Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Mandi Keringat.


__ADS_3

Jangan lupa kasih vote nya yaa, happy reading 😘😘😘🤗🤗🤗🤗


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


"Hai gaess, sudah lama kalian menunggu?" sapa Kendra yang baru datang.


"Heum aku pun belum lama"jawab Januar.


"Oke, bagaimana kelanjutannya, apa ada titik terang?"sambung Kendra sambil menarik kursinya.


Januar menghela nafas kasar, ada yang mengganjal di hatinya, bagaimana jika dugaan Elis benar, bahwa Danu tidak berhubungan dengan kejadian yang menimpa Naya.


Kendra menatap Januar yang hanya diam lalu beralih ke Elis.


"Informasi terbaru anak buahku mengatakan bahwa kemungkinan besar Danu tak terlibat dengan kasus yang menimpa Naya" ujar Elis.


"Atas dasar apa anak buahmu berpendapat seperti itu?"tanya balik Kendra sinis, ia pun sangat tak rela jika Danu bisa lepas dari jerat hukum setelah semua kekejamannya terhadap Naya selama menjadi istrinya.


Jika Januar dan Kendra masih tak rela dengan Danu yang kemungkinan besar tak bersalah maka, maka berbeda dengan Sam yang kini sudah sedikit lega.


Dari semua bukti yang terkumpul, benar dugaannya bahwa bosnya memang tak bersalah, polisi yang juga sedang mengusut kasus tersebut kini masih mencari keberadaan Silvy yang menghilang bak di telan bumi.


"Brengsek, dasar wanita ******, kemana dia menghilang" umpat Danu kesal karena tiga jam ia tertahan di kantor polisi untuk memberikan kesaksian.


"Tenanglah Bos, kau harus mau bekerja sama dengan pihak berwajib agar masalah ini cepat selesai."


"Kau nggak usah menyuruhku bersabar jika belum pernah merasakan duduk di kantor polisi berjam-jam tanpa tahu masalah apa yang sedang kau hadapi."


Sam menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Wajah kusam Danu sepulang dari kantor polisi sudah menggambarkan bagaimana suasana hatinya saat ini.


"Tapi dengan cepatnya masalah ini selesai, mungkin Non Naya masih mau memaafkanmu Bos" kalimat Sam cukup membuat Danu terhibur.


"Benar juga ucapanmu" ujar Danu dengan wajah semangat.


"Maka dari itu bos, kau harus bisa memancing kekasihmu itu untuk datang ke apartemen."


Danu menatap Sam penuh intimidasi.


"Beraninya kau masih memanggil wanita ular itu sebagai kekasihku, atau kau mau ku pecat?"


Glek.


"B bukan itu maksud saya Bos, saya hanya tak ingin ikut berdosa karena memanggil Nona Silvy dengan panggilan wanita ular."


Danu hanya mendengus kesal lalu melangkah pergi dari ruangannya, badannya terasa penat, ingin ia merebahkan tubuh di kasurnya di apartemen.


"Ayo antar aku pulang sekarang"ajaknya pada Sam.


"T tapi masih ada berkas yang belum saya cek Bos."


"Ah besok saja, aku ingin segera tidur" timpal Danu.


Akhinya Sam hanya bisa pasrah membiarkan bosnya tertidur di belakangnya sedangkan ia mengemudi dengan tubuh dan pikiran yang juga tak kalah penat.

__ADS_1


Lu enak bos, badan kurang sehat bisa suruh-suruh orang, lha saya..udah badan ancur, kepala pusing, masih saja harus menuruti kemauanmu, Sam membatin kesal.


Meski mata terpejam tapi sebenarnya Danu tidak tidur, pikirannya menerawang jauh, tiba-tiba bayangan Sikvy berkelebat di pelupuk matanya, memori indah saat-saat mereka masih bersama, kehangatan dan sifat manja Sikvy sudah begitu melekat di hati Danu.


Meski mereka belum menikah tapi entah sudah berapa kali Danu melakukan hubungan terlarang dengan Silvy bahkan tubuh Silvy seakan candu baginya.


Haissttt, kenapa jadi ingat wanita ular itu, batin Danu sambil meremat kepalanya.


Tak di pungkiri memang layanan Silvy di atas ranjang sangat memuaskan, ia bahkan bisa gila jika tidak berhubungan dengannya meski hanya satu minggu.


Danu menggelengkan kepalanya berharap bayang Sikvy segera sirna, namun kini bayang wajah Silvy berubah menjadi bayang wajah Naya.


"Haisstt" ucap Danu kesal.


"Ada apa bos?" tanya Sam yang melihat Danu gelisah dari balik kaca spion.


"Heum, fokuskan saya kau menyupir" balas Danu singkat.


Danu tersenyum tipis, wajah cantik nan lembut yang belum pernah ia jamah sekalipun.


Silvy yang hanya menjadi kekasihnya sudah berkali-kali mereka melakukan hubungan terlarang tapi Naya yang sudah jelas sah dan wajib ia gauli tapi tak pernah ia jamah.


Maafkan aku Nay, aku memang suami bejat, batin Danu dengan dada sesak.


"Sam..Sam" pangil Danu tiba-tiba dari kursi belakang menepuk bahunya.


"Ada apa Bos?."


"Ikuti mobil sedang hitam itu tapi jangan terlalu dekat" ucap Danu cepat.


Sam pun menurut, kini ia mengikuti mobil sedan hitam yang melaju perlahan di depannya.


"Anda kenal siapa pemilik mobil itu bos?" tanya Sam.


"Heum?" Danu menjaqan singkat dengan deheman.


Dan benar saja mobil tersebut memasuki gang perumahan Silvy.


"Kita berhenti di depan "


Sam pun menurut, ia tidak mengikuti mobil yang masuk ke gerbang rumah Silvy.


Setelah beberapa rumah Sam baru menepikan mobilnya.


"Bos, kau tak masuk?" tanya Sam.


"Tunggu sebentar lagi" jawab Danu sambil mengamati keadaan di sekitar.


Setelah tiga puluh menit akhirnya Danu keluar dari mobilnya.


"Sekarang saatnya" ujarnya.


"Saya gimana bos?"


"Kau tunggu saja di sini, aku tak akan lama, kau jangan ke mana-mana."

__ADS_1


Sam mengangguk.


"Tak lama gimana? masa iya bertamu ke rumah kekasih hanya numpang lewat" gerutu Sam lirih.


Danu melangkah memasuki gerbang rumah Silvy, para satpam yang sudah mengenalnya pun mengangguk ramah.


Dengan langkah panjang Danu memasuki pintu rumah megah Silvy tanpa mengetuk, darahnya sudah mendidih hingga terasa ubun-ubun kepalanya, pria pemilik mobil sedan hitam pastilah sedang di kamar Silvy, dan Danu adalah pria berpengalaman dalam hal itu.


Saat dalam nafsu tinggi mereka jarang mengunci pintu kamar karena memang tak ada yang akan berani mengangu mereka.


Setelah menaruk nafas panjang Danu menarik tuas pintu kamar.


Dan pemandangan seperti dugaannya benar-benar terpampang nyata di depan matanya.


Dua tubuh polos yang sedang bergumul panas di atas ranjang tak menyadari kehadirannya.


******* penuh gairah keluar dari mulut Silvy bahkan racauan yang membuat darah Danu semakin mendidih.


"Dasar wanita ****** .....!!" teriakan Danu menggema di kamar membuat dua insan yang sedang mengayuh surga nirwana itu telonjak kaget.


Silvy langsung meloncat dari atas tubuh Deni dan menutup tubuhnya dengan selimut.


Sedangkan Deni yang merasa terganggu keasikannya hanya berdecak kesal.


"M mas Danu, k kapan kau datang?"tanya Silvy dengan wajah memucat.


"Dasar brengsek, pela***, jala**, ternyata memang kau wanita busuk" umpat Danu dengan nafas tersengal.


"Mas, i ini tak seperti yang kau pikirkan, d dia memaksaku Mas" ujar silvy gugup.


"Cih, darimana kau bilang dia yang memaksamu sedangkan kau mendesah panas di atasnya hah...menyesal aku lebih percaya padamu dari pada asistenku yang jujur itu, jijik aku melihatmu brengsek."


"Mas, mas Danu maafkan aku Mas....aku khilaf mas,....tunggu mas Danu...."teriak Silvy sambil mengejar Danu dengan tubuh polos hanya berbalut selimut.


"Ah sudahlah, biarkan dia pergi, toh masih ada aku di sini" Deni menarik tangan Silvy hingga wanita itu kembali ke kamarnya.


"Ayolah honey kita selesaikan urusan kita, jangan perdulikan lelaki lemah itu" ujar Deni sambil melepas selimut yang membalut tubuh sintal Silvy, gejolaknya yang belum tuntas membuat Deni tak perduli dengan keadaan di sekitarnya.


Pria itu pun melanjutkan kegiatan panasnya yang tertunda.


Silvipun akhirnya kembali mengerang saat Deni mengayuh kencang di atas tubuhnya keduanya kembali menyatu tanpa menghiraukan kepergian Danu.


"Ayo kita pulang..." ucap Danu yang masih memerah wajanya.


"P pulang bos, cepet amat" tanya Sam polos,Danu biasanya tak mengenal waktu jika sudah bersama Silvy.


"Wanita ****** itu sedang mandi keringat dengan korbannya yang lain."


Glek.


Sam menelan saliva kasar.


"Mandi keringat" ucapnya sambil mata menerawang membayangkan adegan yang sering ia lakukan bersama istrinya.


"Ah...kenapa malah bangun" ucapnya melihat kebagian bawah tubuhnya yang tiba-tiba mengeras.

__ADS_1


"Hei dasar blekok, bilangin sama Udin mu, tahan dulu nanti di rumah,tak ber empati sekali kau dengan kemalangan yang menimpa atasanmu Sam" rutuk Danu kesal


"Hee hee, maaf Bos."


__ADS_2