sudah menugaskan, orang kepercayaan Ayah untuk mengawasi Tinar Perkasa.
Januar menghela nafas panjang.
Bukan itu Yah, ini tentang masa depan putramu, batinnya.
Meski samar Naya pun sempat mendengar suara Januar yang meminta ijin pada Jeremy yang membuat hatinya berdebar.
"B bukan itu Yah...sebenarnya aku ingin mengenalkan seseorang yang menjadi tambatan hatiku saat ini pada Ayah dan Ibu.." Jeremy memandang sang putra dengan tatapan antusias.
"Hmm, kalau begitu katakan siapa gadis istimewa itu..."tanya pria paruh baya itu lembut.
"Dia ada...."
"Aakhhhh...." pekikan Naya dari dapur membuat Jeremy terkejut begitu pun Januar yang sontak bangkit berlari ke arah Naya sambil menenteng botol infusan.
"Ada apa Nay..."
"Kenapa sayang ...!!"
__ADS_1