Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Kami Bersamamu


__ADS_3

"Apa yang harus kita lakukan Jan?" tanya Elis setelah mereka berada di luar ruangan Naya.


"Mungkin kita harus fokus pada pemulihan kondisinya dahulu, baru kita telusuri siapa sebenarnya dalang dari semua kejadian ini."


Hari mulai beranjak sore, Elis masih betah mengusap-usap tangan Naya dengan lembut, sambil bercerita lirih tentang kisah yang telah mereka lalui bersama bertiga, cerita indah dan lucu yang ia tuturkan, membuat Naya sesekali menyunggingkan senyum tipis.


Januar memandang dengan hati berdenyut nyeri, wajah manis yang selalu tersenyum hangat kini terbaring lemah tak berdaya.


Merasa tubuhnya lengket, Januar meminta Elis untuk mengantikannya menunggu Naya, agar dirinya bisa pulang untuk mandi dan berganti baju.


"Aku pulang dulu, nanti malam aku akan datang lagi" pesan Januar pada Elis lewat ponsel.


"Baik, tapi kalau kau lelah, tak apa kalau aku yang malam ini menjaga Naya."


"Nanti akan ku hubungi lagi.."..Januar melangkah ke parkiran, ia pun sebenarnya ingin menanyakan langsung pada Tanu, bagaimana kelanjutan tugas yang ia berikan padanya.


Satu jam setengah Januar akhirnya sampai di apartementnya di mana sudah ada Jefry dan Tanu menunggu.


"Heum sudah lama kalian menungguku?" tanya Januar.


"Baru Bos" jawab Jefry santai, toh jika bilang sudah dua jam lebih mereka menunggu tak akan membuat Bosnya menyesal apalagi minta maaf.


"Heum, tunggulah sebentar aku akan membersihkan tubuhku" ujar Januar enteng.


Sedangkan Jefry dan Tanu kembali harus menelan kekesalan setelah dua jam lebih mereka di suruh datang ke apartement untuk menunggu kedatangannya, kini bahkan mereka masih harus menunggu lagi.


Dengan celana pendek dan kaos hitam polos dengan rambut basah, Januar terlihat lebih segar.


"Ehm hm, bagaimana? Apa yang sudah kalian dapatkan?."


Jefry dan Tanu saling pandang, lalu Jefry mengedikan dagu agar Tanu segera menceritakan penemuannya yang sangat mengejutkan.


"Jadi menurut kalian, dua pria yang membawa Naya adalah orang suruhan?" tanya Januar.


Tanu dan jefry mengangguk pelan.


"Lalu apakah kalian sudah mengetahui siapa dalang di balik semua kejadian yang menimpa Naya?"


Kini Tanu dan Jefry saling menggelengkan kepalanya.


"Apa kemungkinan besar kecelakaan itu berhubungan dengan kehidupan rumah tangganya?"


Kembali dua pria itu menganggukan kepalanya bersamaan.


"Apa kalian tahu fungsi dari leher selain untuk menggerakan kepala?"


Dua pria itu lalu menggeleng lagi.

__ADS_1


Dengan geram Januar menggerakan jari telunjuknya ke arah leher dengan gerakan melintang.


"Keekkhhhh.."ujarnya sambil mrnjulurkan lidah.


Jefry dan Tanu saling pandang.


"M maaf tuan..." jawab Jefry dan Tanu cepat.


"Makanya jawab yang benar sebelum leher kalian menjadi sasaran pisau buah ini."


Glek.


"B bukan begitu maksudnya Tuan, kami belum bisa menyimpulkan siapa otak di balik kecelakaan ini, kita masih harus mengumpulkan bukti-bukti lain" terang Tanu akhirnya.


Jefry pun menunduk takut, Januar beberapa tahun lebih muda darinya tapi wibawa dan ketegasannya mampu membuatnya panas dingin.


Mbak Tiwi, adikmu kenapa sangat menakutkan, batin Jefry.


"Baiklah, kalian boleh pergi, cepatlah kalian cari bukti-bukti sebanyaknya agar kita bisa langsung menyeretnya ke penjara, bahkan kalau bisa hukuman mati pun pantas untuknya" ucap Januar geram.


Jefri dan Tanu bergegas meninggalkan apartement sebelum kemarahan Januar membuat leher mereka menjadi sasarannya.


Januar merebahkan tubuhnya di sandaran sofa, rasa lelah dan penat tubuh setelah duduk dan tidur di kursi rumah sakit membuat seluruh tubuhnya terasa pegal.


Dua jam lebih Januar terlelap saat suara dering ponsel membangunkan tidurnya.


"Heum, ada apa?" tanya Januar dengan suara berat.


"Kak cukup, pertanyaan mana dulu yang harus aku jawab?" hardik Januar.


"Heum teeserah Lu deh Nu?"jawab Tiwi kesal.


"Naya sudah membaik, kecelakaan itu tak membuat otot syarafnya terganggu, hanya memar di tengkoraknya yang masih perlu mendapat perawatan intensif, dan luka jahit di kepalanya pun sudah mulai mengering."


Jelas Januar meski mungkin tak sesuai fakta, ia tak ingin Tiwi terus memberondonginya pertanyaan.


"Boleh aku lihat dia?."


"Aku sedang di apartement, ada Mbak Elis yang nunggu di sana, mung...." Januar menatap ponselnya tak percaya, rupanya Tiwi sudah menutup panggilan.


Jika Januar tengah di landa kesal tapi berbeda dengan Elis, ia merasa terharu Tiwi masih tetap perhatian pada Naya.


"Nyong bisa vidio call nggak?gue pengin liat Nay?"


"Nggak bisa, dia baru aja tidur dia belum boleh di ajak ngomong banyak, kepalanya pun masih terasa sakit kalau di gerakan."


"Kenapa bisa gitu Nyong...kenapa dengan Naya, siapa yang tega melakukan pada Naya huu huu huu..." untunglah Elis sudah tak lagi di ruangan Naya hingga tangis Tiwi tak mengangguk istirahat Naya.

__ADS_1


"Sst jangan keras-keras lu nangisnya dong, gue jadi ikut sedih" timpal Elis.


"Nyong andai saja Gue bisa datang ke situ, gue ingin jaga dia, gue ingin peluk dia hu huu Naya ku huuu...." kembali isak Tiwi tedengar .


"Udah Lu berdo'a aja, biar dia cepat sembuh ..."


"Nanti dia pulang ke apartement Gue aja Nyong, biar nanti Gue suruh orang buat rawat dia, sekalian biar Janu adik Gue bisa pantau keselamatannya."


"Apa adik Elu bakal kasih ijin Nay tinggal sama dia?"


"Pasti kasih lah, lagian itu kan apartement Gue dan kalau Naya tinggal sendiri di apartenentnya gue was-was Nyong, gue nggak akan tenang selama otak dari pelaku kecelakaan itu belum terungkap."


"Terserah Elu deh, Gue si setuju aja."


"Kira-kira kapan dia boleh pulang?"


"Entahlah, kata dokter setelah pusing di kepalanya hilang dan luka jahitannya kering."


"Sst udah dulu, gue matiin ponselnya, ada perawat datang."


Elis pun menutup panggilan dengan Tiwi.


Kunjungan perawat tak terlalu lama karena hanya mengecek cairan infus juga kondisi Naya saja.


Perhatian Elis teralihkan pada suara langkah orang yang baru datang mendekati ruangan tersebut.


Untuk sepersekian detik Elis tertegun, pria dengan celana jeans panjang dan kaos biru lengan panjang serta topi hitam, sungguh terlihat tampan dan mempesona, andai saja itu bukan adik sahabatnya, sudah pasti Elis akan tergoda.


Sialan bikin jantung deg-deg an aja ni bocah, ucapnya dalam hati.


"Mbak, biar aku yang akan jaga Nay, Mbak pulang aja."


Januar berbisik lirih karena perawat masih ada di ruangan Naya.


Elis memandang ke ruangan dengan ragu, sekarang pukul sebelas lebih dan matanya pun sudah terasa berat.


"Baiklah aku pulang."


"Hati-hati di jalan Mbak."


"Apa macet kah?" tanya Elis.


"Ehm tidak, lancar kok"jawab Januar singkat.


Elis pun menjadi kikuk, lalu bergegas membereskan tas nya.


Bertatap mata dengan Januar membuat jantungnya tak aman, batinnya.

__ADS_1


Suasana rumah sakit berubah hening, januar memandang Naya lewat kaca.


Bangunlah pamerkan senyum mempesonamu, hadapi semua rintangan, kami selalu bersamamu.


__ADS_2