Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Serasi


__ADS_3

Januar melirik dari sudut matanya, melihat sang asisten masih mengatur nafas.


"Minumlah..."Januar menyodorkan segelas air yang sudah di sediakan di atas meja.


"Terima kasih."


"Lap keringatmu" kembali Januar meraih tisu di depannya lalu menyerahkan pada Naya, kembali wanita cantik itu mengangguk hormat.


"Kau sakit?" tanya Januar yang melihat wajah Naya sedikit pucat.


Naya menggeleng pelan.


"Hanya pusing sedikit" ujarnya.


"Tahanlah sebentar, akan ku buat meeting ini di percepat" ucap Januar.


Naya mengangguk dan tersenyum tipis sebagai tanda ucapan terima kasih.


Januar membuang pandangannya ke arah lain karena ia tak ingin terus melihat senyum Naya yang membuat hatinya miris.


Tok tok tok.


Ceklek.


Sam menyapa dengan mengangguk hormat pada klien yang sudah beberapa menit lalu datang.


Namun tatapan Sam terhenti pada sosok wanita di hadapannya yang ternyata adalah Naya.


Wajah terkejutnya tak bisa ia tutupi membuat Januar mengalihkan tatapannya ke Sam lalu ke Naya.


Naya hanya mengangguk dan tersenyum tipis, ia memang sudah menduga kalau klien yang akan meeting dengan Tinar Perkasa adalah perusahaan suaminya.


Jika Sam tampak terkejut dan memperlihatkan anggukan hormat, beda dengan Danu, wajahnya tetap datar dan dingin.


Ia hanya melihat Naya sekilas lalu kembali fokus ke arah Januar, kedua pria tampan itu kini saling bertatap intens.


Cih mungkin selain Sam, atasanmu pun sudah menjadi mangsamu, dasar murahan, batin Danu geram.


"Selamat pagi, maaf atas keterlambatan kami" Danu berucap Formal.


"Tidak apa-apa karena kami pun belum cukup lama, hanya saja...saya minta meeting ini sedikit di percepat, asisten saya sedang tidak enak badan" ujar Januar jujur, ia sebenarnya ingin melihat bagaimana reaksi Danu saat ia memperhatikan Naya.


"Ehm baiklah, kita mulai langsung" jawab Danu tenang.


Perhatian sekali kau pada asistenmu, Danu membatin.


Sam menyerahkan berkas pada Danu yang kemudian Danu amati secara intens,sedangkan Naya hanya diam memperhatikan karena semua tugasnya sudah ada di tangan Januar.


Karena harga dan menimbang beberapa alasan akhirnya Januar menyetujui tanpa banyak alasan, ia mulai khawatir dengan Naya yang hanya diam dan wajahnya kian pucat.


Setelah menandatangani berkas dan saling berjabat tangan, Danu mengangguk hormat dan meninggalkan ruang meeting tanpa menoleh sedikitpun pada Naya.


Januar mengerutkan alisnya, ada rasa kesal di hatinya, begitu acuh pria itu pada istrinya sendiri, batinnya.

__ADS_1


"Non Nay, apa Nona sakit?" Sam mendekati Naya setelah terlebih dahulu mengangguk hormat pada Januar.


"Ehm tidak Pak Sam, aku hanya sedikit pusing mungkin karena aku belum sarapan tadi."


"Astaga, kenapa belum sarapan Nona, tunggulah sebentar, akan saya ambilkan makanan di pantry" ujar Sam bergegas.


"T tidak usah Pak, kami harus segera pulang, masih ada agenda penting hari ini" tolak Naya dengan halus sambil memandang Januar berharap atasannya itu bisa membantunya.


"I iya, kami ada meeting lagi setelah makan siang, dan ada berkas yang harus segera di lengkapi" timpal Januar sedikit gugup.


"Oh, kalau begitu hati-hati di jalan, jangan lupa makan Non" pesan Sam hangat.


Naya mengangguk lalu berjalan keluar ruang meeting mendahului Januar.


Ish dasar asisten tak punya sopan santun, geram Januar dalam hati.


"Permisi, kami pamit."


"Baik Tuan, terima kasih atas kerja samanya" Sam menjawab dengan hormat.


Kasihan sekali kau Nona, suamimu tak sedikitpun ber empati padamu, Sam membatin sambil memandang punggung Naya yang semakin menjauh bersama Januar.


Danu berdiri di depan jendela ruangannya yang menghadap area parkiran, matanya sinis memandang sang istri yang pergi meninggalkan gedung dengan Januar atasannya.


Geram rasa hatinya saat tak sedetik pun Naya melihat ke arahnya, istrinya seakan menganggapnya tak ada.


Dasar sialan, kau memang harus kuberi pelajaran, ucap Danu geram sambil mengepalkan tangannya.


Melihat wajah Naya semakin pucat, Januar mempercepat laju mobilnya dan berhenti di sebuah restoran tak jauh dari Tinar Perkasa.


"Aku tak mau kau pingsan karena kelaparan, turunlah, kita makan dulu" jawab Januar datar.


"Tapi aku tidak lapar" tolak Naya karena entah kenapa ia memang tak merasa lapar.


"Diamlah, kau harus memperhatikan kesehatanmu, jika bukan dirimu sendiri siapa lagi yang akan kau harapkan, sedangkan suamimu sendiri tidak perduli padamu."


Naya memandang Januar tajam, rupanya Januar tahu jika Danu adalah suaminya, pastilah Tiwi yang mengatakan padanya.


Tak ada pilihan lain, Naya mengikuti Januar memasuki restoran dan hanya diam saat atasannya tersebut memesan makanan.


Tak berapa lama seorang pelayan datang membawa nampan dan menyajikan di atas meja.


Sop ayam, nasi putih dan udang tempura sudah tersaji di atas meja juga satu gelas smothies buah yang Januar pesan.


"Makanlah yang banyak, sop ayam ini bagus untuk lambungmu, juga smothies buah akan membuat perutmu yang kosong terasa nyaman" jelas Januar datar, ia melihat Naya tampak tak bernafsu memakan sop nya.


Tatapan Naya mengarah ke smothies di depannya, ia pikir minuman sehat itu Januar pesan untuknya sendiri.


Glek glek.


Benar saja, segar dan nyaman di perut yang Naya rasakan setelah meneguk smothies tersebut.


"Apa kau perlu ke rumah sakit?" tanya Januar.

__ADS_1


"Untuk apa?" tanya balik Naya.


"Berkaca lah, wajahmu seperti mayat" jawab Januar sarkas.


Naya mencebik kesal lalu merogoh alat make up nya dari tas.


"Tidak perlu, aku hanya perlu ke kamar kecil sebentar" jawab Naya sambil bergegas ke kamar kecil.


Januar memandang tak mengerti apa maksud Naya.


Tak lebih dari lima belas menit Naya pun kembali dengan wajah lebih segar, rupanya ia menambah sedikit pewarna merah bibirnya.


Kenapa wajahnya cepat sekali berubah, pikir Januar.


Jika tadi Naya tampak pucat, kini wajahnya terlihat lebih segar, warna merah muda bibirnya membuat wajah manisnya tak lagi pucat dan sayu.


"Ayo kita pulang."


Naya mengangguk menurut.


Sepanjang perjalanan keduanya tak saling bicara, hanya keheningan yang terasa membosankan bagi Januar.


"Ehm hmm, apa kalian sedang tidak akur?" tanya Januar polos.


"Maksudnya?."


"Kau dan suamimu tak saling tegur sapa, bukankah itu namanya sedang tidak akur" sambung Januar.


Bukannya tidak akur, kami memang jarang saling bertegur sapa, meski satu rumah dan kami suami istri tapi sebenarnya kami adalah dua orang asing yang hanya terikat dalam tali pernikahan palsu, terang batin Naya.


"Ehm kami memang tidak se dekat itu" jawab Naya jujur.


Januar terdiam, dari raut wajahnya, Naya tampak enggan orang lain mengorek kehidupan pribadinya.


Sesampainya di gedung Tinar perkasa, Naya dan Januar langsung menuju ruangan, anggukan karyawan di balas dengan senyum manis Naya dan namun hanya wajah datar yang Januar perlihatkan.


"Siang Mbak Nay, siang Tuan?" sapa Ujo sambil senyum manis.


"Jo kau antar dia ke klinik, dan minta kan vitamin pada dokter, wajahnya pucat seperti mayat" ujar Januar santai lalu melangkah ke ruangannya.


"Siap Tuan" Ujo membalas dengan senyum senang, meski dingin tapi sebenarnya Tuan Januar sangat perhatian pada karyawannya.


"Kalian sangat serasi, yang wanita cantik dan imut, dan yang pria tampan dan baby face" bisik Ujo pada Naya.


"Husst kuwalat kamu Bang, di pecat tau rasa" umpat Naya sambil mencubit kecil pinggang Ujo.


"Aww aww ampun Mbak, ampun..saya cuma becanda kok" ucap Ujo sambil mengusap pinggangnya yang panas kena japitan jari Naya.


"Tapi...kalau Tuan nanggepin serius, saya setuju kok Mbak he hee..." sambung Ujo lagi lalu berlari menjauh dari Naya yang kini melotot ke arahnya.


Ujo pernah mendengar kalau Naya menikah karena perjodohan dan antara dia dan suaminya tak pernah ada cinta.


💜💜💜💜💜💜💜

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya, like koment dan vote ya say...😘😘😘🤗🤗🤗🤗🤗


__ADS_2