Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Bukan untuk Bersatu


__ADS_3

Naya hanya bisa pasrah dengan wajah merah bak kepiting rebus.


Perlakuan manis Januar membuat banyak orang di rumah sakit mengira kalau mereka adalah pasangan pengantin baru.


Mereka pulang setelah Naya menolak drama di mana Januar akan kembali membopongnya seperti saat mereka datang, Naya bersikeras meminta menggunakan kursi roda karena Januar melarangnya untuk berjalan.


Luka di kakinya sudah di obati dan juga di jahit seperti permintaan Januar.


Dengan ancaman kalau ia akan melarikan diri lagi akhirnya Januar memakai kursi roda untuk membawa Naya kembali ke mobil.


Sepanjang perjalanan keduanya terdiam, wajah Naya yang murung membuat Januar enggan mengusiknya.


Begitupun sesampainya di parkiran gedung apartemen di mana bu Heni dan Vega sudah menunggu mereka, Januar dengan wajah datar tetap mendorong kursi roda, tak membiarkan dua wanita itu untuk menggantikannya.


Bu Heni dan Vega akhirnya berjalan di belakang tanpa berani bersuara, mode wajah Januar bahkan lebih mengerikan dari se ekor singa lapar.


Vega bahkan menahan nafas saat pria itu meliriknya tajam, ia merasa bersalah telah membiarkan Naya pergi menemui Danu tanpa pengawalan, karena dirinya pergi ke perusahaan Tinar Perkasa untuk menaruh lamaran.


Bu Heni yang belum tahu duduk permasalahan pun tak berani bersuara.


Ceklek.


"Bu Hen, tolong suruh dia minum obatnya dan jangan biarkan dia keluar tanpa seijinku."


"Baik Mas Jan."


Januar masuk ke ruang kerjanya tanpa menoleh pada Naya.


"Huuufff haahhhh."


Vega dan Naya menghirup nafas panjang secara bersamaan seakan baru lolos dari bahaya besar yang mengintai mereka.


"Mbak Nay, sebenarnya ada apa? Kenapa kak Jan kelihatan sangat marah?"


"Entahlah mungkin karena aku pergi tanpa ijin dulu padanya."


Vega hanya mengerutkan alisnya, sebegitu protektifnya Januar pada Naya.


"Mbak Nay, mbak Vega ...ayo kita metis, ibu bawa banyak buah-buahan dari kampung" bu Heni mengeluarkan oleh-olehnya yang belum sempat ia buka.


Veda dan Naya pun tersenyum lebar, dengan penuh semangat Vega ikut membongkar oleh-oleh yang bu Heni bawa.


"Bu bagaimana keadaan putra ibu?" tanya Naya.


"Mungkin dia sakit karena kangen sama ibu, jadi setelah ibu pulang sakitnya langsung sembuh" terang bu Heni senang.


"Ohh, syukurlah kalau begitu bu, oiya Ga, bagaimana lamaranmu? apa di terima oleh pak Jan?"

__ADS_1


"Entahlah mbak Nay, aku juga bingung, tadi dia langsung lari dari ruangan setelah aku bilang mbak Naya pergi menemui suami mbak Nay.." jelas Vega muram.


Naya dan bu Heni saling pandang.


Kini Naya baru paham dari mana Januar tahu keberadaannya dan tiba-tiba muncul di dekatnya, mungkinkah pria itu tahu tentang Danu.


Bahkan Januar terlihat marah saat Naya terluka gara-gara Danu, ia seakan menegaskan bahwa Danu memang tak sebaik yang Naya kira.


***********


Malam hari Danu sungguh tak bisa memejamkan matanya, kejadian siang tadi membuat otaknya tak bisa berfikir jernih.


Masih tampak jelas bayangan wajah Naya yang memandangnya dengan tatapan sedih, air mata bahkan mengalir dari sudut mata indahnya.


Aku telah menghancurkan hatimu berkali-kali Nay, batin Danu lirih.


Drrt drrt.


"Bos non Silvy mengamuk di kantor polisi dan terus memanggil nama bos" pesan dari Sam yang telah di hubungi oleh pihak polisi.


"Kau urus dia Sam, aku tak mau lagi berurusan dengan wanita busuk itu."


"Tapi kalau pak polisi tanyain bos gimana bos?"


"Aku hanya akan datang nanti jika sidang berlangsung, dan dia bukan tanggung jawabku, semua yang telah ia lakukan tak ada hubungan sama sekali denganku."


Danu menatap layar ponsel saat pesannya tak dibaca oleh Naya dan panggilannya sejak siang tadi pun tak di angkat.


"Kenapa kau tak angkat teleponmu?" tanya Januar sambil menyerahkan ponsel ke arah Naya yang mengacuhkan panggilan sejak tadi.


Naya menggeleng acuh dan kembali matanya menatap kayar televisi, vega dan bu Heni pun saling pandang.


"Halo, Naya tidak mau bicara denganmu" ucap Januar santai, ia pun belum mengetahui cerita yang sebenarnya, hingga membuat Naya meninggalkan apartemen.


"Tolong sampaikan padanya, aku ingin bertemu" suara Danu lirih di ujung telepon.


Januar melirik Naya, ponsel yang sengaja ia aktifkan loudspeaker nya itu pasti akan terdengar oleh Naya saat Danu bicara.


"Baiklah nanti akan aku sampaikan."


"Tolong ju..." Danu memgerutkan alisnya saat melihat kayar ponsel yang ternyata sudah di tutup oleh Januar.


"Sialan.." umpatnya.


Januar kembali menaruh ponsel Naya di meja tepat di hadapannya, sejak dari apartemen tadi sikap Naya tampak dingin pada Danu.


Naya hanya melirik sekilas ke arah ponselnya, ia sama sekali tak berniat untuk membuka pesan dari pria yang masih berstatus suaminya itu.

__ADS_1


Ia kini sudah memutuskan, jika memang pernikahannya tak bisa di selamatkan lagi.


"Mbak Nay, mbak Vega..saya mau ke kamar dulu ya..sudah ngantuk" ucap bu Heni sambil menguap.


"Iya bu...saya juga sudah ngantuk" Naya pun bangun dari kursi roda hendak melangkah ke kamar namun teriakan bu Heni mengagetkannya.


"Mbak Nay...kenapa jalan, pakai kursinya mbak, nanti mas Jan marah" bisik bu Heni cemas sambil melihat ke arah pintu kamar Januar.


Naya pun mencebikkan bibirnya lalu menuju kamar, kali ini dengan kursi roda nya.


Vega hanya terkikik ringan, ketegasan Januar membuat Naya mati kutu.


"Ayo mbak, aku yang dorong, aku pun ngantuk."


Ceklek.


Vega tiba-tiba menghentikan dorongan tangannya saat pintu kamar Januar terbuka.


"Kalau mau tidur, minum dulu obatmu" ucapnya dingin namun membuat Vega menelan ludah kasar.


Ceklek, Januar kembali menutup pintu kamarnya.


"Minum dulu obatmu mbak" bisik Vega sambil menggerakan bahunya bergidik ngeri.


Kenapa Kak Januar overprotektif gitu sama mbak Naya, batjn Vega.


Karena sadar akan tidurnya yang mode jarum jam, Vega memutuskan tidur di kasur lantai agar gerak tubuhnya tak menganggu Naya yang masih luka.


Naya melihat Vega sudah terlelap, otaknya masih saja terus memutar adegan yang membuat dadanya sesak.Di layar ponsel Naya melihat banyak pesan Danu yang belum di bukanya, juga panggilan yang tak ia angkat.


Drrt drrt.


Mata Naya membulat saat pesan dari Januar datang.


"Kalau kau belum tidur, sempatkan dulu baca pesan dari dia, selesaikan secara baik-baik agar tidak menganggu fikiranmu."


Kalimat panjang Januar membuat Naya tertegun, pria itu sangat memperhatiakannya.Naya tersenyum mengingat sikap Januar yang begitu menggemaskan, wajahnya sangat datar dan dingin, namun jata-katanya membuat hati hangat, meski sikapnya dingin tapi Naya merasa nyaman saat bersamanya.


Ah kenapa aku jadi memikirkan pak Januar, pikir Naya sambil menggelengkan kepalanya.


"Naya maafkan aku.."


"Naya itu bukan seperti yang kau lihat, aku di jebak Nay.."


"Naya angkat teleponku!"


"Naya bisa kita bicara?"

__ADS_1


Dan masih banyak pesan dari Danu yang tak Naya buka, ia hanya ingin meminta maaf dan minta di mengerti, satupun ia tak menanyakan bagaimana keadaannya, kini Naya semakin yakin bahwa mereka memang di ciptakan bukan untuk bersatu.


__ADS_2