
Semoga kali ini lulus sensor 🙏🙏🙏🙏
berat banget bestie, nyari kata dan kalimat yang tidak terlalu vulgar tapi kalian masih bisa menikmati kehangatannya 😅😅😅
jangan lupa tinggalin like vote dan koment yaaa😍😍😍😍😍🤗🤗🤗
💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Kenapa kalian diam?" tanya Kevin ketus.
Elis menggeleng pelan, dan Tiwi pun mengikuti gerakannya.
Kevin menatap Elis dan Tiwi bergantian, ada rasa ragu di hatinya, Naya, Elis, dan Tiwi mereka adalah tiga sahabat yang sangat dekat, mana mungkin kehidupan cinta Naya mereka tak tahu, batin Kevin.
Dett drrt.
"Ya halo ada apa Jan?" tanya Tiwi cepat karena ia berharap Januar adalah penolongnya di situasi yang kikuk ini.
"Kau di mana Mbak, dan ada siapa saja di situ?" tanya Januar di ujung telepon.
"Aku di cafe di daerah X, ada Anis, Elis dan Kevin?"jawab Tiwi spontan, tanpa sadar justru akan membuatnya jatuh lebih dalam ke suasana yang penuh dilema.
Januar mengerutkan alis, mendengar ada nama Kevin hatinya bertanya-tanya, apakah mereka sedang menyusun siasat untuk mendapatkan Naya, ia membatin.
"Tunggu aku di situ, aku sedang dalam perjalanan tak jauh dari cafe itu" Januar pun melajukan mobil menuju cafe di mana Tiwi berada.
Januar memang bermaksud akan membeli sesuatu untuk di bawa Anis pulang sebagai kenang-kenangan.
Tiwi diam membeku, ia merutuki kebodohannya, mengatakan sedang bersama Kevin sama saja ia sudah mengundang bahaya besar.
"Kenapa Lu Wi, wajah Lu tiba-tiba berubah, apa Lu sakit?" tanya Kevin.
Tiwi menggeleng cepat sambil terus berdo'a, sekali-kali mendo'a kan ban mobil Januar kempes mungkin tak apa, pikirnya.
"Apa kau tidak sibuk Vin?"pancing Tiwi.
"Tidak, semua urusan sudah di tangani tim profesionalku, dan aku seorang CEO sekaligus pemilik perusahaanku, siapa yang akan berani menegurku" jawab Kevin percaya diri.
Tiwi menghela nafas panjang, ia harus memutar otak agar Kevin segera pergi dari cafe tersebut sebelum Januar datang.
Ia tahu bagaimana sifat Januar, ia akan sangat posesif dengan orang yang di sayanginya, Tiwi takut kalau Kevin mengetahui jika adiknya lah pria yang sedang ia cari.
Di luar perkiraan Tiwi, Kevin justru memesan satu porsi spaghetti untuk ia makan.
Waktu menunjukan pukul empat sore, mungkin Januar sebentar lagi sampai di cafe itu, dada Tiwi semakin berdebar kencang membayangkan dua pria yang mencintai satu wanita saling bertemu tatap.
Kevin menghabiskan makan dengan lahap, seakan ingin melampiaskan semua emosinya.
Dan jantung Tiwi seakan berhenti mendadak saat Kevin melambai ke arah luar di mana Januar tengar berjalan memasuki cafe.
__ADS_1
"Nah mungkin saja dia tahu di kantornya ada pria yang sudah mencuri Naya dariku" ujar Kevin lalu melambai ke Januar.
Mati Gue, perang nih, umpat Tiwi dalam hati.
Januar dengan langkah tenang memasuki cafe, pembawaannya yang tenang dengan wajah tampan mempesona membuat beberapa wanita memcuri pandang ke arahnya.
Kevin tersenyum bangga.
"Lihatlah, adik Elu sudah mencuri hati banyak wamita di cafe ini, salut...tapi dia tetap cuek, gila ...bukan main" sanjung Kevin membuat Tiwi danElis tersenyum masam.
Andai Lu tahu kalau dialah yang telah berhasil mencuri hati Naya, Elis membatin.
"Wah apa kabar bro? baru pulang Lu?" tanya Kevin hangat, ia menggunakan bahasa formal di luar jam kerja, karena memang Januar lebih muda darinya.
Januar tersenyum tipis sambil membalas sodoran kepalan tangan Kevin sebagai salam keakraban.
"Baru pulang sekalian beli kado oleh-oleh buat yang mau pulang" jawab Januar sambil mengedikan dagu ke Anis, gadis ayu itu hanya tersipu malu.
"Wah kau mau pulang Nis, sedih dong pisah sama si ganteng ini" Kevin mengedikan alis pada Januar.
Januar hanya tersenyum datar.
"Oiya Lu sudah cukup lama kan gantiin Tiwi jadi atasan Naya?" tanya Kevin.
Januar mengangguk pasti.
"Apa maksudnya? Naya memang dekat dengan siapa saja, dia ramah dan hangat, wajar kalau banyak orang yang dekat dengan dia" jawab Januar jujur.
Tiwi semakin pucat sedang Elis tak sadar telah menghabiskan minumnya, karena panik.
"Bukan itu maksudnya, gue berniat melamarnya tapi dia menolak."
Netra Januar memandang Kevin tajam.
Berani-beraninya Lu melamar calon istriku, geram Januar dalam hati.
"Dia menolak dengan alasan kalau sudah ada lelaki lain di hatinya" sambung Kevin.
Januar tersenyum lega, ingin ia mengakui bahwa ialah pria itu, tapi perjanjian tak tertulis sudah ia ucapkan dengan Naya.
Jadi tak mungkin Januar mempublikasikan hubungannya saat ini.
"Kalau begitu nanti aku akan mencari tahu siapa pria yang dekat dengan Naya" ucap Januar datar.
Tiwi menghirup nafas panjang, hatinya begitu lega, kekhawatirannya tak terbukti, ia tersenyum pada Januar yang masih menahan diri untuk tidak mengungkap jati dirinya sebagai kekasih Naya.
"Oke, Gue tunggu informasi dari Elu" Kevin menepuk pundak Januar bangga.
"Gue pamit dulu."
__ADS_1
"Mau ke mana Lu langsung pergi?" tanya Tiwi.
"Mau menemui sang kekasih hatiku" jawab januar sambil melirik sinis ke arah Tiwi.
"Hah, hei ..siapa gadis beruntung itu bro?" ujar Kevin sambil menaikan suaranya karena Januar sudah menjauh.
"Belum saatnya kau mengetahuinya"Januar berlalu sambil melambaikan tangan di udara.
Kau siapkan saja jantungmu agar kuat mengetahuinya kelak.
Dengan semangat Januar melajukan kereta besi menuju apartement Naya,
sungguh ia sangat bahagia, Naya telah mengakuinya sebagai lelaki pilihannya.
Langkah Januar panjang menuju lobi apartemen lalu masuk ke dalam lift yang kebetulan hendak tertutup.
Teet.
Ceklek.
Wajah segar Naya muncul dari balik pintu, dengan baju rumahan yang sederhana tapi kecantikannya tetap terpancar indah.
Greepp.
"Hei hei ada apa ini?" tanya Naya yang terkejut tiba-tiba Januar memeluknya.
Januar perlahan mengurai pelukannya lalu menatap netra bening Naya.
"Apakah kau mencintaiku?" tanya nya dalam.
Naya mengangguk pasti.
"Apakah hanya ada aku di hatimu?" kembali Naya mengangguk namun hatinya penuh tanda tanya.
"Kalau begitu apakah kau bersedia menghabiskan waktu hingga akhir menutup usia hanya denganku" untuk kesekian kali Naya mengangguk.
Dengan gerakan lembut Januar meraih dagu Naya dan melabuhkan ciuman hangat di bibir lembut itu.
Wangi pasta gigi yang masih terasa segar dan manis membuat Januar semakin memperdalam ciumannya.
Dan hatinya bersorak kala Naya mulai membalas ******* bibirnya.
Januar semakin merapatkan pelukan hingga Naya terdorong langkahnya ke belakang, keduanya terhanyut dalam ciuman yang mulai panas.
Naya pun begitu terbuai dengan sesapan bibir Januar yang mulai bergerak liar hingga mengabsen rongga mulutnya.
Dan ruangan berukuran empat kali lima meter itu pun menjadi saksi bisu di mana tubuh polos keduanya kini saling menyatu.
Januar semakin memperdalam ciumannya kala Naya menancapkan kedua kuku tanyannya di punggungnya yang bidang, saat sesuatu yang selama ini ia jaga dengan segenap jiwa dan raganya akhirnya terkoyak.
__ADS_1