Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Adik Kesayangan


__ADS_3

Meski hati di landa Gundah, Danu harus tetap berangkat ke kantor karena hati ini sang asisten sudah ia suruh ijin untuk mencari informasi tentang Silvy.


"Mas....."Naya bermaksud menitipkan sarapan untuk asisten Sam.


Danu memalingkan wajahnya ke arah Naya, dengan tatapan sinis ia melihat wajah sang istri.


"Tidak usah kau bersikap manis untuk mencari perhatianku, aku tahu hanya harta lah yang menjadi tujuan utamamu menyetujui perjodohan ini, katakan berapa yang kau minta heum?katakan, agar aku bisa memberinya sekarang juga padamu...."kalimat Danu bagai sembilu yang menghujam ulu hatinya lalu mengorek lukanya hingga hancur tak berbentuk, srlama ini tak pernah terbersit sedikit pun di hati Naya untuk mengincar harta Danu.


"Aku tak sepicik itu Mas...."kalimat Naya lirih namun masih terdengar saat Danu melangkah pergi.


Denyut nyeri yang kini dada Naya rasakan, sesak rasanya tak terkira.


Perlahan Naya berjalan menuju kamar untuk bersiap berangkat, ia harus tegar, hancur dan sakit di hatinya harus ia simpan.


Pukul tujuh kurang sepuluh menit, Danu tak pernah berangkat se pagi ini, sedangkan asisten Sam tidak mampir ke apartement, Naya di landa bimbang karena ia sudah menyiapkan sarapan untuk asisten suaminya itu.


Seperti biasa Naya menggunakan stansportasi sepeda roda dua dari aplikasi online.


"Gedung PT.Tinar Perkasa Pak" ucap Naya ramah.


"Panggil abang aja Neng, saya belum mempunyai istri" jawab sang mengendara santai.


"Oh oke bang" jawab Naya sambil memasang helm nya.


Keahlian pengendara tersebut tak kalah dari pembalap Rosi, dengan lihai pengendara ojek tersebut mengurai kemacetan dalam waktu singkat.


Meski jantung berdebar kencang Naya akhirnya lega setelah mereka sampai di gerbang gedung perusahaan dengan selamat.


"Terima kasih Neng cantik" ucap abang ojol santai.


"Sama-sama Bang, hati-hati di jalan Bang, jangan ngebut, siapa tahu jodoh abang sedang menanti di rumahnya" ujar Naya sambil melambaikan tangan.


"Pagi Mbak Nay" sapa Ujo ramah begitu Naya muncuk dari lift.


"Pagi Bang Ujo, apa bang Ujo udah sarapan?"


" Sudah Mbak, tadi beli nasi uduk di warung depan gedung."


Naya menghela nafas panjang, sia-sia ia buat sarapan mitiaw goreng special.


"Pagi Tuan" sapa Ujo saat Januar muncul dari lift.


"Heum.."


Januar melangkah ke ruangannya namun langkahnya terhenti saat melewati pintu ruang Pantry yang terbuka, di lihatnya sang asisten tampak murung.


"Mbak, kenapa cemberut, sayang kalau wajah manis Mbak Naya tertutup kabut karena murung" ledek Ujo.

__ADS_1


Naya hanya menghela nafas kasar, padi ini ia sedang tak ingin bercanda.


"Jangan cemberut terus mba, takut nanti banyak semut datang berdemo ke Pantry."


"Apa urusannya banyak semut ke pantry Bang?"tanya Naya yang akhirnya penasaran dengan kalimat receh Ujo.


"Soalnya wajah Mbak Naya kelewat manis."


Naya hanya mencebik kesal karena ia bukan remaja lagi yang salah tingkah jika di puji.


"Eh Mbak Nay, Tuan Januar ternyata super tampan ya....kemarin saya hampir tidak mengenal beliau, sungguh....ternyata di balik jambang lebatnya tersimpan wajah tampan rupawan idaman kaum wanita" tutur Ujo penuh diplomatis.


"Hmm coba Bang Ujo kalau bilang langsung ke Tuan...berani?" tanya Naya.


Ujo menggeleng cepat.


"Tidak Mbak, saya masih ingin nyawa saya tetap melekat di badan saya, nggak berani saya godain beliau."


Naya pun masuk ke ruangannya membawa rice box, miris rasanya..orang lain banyak memuji kecantikan wajahnya sementara suami sendiri tak acuh bahkan seperti tak pernah menganggap Naya ada.


Naya hanya memandang rice box miliknya, rasa lapar seakan menghilang dari perutnya, sikap Danu sungguh sangat menyakiti hati Naya, tak terasa kedua mata cantik wanita itu mengembun, tatapan nya kosong ke arah jendela.


Apakah ia harus berhenti berharap, kasih sayang dan perhatian Danu hanyalah angan semata, sekeras apapun usahanya, tak akan pernah dibalas oleh Danu.


Danu begitu membencinya, bahkan tadi pagi Danu menyentaknya dan terang-terangan menghina bahwa ia hanya mengincar harta pria itu.


Tangis Naya akhirnya pecah, ia tak mampu lagi menahan kesedihan yang menyesakan dadanya, hati Naya sungguh hancur, seorang suami yang harusnya menjaga dan melindunginya ternyata malah menyakiti dan menghancurkan hatinya, Danu bagai seorang suami yang tak punya hati.


Tes.


Air mata jatuh dari sudut matanya, ia tak sanggup menyimpan kesedihan sendiri.


Naya terisak dengan wajah menunduk di atas meja, tubuhnya terguncang menahan tangis, tanpa di sadarinya Januar berdiri membeku di balik pintu yang setengah terbuka.


Apa yang membuatmu begitu bersedih.


Januar menutup kembali pintu dengan amat perlahan lalu pergi ke ruangannya dan menghubungi seseorang.


Tok tok tok.


Ceklek.


Ujo membuka pintu ruangan membawa kopi pahit pesanan Naya.


Suasana entah kenapa menjadi mencekam, dari sudut matanya Ujo melirik ke wajah Naya yang tampak sembab, matanya pun me merah.


"Silahkan di minum kopinya Mbak, Mbak Naya mau apa lagi?" tanya Ujo ramah.

__ADS_1


Naya hanya menggeleng pelan, Ujo pun keluar ruangan tak ingin mengganggu suasana hati wqnita cantik itu yang sedang memburuk.


Januar menyelesaikan tanda tangan lalu meregangkan tubuhnya, matanya melirik ke arah ponsel dan alisnya mengerut.


Ia sempat meminta kakaknya untuk menghibur Naya yang terlihat sangat bersedih pagi tadi, kenapa malah sekarang sang kakak menyuruhnya ke ruangan Naya untuk memakan bekal Naya.


Tok tok tok.


"Masuk" ucap Naya, hatinya merasa sedikit tenang setelah mencurahkan kesedihan pada sahabatnya Tiwi dan kini dadanya sedikit lega.


"Mana lagi berkas yang harus aku cek?" tanya Januar.


Naya memandang Januar bingung, hari ini belum ada berkas datang di memo in nya.


"Belum ada Pak." jawab Naya singkat.


"Oh belum ya."


Januar menggaruk kepalanya yang gatal, bagaimana caranya untuk me minta bekal Naya saat ini, pikirnya.


"Hmm wangi apa ini?" Januar mengenduskan cuping hidungnya.


Naya pun mengikuti Januar dengan mengendus, aroma harum apa yang membuat pria tampan itu bertanya-tanya.


Senyum Januar terbit saat rice box masih terlihat utuh.


Tanpa basa-basi Januar mengambil rice box tersebut lalu membukanya, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk garis lengkung.


Lumayan meski sudah dingin, ia membatin dan menyantap mietiaw buatan Naya dengan lahap.


Hanya beberapa menit, mie tiaw pun berpindah ke lambung Januar.


"Terima kasih, masakanmu sangat enak" ucap Januar jujur.


Meski kesal Naya pun terhibur melihat Januar begitu lahap menghabiskan bekalnya meski mungkin sudah lama dingin.


Januar keluar dari ruangan dengan lega, perutpun kenyang, wajah murung Naya sedikit ceria, hal kecil yang Januar lakukan sudah membuat Naya tersenyum.


"Bagaimana, apa kau sudah menghabiskan bekalnya" tanya Tiwi lewat pesan.


"Sudah, dua rice box sudah menghuni lambungku " jawab Januar.


Tiwi tertawa terbahak di ujung telepon.


"Kau memang adik kesayangan yang paling bisa ku andalkan, terima kasih muaacchhh" Tiwi mengakhiri obrolan dengan emot cinta.


Dan tawa Tiwi semakin keras saat Januar membalas dengan emot 'sedang muntah'.

__ADS_1


__ADS_2