
Januar merasa sedikit tenang karena menurut suster, kondisi kesehatan Naya mengalami kemajuan pesat, luka di tubuhnya sudah mulai mengering, juga denyut di kepalanya sedikit berkurang, tentu saja itu karena Januar meminta pihak rumah sakit untuk memberikan obat-obat yang berkualitas tinggi yang hanya bisa mereka dapatkan lewat impor dari negara lain.
Nafas Naya tampak teratur, Januar pun segera me rebahkan tubuhnya di kursi besi panjang itu, jarum jam di pergelangan tangannya menunjukan pukul satu lewat lima belas menit.
Sementara itu di apartement, Danu memandang kosong ke luar jendela, pagi ini terasa sepi, tak seperti saat Naya masih berada di apartementnya.
Setiap pagi pasti terdengar suara dari dapur, tidak berisik, bahkan terasa hangat di hati nya.
Danu keluar kamar untuk mengambil air minum, biasanya saat melewati dapur pastilah sudah tercium harum masakan Naya yang tersaji di atas meja makan.
Glek.
Danu mengerjapkan matanya lalu menggelengkan kepalanya cepat.
Kenapa aku bisa teringat akan dirinya, sialan...,maki Danu dalam hati.Pastilah ia sedang tertawa bahagia karena merasa puas bisa bermesraan dengan para lelaki di apartementnya, sambung hati Danu.
Pria tampan itu bergegas kembali ke kamarnya untuk mandi, ia tak ingin membuang waktu percuma hanya untuk mengingat istrinya yang telah pergi.
Sesampainya di kantor, Sam menyambut dengan anggukan hormat.
"Agenda hari ini apa ada meeting di luar Sam?"tanya Danu.
"Tidak ada Bos, hanya rapat internal siang nanti."
"Baiklah, kau teruskan tugasmu."
Sam kembali meneruskan pekerjaannya sementara Danu keluar ruangan, untuk pergi mengisi perutnya.
Ke sebuah mall yang tak jauh dari gedung perusahaannya kini Danu berada, di sebuah food court Danu mengambil tempat duduk di sudut ruangan.
"Selamat pagi Tuan, silahkan pesan menu di sini" sapa salah satu karyawan dengan ramah.
"Mbak saya mau nasi goreng spesial dan teh manis hangat, itu saja" ucap danu singkat.
"Baik Tuan."
Pengunjung mall belum terlalu banyak karena memang baru pukul sepuluh pagi dan food court itu pun tampak baru buka.
Entah kenapa pagi ini Danu ingin sarapan nasi goreng.
Tiga puluh menit akhirnya pelayan datang dengan membawa pesanan Danu, dengan lahap pria tampan itu memakan nasi goreng special miliknya.
Spesial tapi rasanya tak se lezat buatan Naya, batinnya. Ia pernah makan nasi goreng yang Naya buat secara sembunyi-sembunyi dan di akuinya rasa masakan istrinya itu memang lezat dan pas di mulutnya.Mungkin karena lapar nasi goreng pun tandas tak tersisa.
Setelah membayar Danu pun pergi kembali ke kantornya.
Berkas di atas meja nya sudah menumpuk, rupanya Sam menyelesaikan dengan cepat.
Danu membuka ponsel saat ada pesan dari Silvy datang.
"Sayang aku kangen.."pesan Silvy.
__ADS_1
Danu tersenyum smirk lalu melihat pergelangan tangannya, rapat siang beberapa menit lagi.
"Datanglah ke sini, aku pun rindu padamu .."jawab Danu.
"Benarkah aku boleh datang ke kantormu? Apa kau tudak sedang sibuk?"tanya Sikvy.
"Kau lah yang paling penting dalam hidupku, aku tak perduli dengan yang lain."
Silvy tersenyum lebar lalu bergegas ke kantor Danu, ia membutuhkan dana untuk merawat Johan yang sekarang ada di rumah sakit.
Dengan langkah anggun Silvy melangkah penuh percaya diri, petugas resepsionis yang memang sudah mengenalnya menunduk hormat.
Ceklek, Silvy membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu membuat Danu mengerutkan alisnya hendak marah, namun senyumnya terbit saat ternyata Silvy yang datang.
Silvy berlari kecil untuk memeluk Danu, keduanya pun renggelam dalam pelukan erat.
Danu menatap Silvy penuh gairah, bibir merah sensual yang selalu membangkitkan gairahnya lalu di lumatnya benda kenyal itu dengan lahap, sesapan pun semakin kuat saat Silvy membalas ciumannya.
Cukup lama keduanya saling bertukar saliva, hingga Silvy dengan lembut mengurai pelukannya.
"Kenapa heum, apa kau tak rindu padaku?" tanya Danu.
Silvy memasang wajah mode murung, ia harus menjalankan sandiwaranya sebaik mungkin agar Danu percaya padanya.
"Kenapa wajahmu muram sayang heum?katakan padaku apa yang mengganggu pikiranmu?."
Silvy duduk manja di pangkuan Danu sambil jari tangan mengusap rambut Danu.
"Di tagih? kau punya hutang?berapa hutangmu hingga sampai di tagih segala?" Danu merasa panas telinganya mendengar cerita wanita terkasihnya.
"Bukan hutang sayang, aku sudah janji mau traktir mereka, tapi uangku belum cukup, Ayah sama Ibu belum transfer uang bulanan..." terang Silvy dengan wajah memelas.
Danu menghela nafas panjang.
"Katakan berapa yang kau butuhkan untuk mentraktir mereka hingga harus menunggu orang tuamu transfer?" tanya Danu sinis sambil bersiap untuk mengirimkan sejumlah uang lewat ponselnya.
"Seberapa aja deh, tabunganku masih ada sisa kok, cuma perlu tambahin sedikit" rajuk Silvy licik.
Danu dengan cepat mengetik nominal " Segini cukup?" tanyanya.
Mata Silvy berbinar terang benderang, senyum nya pun terbit, nominal yang Danu kirim cukup banyak.
"Cukup cukup, terima kasih sayang, aku akhirnya tak lagi malu saat mereka selalu menagihnya" Silvy sungguh ular berbisa yang licik dan bermuka dua.
"Katakan kalau masih kurang, jangan sampai mereka menghinamu lagi sayang ."
Silvy mengangguk cepat.
"Baiklah sayang, aku harus pergi, mereka sudah menungguku."
Danu mengangguk sambil membelai bibir merah Silvy.
__ADS_1
"Nanti malam aku datang, bersiaplah" ucapnya lirih di telinga Silvy, dan Silvy pun mengangguk dengan senyum smirk.
Bersamaan dengan keluarnya Silvy, Sam datang membawa berkas di tangannya.
"Rapat sepuluh menit lagi di mulai Bos."
"Apa semua peserta sudah hadir?"
"Sudah semua Bos."
*
*
*
Januar memasuki gedung perusahaan dengan langkah panjang, pagi ini Elis sudah datang untuk menggantikannya menunggu Naya, kondisi kesehatannya berangsur membaik, mungkin sore nanti ia akan di pindahkan ke ruang rawat.
Agenda hari ini hanya ada evaluasi data akhir bulan, dan tugas Naya pun banyak yang menumpuk.
Januar membereskan memo in di meja Naya dan membawanya ke ruangannya.
"Tuan bagaimana kabarnya Mbak Naya? bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Ujo.
"Heum lukanya tidak terlalu parah, tapi benturan di kepalanya membuatnya masih terasa pusing."
"A apa saya boleh menjenguk Tuan, kalau bisa sepulang kerja nanti saya akan ke rumah sakit."
Januar tertegun, Naya dan Ujo memang sudah dekat sejak sebelum ia datang ke perusahaan ini, bahkan mereka seperti sahabat, tak heran jika OB tersebut merasa kehilangan saat Naya tidak ada.
"Baiklah, nanti aku juga akan ke sana, kita bisa berangkat bersama, hari ini tugasku sangat banyak, tolong kau bilang staf agar mendistribusi data langsung ke meja di ruanganku, agar aku bisa langsung me nanda tanganinya" terang Januar.
"Baik Tuan."
Januar kembali fokus dengan tumpukan berkas di hadapannya, terasa pusing juga jika ia mengerjakannya sendiri, benar kata Tiwi, Naya sangat cekatan dan cerdas, kerjanya pun sangat bisa di andalkan, itulah mengapa Tiwi tak mau melepas Naya dari perusahaan Tinar Perkasa.
Pukul empat Januar sudah menyelesaikan pekerjaannya, janji dengan Elis untuk menunggu Naya adalah sampai sore, meski ia pun bersikeras akan menjaga Naya sampai malam.
"Kau sudah siap Bang Ujo?"
"Sudah Tuan, semua pekerjaan sudah saya bereskan semua."
"Heum ayo kita berangkat."
Januar melajukan mobil ke arah rumah sakit.
Kebetukan mereka datang pas jam besuk, hingga banyak berpapasan dengan para pengunjung.
Wajah tampan baby face Januar terlihat mencolok, banyak tatapan mata penuh rasa kagum memandang ke arahnya.
Bukan hanya kaum remaja namun para ibu-ibu pun tampak terpesona dengan wajah tampan Januar.
__ADS_1
Ujo hanya bisa menekan saliva kasar, tentu saja keberadaannya bagai mahluk tak kasat mata yang tak akan terlihat oleh mereka, wajahnya yang tampan kadang-kadang, mana mungkin bisa bersaing dengan ketampanan Januar yang maksimal.