Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Lambung Kecil


__ADS_3

Januar hanya bisa menggelengkan kepala saat Ujo begitu bersemangat melangkah di depannya.


Karena Naya sudah di pindah ke ruang rawat inap, Januar pun mencari nomor kamar yang Elis kirim padanya.


Keduanya masuk setelah terdengar suara Elis sedang berbincang dengan Naya di dalam ruangan.


"Mbak, bagaimana kabarnya Mbak Nay...kok bisa sampai begini" tanya Ujo dengan nata memindai tubuh Naya yang masih di perban kepalanya.


Naya hanya tersenyum haru melihat perhatian Ujo.


"Sudah Jo, Naya jangan di ajak bicara terlalu banyak, kata dokter kepalanya masih tak boleh banyak bergerak.


"Oohh" Ujo manggut-manggut lalu mengupas buah mangga yang ia bawa.


Naya hanya tersenyum tipis dan tak sengaja tatapannya bertemu dengan Januar yang rupanya tengah menatap ke arahnya juga.


Syukurlah senyum manismu kini telah kembali.


"P pak Jan saya..."


"Sstt jangan banyak bicara, ingat kata dokter jika kau ingin cepat pulang."


Januar berucap tegas lalu duduk di sofa yang ada tak jauh dari ranjang pasien.


Ck, tak ada rasa simpati sedikitpun, kau tetap dingin, Naya membatin.


"Mbak Nay, ini makan Mbak, saya sengaja bawa buah mangga kesukaan Mbak Nay...manis banget Mbak, manisnya kayak senyum Mbak Nay."


"Ah Elu bisa aja gombalin Naya Jo" timpal Elis.


"Bener Mbak El, mangga ini mangga harum manis, cobalah pasti kalian ketagihan dengan rasa manisnya yang seperti madu."


Ujo menyerahkan irisan buah ke elis agar menyuapkan pada Naya.


Dan benar saja, senyum Naya terbit saat rasa manis buah itu memang terasa seperti madu.


"Pak Jan mau buah mangganya?" tanya Naya lirih ke arah Januar.


Pria tampan itu menggeleng pelan lalu menyandarkan tubuhnya di atas sofa, meski wajahnya ke arah ponsel namun sesekali tatapannya mengarah ke interaksi antara Elis yang dengan telaten menyuapi Naya juga Ujo yang berceloteh ringan untuk menghiburnya.


Ternyata banyak yang perhatian dan menyayangimu, batin Januar.


Pukul delapan Ujo dan Elis pergi untuk pulang, kini tinggal Naya dan Januar.


Kamar VVIP yang Naya huni terasa begitu hening, jika tadi terasa hangat karena suara Elis dan Ujo yang saling bercanda, kini Januar mati kutu, sedangkan Naya sedang asik menonton televisi.


"Ehm hmm" deheman Januar memecah kesunyian.


Naya menoleh ke pria manis tersebut.

__ADS_1


"Pak, kalau Bapak Januar kurang sehat biar Bapak pulang saja, saya bisa kok sendiri, toh ada perawat yang akan siap menjaga dua puluh empat jam" ujar Naya ramah.


"T tidak, badanku sehat kok, dan di apartement pun aku tak banyak kegiatan" jawab Januar.Bisa di presto nanti sama kak Tiwi kalau sampai aku tidak menjagamu, batin Januar.


"Hm apa kau mau makan sesuatu? Biar aku belikan di luar?" tanya Januar.


Naya sejenak berfikir, minum jahe ronde sepertinya pas dan akan menghangatkan perutnya.


Januar mengerutkan alisnya, meski dia pernah dengar nama minuman tersebut tapi ia belum pernah merasakan langsung.


"Baiklah akan ku coba mencari nya" ujarnya.


"Terima kasih banyak Pak" ucap Naya ceria.


"Apa ada makanan lain yang kau inginkan selain minuman itu?" Januar berfikir jika semakin banyak Naya makan maka pemulihan kesehatannya akan semakin cepat.


Naya berfikir sejenak, lalu membuka ponselnya untuk mencari gambar satu makanan yang ia ingin.


"Apa itu?" tanya Januar melihat makanan yang Naya tunjukan lewat ponsel.


"Su su ra bi?" ucap Januar ragu, Naya mengangguk pelan.


"Kalau tidak ada nggak apa-apa Pak, makanan lain juga boleh" Naya mengerti kalau Januar hidup cukup lama di KL, jadi maklum kalau dia pun tak terlalu mengenal makanan bercita rasa manis khas Jawa Barat itu.


Januar lalu melangkah pergi setelah terlebih dahulu meminta perawat untuk menjaga Naya.


Naya memandang punggung Januar yang menghilang di balik pintu, ternyata atasannya berhati cukup lembut.


"Hah itu bukan pacar saya sus, dia adalah Bos saya, Atasan saya di kantor."


Perawat tersebut menutup mulutnya dengan tangan.


"Hah? Jadi dia atasan Mbak Naya?wah ...jarang banget lho Mbak, ada atasan yang sangat perhatian pada karyawannya" kembali perawat tersebut berucap.


Tentu saja ia sangat perhatian, mana tahu dalam hatinya, mungkin dia terpaksa karena kakaknya yang mengancam, ucap batin Naya.


Empat puluh menit telah berlalu, bahkan kini Naya mulai terasa mengantuk.


Apa iya Januar kesulitan mencari makanan yang ia minta? Bukankah rumah sakit tersebut terletak di pusat kota?pikir Naya.


Sambil menunggu kedatangan Januar, Naya mencoba menggelengkan kepalanya perlahan, rasa peningnya sudah jauh berkurang, lalu ia pun mencoba untuk bangkit dari tempat tidur, dengan gerakan lembut Naya mulai menurunkan kakinya ke bawah.


"Stop! Jangan lakukan!" tiba-tiba suara bernada tinggi muncul dari balik pintu.


Januar menatap tajam ke arah Naya.


"Apa yang akan kau lakukan?kau tahu apa yang dokter katakan?"wajah Januar kini sedang dalam mode sangat menakutkan hingga Naya tak sadar menundukan wajah, menatap mata yang setajam elang itu rasanya tak sanggup, batinnya.


"A aku hanya mau lihat jendela"kata Naya lirih.

__ADS_1


"Tunggu sebentar" Januar keluar ruangan setelah menaruh bungkusan di atas meja pasien.


Tatapan mata Naya kini tertuju pada bungkusan yang mengeluarkan wangi khas yang ia suka.


Matanya berbinar dan ia pun turun perlahan bermaksud mengambil bungkusan di atas meja.


"Ku bilang jangan kau gerakan tubuh semaumu, ingat kepalamu belum sepenuhnya pulih"Januar tampak kesal karena Naya tak memdengar perintahnya.


"Maaf" sesal Naya lirih.


"Sabarlah, aku akan mengambilnya untukmu, gunakan kursi roda ini kalau kau ingin ke mana-mana" terang Januar.


Naya hanya bisa diam pasrah, Januar menyisihkan minuman jahe ronde yang Naya pesan ke dalam mangkuk lalu meninggikan ranjang agar ia tak harus bangun dari tidurnya.


Naya membeku saat Januar menggeserkan kursi ke samping ranjangnya dengan tangan memegang mangkuk minuman jahe ronde hendak menyuapi Naya.


"P pak jangan, biar saya sendiri yang akan makan" ucap Naya gugup.


"Sehatkanlah dulu badanmu, baru kau bisa makan sendiri."


Glek.


Naya tak bisa menolak saat Januar mulai menyodorkan sendok ke mulutnya, beberapa kali mereka saling bertemu tatap,membuat Naya pun segera memalingkan pandangannya.


Sedangkan Januar terlihat tetap tenang bahkan sesekali mengambil tisu lalu di serahkan pada Naya.


"S sudah Pak, sudah kenyang" ucap Naya saat setengah mangkuk minuman hangat sudah tandas ke perutnya."


Januar lalu menaruh mangkuk di meja dan mengambil bungkusan berisi kue surabi yang masih hangat.


"Ini makan juga selagi hangat, kata penjualnya tak enak kalau sudah dingin" Januar berucap datar.


Mata Naya membulat ia tak habis pikir dengan atasannya tersebut, bagaimana mungkin ia masih menawarkan makan setelah semangkuk minuman mengisi perutnya.


"Tapi saya sudah kenyang Pak?"protes Naya lirih.


"Tapi sayang kalau tak ada yang makan nanti" timpal Januar tak rela usahanya susah payah mencari makanan tersebut berakhir sia-sia.


Naya tetap menggelengkan kepalanya, perutnya sungguh tak akan muat untuk di isi lagi.


"Ayo lah satu gigitan saja, kau pasti ketagihan" Januar bersikeras menyodorkan kue tersebut.


Naya membuka mulutnya terpaksa, dan saat itulah sepotong kue masuk ke mulutnya.


"Ghoeekh" mulut Naya tak sanggup lagi menampung makanan.


Januar segera menarik lagi kue yang ada di mulut Naya.


"Kau benar sudah kenyang?"tanya nya tak percaya, Naya mengangguk lirih.

__ADS_1


Semungil apa lambungmu hingga setengah mangkuk minuman sudah membuatmu kenyang?.


__ADS_2