Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Bocah Licik


__ADS_3

Karena permintaan Naya, Januar terpaksa merahasiakan hubungan mereka agar tak ada orang lain yang boleh mengetahuinya.


Begitupun Bu Heni, jika di dalam apartement Januar dan Naya bersikap biasa saja namun saat di mobil lah bisa mengekspresikan isi hati dan perasaan mereka.


Januar akan selalu menggenggam erat tangan Naya sedang satu tangannya lagi memegang kemudi, berbahaya memang, tapi Januar sudah di butakan oleh cintanya pada Naya.


Rasanya waktu berjalan sangat lambat bagi Januar, ia menghitung hari di mana sidang perceraian Naya akan dilaksanakan.


Naya memandang januar yang menghempaskan nafasnya kasar.


"Ada apa, apa ada sesuatu yang mengganggumu ?" tanya Naya.


"Rasanya lama sekali waktu berjalan"jawab Januar terdengar puitis.


"Memangnya apa yang sedang kau tunggu?"


"Hari perceraianmu" jawab Januar jujur.


Biarlah kali ini ia menjadi orang yang jahat karena mendo'a kan kehancuran rumah tangga orang lain.


"Ish....jahat sekali kau" Naya menghempaskan tangan kekar Januar.


"Itu semua karena aku ingin segera memilikimu sayang, aku tak mau hubungan kita hanya seperti ini, aku ingin kau kelak menjadi istriku, wanita yang akan melahirkan anak-anakku nantinya.


Jederr.


Naya diam membeku, rupanya harapan Januar sudah sangat jauh padanya, benarkah pria di sebelahnya akan menjadi suamimya kelak? apakah ia sudah siap untuk kembali menerima seorang lelaki menjadi pendamping hidup setelah kehancuran pernikahan singkatnya.


"Kenapa kau diam sayang?"


"T tidak, aku hanya belum berfikir sejauh itu, aku bahkan tak berani membayangkannya, kau dan aku sungguh jauh berbeda, dengan segala kekurangan yang ada padaku, apa kah aku pantas untukmu."


"Sstt...jangan pernah berfikir kau dan aku berbeda, tak ada yang bisa memisahkan kita, cinta lah yang akan membuat kita bersatu, dengar...dari dalam hatiku paling dalam, kau lah satu-satunya tujuan hidupku."


Naya membuang matanya, ia tak sanggup menatap Januar, tatapan penuh asa tentang sebuah mimpi untuk hidup bersama dalam sebuah ikatan pernikahan, sedangkan hal itu masih meninggalkan bekas luka di hati Naya.


Esok adalah sidang kedua kasus kecelakaan yang menimpanya, sebenarnya Naya enggan duduk berjam-jam untuk menjalani sidang, apalagi sidang perceraian yang kelak harus ia jalani.


Januar mencium punggung tangan Naya sebelum membuka pintu mobil.


Seperti biasa, keduanya masing-masing bersikap profesional jika di dalam kantor, tapi Januar masih bisa mencuri waktu dengan selalu mengirimi pesan romantis maupun panggilan vidio di kala waktu senggang.


"Sayang ...makan siang nanti kita ke mana?"pesan Januar dengan senyum tipis.


"Aku sudah memesan sama Vega, dia nanti keluar."


Januar menghela nafas kecewa.

__ADS_1


"Sidang besok kau harus berangkat bersamaku, katakan pada Mbak Elis untuk tak perlu menjemputmu."


"T tapi Aslan sudah janji akan menjemputku" tolak Naya.


"Batalkan!"Januar sangat benci pada pria itu, pria yang di gilai banyak wanita, mungkin saja Naya akan goyah jika mereka sering berdekatan, pikir hati Januar.


"Baiklah" Naya menghempaskan tubuhnya di kursi, sifat posesif Januar membuatnya tak bisa bebas berkutik.


Sore pun tiba, Januar membereskan berkasnya segera, ia sudah me wanti Naya agar pulang bersama.


Seperti biasa, sepanjang perjalanan Januar tak pernah melepas genggaman tangannya dari Naya, dan itu sudah cukup membuat hatinya berbunga-bunga.


Januar dan Naya saling pandang saat memasuki apartemen karena suasana tampak hening.Biasanya sore begini Bu heni pasti menonton acara televisi kesukaannya.


Naya mencari ke semua ruang namun Bu Heni tak ada, di kamarnya pun kosong.


"Bu , Ibu sedang ada di mana?" tanya Januar lewat panggilan ponselnya.


"Ibu ada di Mini market di sebrang jalan Mas, mau meli pasta gigi" jawab Bu Heni.


Keduanya menghela nafas lega.


Greep.


Januar tiba-tiba memeluk tubuh Naya dari belakang.


"Sampai kapan kita harus menyembunyikan hubungan kita" bisiknya di telinga Naya.


Januar tetap diam tak bergerak, seakan ia ingin menikmati sepuasnya aroma wangi Naya.


"Hei ..lepas, nanti Bu Heni datang" Naya berusaha mengurai tangan Januar yang memeluk pinggangnya erat namun, Pria yang sedang kasmaaran itu tak membiarkannya begitu saja.


"Panggil aku yang benar" titahnya datar.


"P pak Jan tolong lepaskan pelukan ini.." rengek Naya yang terlihat mulai panik.


"Pak? apa kita sedang di kantor?"sindir Januar kesal.


"Ck sayang tolong lepaskan pelukanmu sebelum Bu Heni melihat kita seperti ini."


Januar menyeringai puas, memang berat untuk meminta Naya bersikap mesra padanya.


"Memangnya kenapa kalau Bu Heni melihatnya, toh kita hanya berpelukan."


"Ish.."Naya hanya mencebik kesal, Januar memang selalu keras kepala dengan pendapatnya.


"Aku sudah tak sabar ingin segera memilikimu seutuhnya, bisakah perceraianmu di percepat" Januar berucap lirih sambil terus mengendus tengkuk Naya.

__ADS_1


"Sayang tolong lepaskan sebelum sendok ini melayang ke kepalamu" ancam Naya sambil mengayunkan sendok sayur yang di pegangnya.


"Tak apa sendok melayang, asal aku bisa terus memelukmu" santai Januar menjawab hingga Naya mulai tak sabar, ia berusaha menggapai rambut Januar dan menjambaknya cukup keras, namun bersamaan dengan itu Januar menghindar dan berakibat salah satu tangan Naya menyikut matanya.


"Aawkkhhh...." pekik Januar lalu menjatuhkan tubuh sambil mengerang memegang mata kanannya.


"Hah maaf ...pak maafkan sungguh aku tak sengaja... sakit kah?"Naya panik saat Januar terus menunduk sambil menutupi matanya.


Naya berusaha mengurai tangan Januar agar ia bisa meniup matanya.


"Aduhh, coba ku lihat...sayang tolong buka tanganmu.."


Cupp.


Dengan gerakan gesit dan cepat Januar membuka tangan bersamaan memajukan wajahnya untuk mendaratkan ciuman di bibir Naya.


Gerakan singkat yang Januar layangkan membuat Naya diam membeku, sedangkan Januar bangkit lalu berlari ke kamarnya sambil terkekeh.


Ceklek.


"Lho mbak Nay kenapa duduk di bawah?"tanya Bu Heni terkejut saat melihat Naya duduk bersimpuh dengan tatapan kosong dan shock sambil tangan memegang bibirmya.


"Mbak, mbak Naya kenapaa?" kembali Bu Heni berteriak panik lalu berlari ke pintu kamar Januar.


Tok tok tok.


"Mas, Mas Jan..tolongin Mbak Naya..."teriaknya panik.


Ceklek.


Januar dengan rambut acak-acakan dan beberapa kancing kemeja yang sudah terbuka keluar kamar, dengan wajah polosnya ia melihat Naya yang masih shock dengan yang apa telah di perbuatnya.


"Kenapa Naya bu ?"Januar sungguh apik memainkan dramanya, ia bergaya bak aktor yang sedang terkejut dan baru bangun tidur, bahkan ia sengaja mengacak rambutnya.


"Tidak tahu mas Jan, waktu Ibu datang Mbak Nay sudah duduk diam seperti ini, dan lihat tatapan matanya pun kosong" terang Bu Heni cemas, sedangkan Januar bersorak dalam hati.


Tak ingin membuang kesempatan Januar segera membopong tubuh Naya menuju sofa dan membaringkannya.


"Tolong ambilkan air hangat Bu Hen."


"B baik Mas" Bu Heni bergegas menuju dapur.


Sedangkan Naya menghempaskan tubuh Januar dengan kesal, Januar terkekeh kecil,wajah Naya masih merah merona dengan mata melotot kearahnya, tingkahnya tampak sangat menggemaskan.


"Awas saja kalau kau ulangi lagi" geram lirih Naya sambil mencubit pinggang Januar, membuat pria itu meringis.


"Aawwh awwh..." Januar sengaja meninggikan suaranya agar terdengar oleh Bu Heni di dapur hingga Naya terpaksa melepas jepitan tangannya.

__ADS_1


"Dasar bocah licik" bisik Naya geram.


"Biar bocah, tapi aku juga bisa membuat seorang bocah bersamamu"bisiknya dengan seringai puas.


__ADS_2