
"Jan, maaf..mungkin aku baru bisa datang ke rumah sakit siang nanti, hari ini sekertaris salonku tidak masuk" pesan Elis ke Januar.
"Tak apa, aku sudah mengosongkan jadwal sampai dua hari ke depan, jadi Mbak El tak usah khawatir, aku yang akan menunggunya."
"Oke Jan, terima kasih, mungkin sore aku akan ke sana."
"Tak usah kalau kau sedang repot Mbak, selesaikanlah urusanmu dulu yang terpenting."
"Baiklah Jan, nanti aku konfirmasi lagi."
Januar melirik Naya sekilas, ia melihat televisi tapi raut mukanya tampak murung, perban di kepalanya sudah di ganti pagi tadi, apakah ia merasa pusing lagi, batin Januar.
"Hmm hmm, apa kau ingin makan sesuatu?"tanya Januar memecah lamunan Naya.
Naya menggeleng lesu, ia baru menyadari bahwa rambutnya telah botak seluruhnya, ia bahkan shock saat perawat mengganti perban kepalanya, rambut hitam legam kebanggaan kini hanya tinggal kenangan, tangisnya dalam hati.
"Apa kau tidak apa-apa jika ku tinggal sebentar" tanya Januar, jika di belikan makanan mungkin Naya akan sedikit terhibur, batin Januar.
"Heum, tak apa-apa"jawab Naya pasti.
Januar ingin mencari makanan di rumah makan yang berada di sebrang rumah sakit.
Suasana masih terlihat ramai karena memang masih waktu istirahat, banyak karyawan dari berbagai instansi karena memang jalan tersebut dekat dengan gedung pemerintahan, gedung rumah sakit, juga bangunan perkantoran yang tentu saja banyak karyawan yang akan mencari makan siang di rumah makan tersebut.
Ingin menikmati suasana yang cukup tenang, Januar memilih tempat di sudut ruangan rumah makan besar tersebut.
"Tuan....benarkan tuan adalah pemilik perusahaan Tinar perkasa?" tanya satu suara yang berasal dari belakangnya yang tak lain adalah Sam.
Januar memindai Sam, ingatannya masih samar pada pria itu.
"Saya Sam, asisten Tuan Danu" jelas sam.
"Ooooh..."mulut Januar membulat.
"Sedang apa kau asisten Sam?"
"Saya sedang membeli makan untuk Tuan Danu, tuan."
Hm istri sekarat di rumah sakit tapi dia tenang-tenang saja bahkan makan enak dari restoran, batin Januar kesal.
Sam sadar raut wajah Januar berubah datar, tak se hangat tadi.
"Maaf Tuan, apa Tuan datang ke restoran ini sendiri?" tanya Sam penuh selidik, karena ia tak melihat keberadaan Naya.
Januar menatap Sam tajam, ia berfikir asisten suami Naya tampak ramah dan hangat, bahkan lebih perhatian pada Naya di bandung Danu sendiri.
__ADS_1
"Naya di rumah sakit" jawab Januar jujur, membuat Sam terkejut bukan main, atasannya sama sekali tak pernah mengatakan bahwa Naya sedang di rumah sakit.
"Benarkah?s sakit apa Non Naya, tuan?tapi tuan Danu tak pernah mengatakan kalau Non Naya sedang sakit."
Januar memandang Sam dengan intens dan tak ada kebohongan dari pancaran matanya.
"Dia kecelakaan" jawab Januar singkat.
Jederr!! bak suara petir di siang bolong, Sam diam tertegun di tempatnya berdiri, bahkan mulutnya masih membulat tak percaya.
Tak tega melihat Sam tampak begitu terpukul, akhirnya Januar menceritakan Naya kecelakaan versi yang Naya duga, ia tak mungkin menceritakan yang sesungguhnya pada orang kepercayaan Danu
"Ya Tuhan, non....kenapa jadi begini?"ucap Sam penuh sesal.
Sam tahu selama ini memang Danu tak pernah memperhatikan Naya, pria itu terkesan mengacuhkannya bahkan menegurnya karena Naya begitu perhatian padanya.
"Dia ada di rumah sakit Cepat Sehat, kalau kau mau menjenguknya" terang Januar.
"Tentu, tentu saya akan ke sana, mungkin sore nanti, tolong sampaikan salamku untuknya."
"Heum, baiklah...nanti akan ku sampaikan."
Januar lalu pergi setelah membayar makan siangnya, dan tak lupa ia pesan satu minuman jus buah mangga kesukaan Naya, juga beberapa makanan ringan.
Januar memasuki gerbang rumah sakit dan berjalan ke ruangan Naya.
Ceklek, Naya tersenyum melihat kedatangan Januar, sendirian di ruangan sungguh terasa sepi.
"Ini, minumlah jus mangga kesukaanmu" ucap Januar lalu menyerahkan segelas jus pada Naya.
Mata Naya berbinar, lalu segera meminumnya, matanya terus tertuju pada Januar yang masih mengeluarkan beberapa bungkusan yang berisi makanan yang di belinya di restoran tadi.
Mata Naya membulat bahagia, banyak makanan enak di atas meja yang tentu saja rasanya pasti lezat.
"Makanlah mana yang kau suka" tawar Januar hangat, senang rasanya Naya kembali ceria.
Andai kau tahu yang sebenarnya, suamimu lah yang telah membuatmu seperti ini.
Di tengah Naya asik mengunyah makanan tiba-tiba.
"Ohh aku belum mengabari Mas Danu, ya Tuhan ...pasti dia cemas" gumamnya lirih.
"Apa yang akan kau katakan padanya, sedangkan ia tak pernah menanyakan kabarmu sama sekali" timpal Januar sinis.
Naya tertegun, memang selama ini Danu sama sekali tak perduli apapun yang ia lakukan, bahkan ia memutuskan hubungan perkawinan begitu mudahnya hanya karena Naya memberi perhatian pada Sam asistennya.
__ADS_1
Danu menuduh tanpa alasan pada Naya bahwa ia memiliki lelaki lain, tapi Naya pun tak mau Danu mengatakan permasalahan rumah tangga pada ibunya Ningsih, biarlah nanti Naya sendiri yang akan menjelaskannya secara langsung.
"Makanlah, jangan kau buang waktumu percuma hanya untuk memikirkan lelaki brengsek itu" ucap Januar sarkas, Naya memandang Januar intens, kenapa nada bicara atasannya itu terdengar tak seperti biasanya, kasar dan penuh dendam, pikirnya.
Tak ingin kembali mengusik emosi tak jelas Januar, Naya pun meneruskan makan dengan mata kembali memandang layar televisi di depannya.
Pukul empat lebih tiga puluh menit terdengar ketukan pintu, Januar segera bangun dari tidurnya di atas sofa, sedangkan naya masih terlelap di atas ranjang pasien dengan tekevisi masih menyala.
Sam masuk dengan langkah perlahan, ia menatap tubuh Naya yang terbaring tak berdaya di atas ranjang.
Wanita yang begitu baik dan hangat, terbaring dengan kepala berbalut perban.
Sungguh malang nasibmu Nona, batin Sam lirih.
Sam melangkah mendekati ranjang dengan perlahan, sungguh miris pemandangan yang terpampang di depan matanya.
Tangan Sam terangkat hendak mengusap pungung tangan Naya namun tertahan saat Januar melarangnya.
"Jangan ganggu tidurnya" bisiknya tegas.
Glek.Sam hanya bisa melirik Januar lalu mengurungkan niatnya untuk memegang tangan Naya, pria tampan itu tampak sangat posesif pada istri atasannya itu.
"K kenapa bisa jadi seperti ini Tuan?" tanya Sam lirih.
Cih tanya pada bosmu, Januar membatin kesal.
"Nona kenapa denganmu Non?" suara Sam berat dan lirih.
Januar bangkit karena Naya tampak bergerak.
"Dasar batu, sudah ku bilang jangan ganggu tidurnya!"Januar berucap lirih namun sinis.
Sam hanya bisa pasrah saat Naya mulai mengerjapkan matanya, ia tersenyum lega.
"P pak Sam?" tanya Naya lirih.
"I iya ini saya Non, bagaimana keadaan Non Naya? Apa yang terjadi ?"
Naya beringsut hendak bangun dari tidurnya namun Januar cepat menahan tubuhnya, lalu merubah posisi ranjang menaikan bagian kepalanya agar lebih tinggi.
Sam hanya bisa melirik dengan hati berdebar, atasan Nona Naya tampak begitu dingin dan tegas, tapi begitu perhatian pada Naya.
Dengan telaten Januar membetulkan letak bantal agar Naya bisa bersandar lebih nyaman.
Siapa sebenarnya pria ini, bahkan Tuan Danu yang suami Non Naya sendiri, tidak se pengertian pria ini, Sam membatin penuh tanda tanya.
__ADS_1
ππππππ
Jangan lupa kasih komentar ya gaes, like dan vote nya juga, happy readingππππππ€π€π€π€