
Januar cepat merogoh ponsel dari saku celananya untuk menghubungi Aslan, begitupun Tiwi, pun menghubungi seseorang untuk menemuinya sore nanti.
Tak tok tak.
Tiwi melangkah ke ruangan pribadi di balik meja kerjanya.
"Bangunin Gue sore nanti, Gue harus bilang sama Kevin agar gerak cepat sebelum Naya kembali di sambar orang" gumaman Tiwi membuat Januar kaget.
"A apa yang terjadi dengan Naya mbak?" tanya Januar spontan.
"Ibu tirinya menjodohkan dia lagi dengan lelaki pilihannya,dasar wanita tua gila harta, nggak ada rasa empatinya sama sekali dia, betapa tersiksanya Naya betapa sakit hati Nayaku, dia di buat seperti robot penghasil uang oleh ibu tirinya yang kejam, sialan ..kalau perlu Gue suruh saja Kevin bawa kabur Naya, sekalian kawin lari" umpatan Tiwi terdengar jelas di telinga Januar.
"Tidak..tidak boleh!!" protesnya tiba-tiba, membuat Tiwi menghentikan langkahnya dan urung menuju ke kamar pribadinya.
"Apa maksudmu?" tanyanya.
"Kevin tidak boleh membawa Naya karena..."
"Lu tenag aja si Jan, Naya nggak bakal keluar dari Tinar kok, dia hanya cuti, sekalian cuti pernikahan dan bulan madunya, gue akan suruh mereka nikah di luar negri biar ibunya nggak bisa tahu, biar Naya lepas dari penderitaan yang selalu wanita itu buat."
"Bukan itu Mbak, bukan karena pekerjaan yang harus Naya pegang."
"Lalu apa Jan, kau ini berbelit belit sekali, buat aku tambah pusing."
"Kalau sampai Naya pergi dari sini dan menikah dengan Kevin maka kau akan melihat adikmu satu-satunya ini menjadi gila..."ucap Januar lantang.
__ADS_1
"Apa maksud...."
"Ya...aku mencintainya, adikmu ini sangat mencintai sahabatmu itu mbak, dialah wanita yang telah mencuri hatiku, wanita yang telah membuat dunia ku jungkir balik, wanita yang hampir membuatku gila..."nada suara Januar menggelegar dengan dada bergemuruh.
"Apa kau bilang?" Tiwi mendekati Januar perlahan, ia ingin memastikan kalau ucapan Januar bukanlah karena pengaruh alkohol yang ia minum tadi malam.
"Apa kau kurang jelas Mbak, haruskah aku ucapkan dengan gamblang kalau aku mencintai Naya, Kanaya Dewanti sahabat baikmu" ulang Januar lantang.
Bibir Tiwi bergetar, benarkah adik kecilnya telah jatuh cinta, jadi wanita yang ia maksud selama ini adalah Naya.
Tiwi menggelengkan kepalanya tak percaya, si dingin nan acuh Januar jatuh cinta pada Naya sahabat baiknya.
"Kau bohong, kau pasti hanya sedang terbawa perasaan karena kalian selalu bersama, kau satu kantor bahkan kalian pun pernah tinggal bersama, mungkin kau salah Jan, itu bukan cinta...kau pasti hanya merindukan sosok seorang kakak satu-satunya, kau pasti menganggap Naya seperti kakakmu sendiri, itu bukan cinta Jan..." Tiwi berusaha menyadarkan sang adik, namun Januar menghempaskan tangannya.
Januar melangkah keluar ruangan dengan langkah panjang.
Brakk!!.
"Eh buseet monyoong !!" Tiwi segera menutup mulutnya takut umpatan terdengar oleh Januar.
Meski seorang kakak tapi ia pun merasa takut saat Januar dalam mode singa lapar.
Langkah Januar terhenti saat bersamaan dengan Naya yang baru keluar dari lift dan memandangnya terkejut.
"Kau, kata Tiwi kau tidak masuk karena tak enak badan, kau sakit?" tanya Naya yang tangannya terjulur spontan ke arah kening januar untuk meraba suhu dengan punggung tangannya.
__ADS_1
"Hmm tidak panas" gumamnya sendiri.
"Syukurlah kalau kau sudah membaik, jangan tidur terlalu larut, dan jangan biarkan lambungmu kosong" pesan Naya lembut dengan senyum tulus.
Januar hanya diam mematung, pun saat Naya melangkah pergi menuju ruangannya.
Tak tok tak.
Langkah Tiwi terhenti saat melihat Januar ternyata masih di depan pintu lift, Tiwi memutar tubuhnya untuk menghindar dan menuju ruangan Naya, namun Januar sempat melitik sang kakak dengan senyum smirk.
Langkah Januar pelan tapi pasti, keluar dari lift menuju parkiran.
Dan senyumnya terbit setelah menunggu tiga puluh menit di dalam mobil, seperti dugaannya, Tiwi bersama Naya pergi dari gedung Tinar perkasa.
Mungkin perkiraan Tiwi kalau Januar sudah meninggalkan parkiran, namun dari jarak aman Januar diam-diam memantau dan mengikuti Fortuner Tiwi yang membelah kota.
"Kalian mau kemana?" tanya Januar pada Naya lewat pesan singkat.
"Tidak tahu, kakakmu tiba-tiba mengajakku pergi dari Tinar."
Januar meremat kemudi dengan kesal, kemana Tiwi akan membawa pergi Nayanya.
"Jangan kuatir kakakmu tidak akan mengajaku pergi jauh-jauh" kembali pesan Naya membuat Januar tersenyum masam.
Aku tak akan bisa merasa tenang sebelum kau menjadi milikku.
__ADS_1