Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Balada Ote-ote


__ADS_3

Januar membuka matanya pagi ini dengan santai, akhir minggu adalah waktu untuk beristirahat, pikirnya.


Semalam entah jam berapa ia bisa memejamkan matanya, ia sudah meminta bantuan Tiwi untuk meminta seorang pengacara yang handal untuk mendapingi Naya di sidang besok, memang Elis sudah meminta sahabatnya yang pengacara untuk membantu tapi Januar bersikeras untuk tetap meminta Tiwi menyiapkan pengacara terbaik untuk mengurusi masalah Naya.


Samar terdengar suara aktifitas di dapur membuat Januar bergegas bangkit dari ranjangnya.


Ceklek.


"Lho Mas Jan, di rumah? kira Ibu, mas Jan ikut mbak Nay sama mbak Vega jalan pagi."


"Tidak Bu, saya baru bangun?kapan mereka berangkat?"


"Mungkin setengah jam yang lalu, Ibu berpapasan saat membeli sayur."


Januar melihat jam di dinding, tiga puluh menit sudah cukup lama, kalaupun ia menyusul, mereka pasti sudah jauh.


Januar pun mengambil segesal air.


"Bu Heni mau masak apa?"di lihatnya Bu Heni mengeluarkan belanjaannya.


"Mau buat ote-ote, kesukaan mbak Nay, mumpung hari libur dan banyak waktu, tadi kebetulan ibu beli sayuran dan udang segar."


"Ote-ote apa itu bu?"tanya Januar penasaran karena baru mendengarnya.


"Ini mas, gorengan tepung berisi sayuran, semacam bakwan tapi di kasih udang" jelas bu Heni.


"Hm boleh saya bantu buatnya bu?"pinta Januar, membuat kening Bu Heni mengerut.


"Apa mas Jan bisa masak?"


"Saya waktu di KL sering di tinggal di rumah sendirian Bu, ayah dan ibu di rumah sakit, jadi saya sering masak sendiri" terangnya.


"Hm baik, ayo kita buat mas, tapi hati-hati kena minyak tangannya ya mas."


"Memangnya kenapa kalau kena minyak bu, masalah kecil itu mah."


"Ya tangan mas Jan yang putih mulus kan jadi luka nanti membekas kalau luka bekas minyak panas mah."


"Nggak apa-apa bu, sekalian saya belajar masak buat calon istri."


"Uhukk uhukk."


Bu Heni menatap Januar dengan mata membulat, tak ada angin tak ada hujan, tak pernah pria tampan itu menyinggung pacar eh sekalinya curhat malah sudah punya calon istri.


"Minum bu, kenapa ibu sepertinya terkejut."


"Ya iya lah, apa mas Jan benar sudah punya kekasih" tanya Bu Heni penasaran.


Januar mengangguk pasti.


"Masih proses bu" jawabnya sambil tersenyum smirk.

__ADS_1


"Waah selamat ya, beruntungnya gadis yang nanti jadi pacar mas Jan, semangat ya mas, semoga mas Jan cepat jadian sama gadis yang mas suka."


Januar mengangguk senang.


Bukan gadis bu, batinnya.


Bu Heni tertegun, Januar begitu telaten dan sangat fokus dengan niatnya, bahkan satu jam sudah pria tampan itu berkutat di dapur membantunya.


"Bagaimana bu rasanya?" tanya Januar setelah berhasil menggoreng ote-ore buatannya.


"Hm mantul mas, pasti Mbak Nay suka..enak banget, bahkan masakan ibu pun kalah sama buatan mas Jan" Bu Heni berkali-kali mengacungkan jempol pada Januar, rasa ote-ote buatan Januar sungguh pas di lidah.


"Hm saya mandi dulu bu, mungkin mereka sebentar lagi pulang, kita makan bareng."


Bu Heni mengangguk tersenyum lalu menyiapkan makanan di meja.


Dan benar saja beberapa menit kemudian Naya dan Vega pun muncul dengan wajah Vega yang penuh keringat.


Nafas Vega masih tampak memburu dengan dada kembang kempis.


"Hmm Bu Heni habis masak apa? Wanginya masih kecium" ujar Naya sambil mengenduskan cuping hidungnya lucu, Vega yang tak memyadari pun akhirnya mengikuti Naya ikut memgenduskan hidung mencari sumber harum masakan.


"Kalian mandilah dulu, nanti kita makan bersama" Naya dan Vega mengangguk lalu pergi ke kamar.


Ceklek.


Januar muncul dengan wajah segar dan rambut setengah basah, celana pendek dan kaos biru laut yang ia pakai terlihat pas di tubuhnya yang tegap dengan dadanya yang bidang.


"Bu mana mereka?"tanya nya.


Dengan dada berdebar Januar pun duduk menunggu dengan tak sabar.


Ceklek.


Dengan sekuat tenaga Januar menguasai hatinya yang gugup saat melihat Naya dan Vega muncul dari kamar.


"Hmm kau tidak keluar Kak Jan? Ini kan weekend?"tanya Vega.


Januar hanya menggeleng namun sempat melirik Naya dari sudut matanya.


Naya santai mengambil ote-ote dan mencelupkannya di sambal yang Bu Heni buat.


"Hmm Bu Hen, baru kali ini aku makan ote-ote se enak ini" ucap Naya sambil merem melek menggelengkan kepalanya, Januar hanya tersenyum tipis, hatinya merasa senang bahkan dadanya bagai di tumbuhi bunga warna-warni, lega rasanya jika Naya menyukai masakannya.


"Wahh iya betul...mantul Bu Hen" timpal Vega mengacungkan jempolnya semangat.


"Ini buatan mas Januar, kalian beruntung bisa menikmati masakan istimewa buatan tangannya,."


"Uhukk uhukk..." Naya menutup mulutnya karena ote-ote yang berada dalam mulutnya tersedak di tenggorokan.


"Jangan cepat-cepat mengunyahnya, minumlah" Januar menyodorkan segelas air ke Naya.

__ADS_1


Glek glek.


Ingin rasanya Naya menghilang dari muka bumi ini sekarang juga, rasa malu luar biasa, saat melihat Januar tersenyum tipis ke arahnya.


"Mbak Nay keselek saking enaknya makan ote-ote buatan kak Januar, iya kan mbak?" tanya Vega.


Naya mengangguk pelan.


"Iya, ibu juga kaget kalau mas Jan ternyata pintar masak, baru sekali di ajarin langsung bisa, katanya mau belajar masak buat calon istrinya nanti" terang Bu Heni.


Mata Naya semakin membulat saat melihat Januar hanya tersenyum tipis kearahnya.


"J jadi kak Jan sudah punya calon istri?"tanya Vega antusias.


"Sedang proses, do'a kan saja semoga kami bisa secepatnya bersatu" jawab Januar penuh percaya diri.


"Aamiin.."


"Aamiin.."


Bu Heni dan Vega meng amin kan bersamaan, hanya Naya yang tetap membungkam rapat mulutnya.


"Ehmm hmm, kau tidak meng aminkan Nay?" sindiran halus Januar membuat mata Naya melotot.


"Iya mbak Nay, aamiin kan juga dong Mbak.."cerca Vega.


"Iy iya...aa m ii n..." ucapnya lirih.


"Yang keras dong" protes Januar.


Kembali Naya menatap Januar dengan sinis namun akhirnya berucap dengan lantang.


"Aamiin.."


"Naah gitu"dalam hati Januar bersorak girang.


"Maaf aku mau ke ruanganku dulu, ada yang harus aku kerjakan" Januar pamit untuk ke ruang kerjanya.


Naya kini merasa sedikit lega, nafsu makan yang tadi menggebu karena lezatnya ote-ote kini mulutnya seakan terasa pahit, hilang sudah nafsu makannya.


Vega dan Bu Heni yang kini asik menikmati masakan Januar yang memang lezat.


"Mbak Nay, maaf ya besok aku tidak bisa menemanimu sidang, aku kan sudah mulai masuk kerja, nggak enak sama kak ..eh Pak Januar kalau hari pertama sudah bolos."


"Iya nggak apa-apa Ga, aku cuma minta do'a nya agar sidang besok lancar."


"Iya mbak, do'aku selalu untukmu, oiya aku pulang dulu ya, takut Ayah nunggu di rumah."


Vega pun pergi setelah mencium pipi kiri kanan Naya dan Bu Heni.


"Tinggu mbak Vega, bareng Ibu juga, ada yang harus ibu beli di mini market di bawah"Bu Heni bergegas mengambil dompet di kamarnya dan dua wanita beda generasi itu pun pergi bersama.

__ADS_1


Selesai membereskan peralatan Naya lalu mencuci piring bekas makan mereka, suasana apartemen kembali hening, namun tiba-tiba..


"Hhm memang rajin calon istriku ini."


__ADS_2