Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Meeting


__ADS_3

Hari ini adalah ulang tahunnya, tapi seharian ia hanya menghabiskan dengan tangis kesedihan.


Januar tak bisa berbuat banyak dan ia pun tak ingin mencampuri kehidupan rumah tangga orang lain meskipun Naya adalah salah satu karyawannya.


Januar berusaha memejamkan matanya mesti hati dan pikirannya berada di tempat lain.Berharap kantuk segera datang, Januar mengambil ponsel di atas nakas.


Ia melihat status yang di tulis sang kakak yang mengucapkan selamat dan do'a untuk Naya di hari kelahirannya.


"Kak siapa nama suaminya?" tanya Januar iseng, entah kenapa tiba-tiba ia ingin mengetahui siapa suami Naya.


Dan Januar melihat balasan yang sang Kakaknya kirimkan.


Gambar seorang pria tampan yang menjadi suami Naya, dan yang lebih mengejutkan lagi adalah pria itulah yang tempo hari ia lihat sedang bermesraan di mobil dengan wanita yang tentu saja bukan Naya.


Januar mengerutkan alisnya dan tanpa sadar membawa tangannya untuk terus berselancar di dunia maya mencari siapa sebenarnya pria pemilik nama Danu tersebut.


Tak sadar ia pun mulai terlelap.


Pagi hari Januar bangun dengan tergesa, pukul tujuh kurang sepuluh menit, ia tertidur dan lupa tak menyala kan alarm ponsel.


Dengan gerak cepat Januar menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lalu memakai seragam kantornya.


Langkahnya panjang keluar kamar menuju pintu namun di ruang tengah langkahnya terhenti saat secarik kertas tergeletak di atas meja makan.


"Terima kasih telah menampung kami, budi baik mu tak akan kami lupakan..." kalimat singkat yang Elis tulis membuat Januar tersenyum masam.


Rupanya dua sahabat kakaknya sudah pergi dan ruangan pun sudah kembali rapi dan harum.


Kalau bukan karena ancaman Tiwi, mana mau ia menampung dua wanita untuk bermalam di apartementnya apalagi salah satunya berstatus istri orang.


Januar melajukan mobil dengan cukup kencang, pagi ini ada rapat dengan suplier yang akan merundingkan harga bahan bangunan yang kian melambung tinggi.


"Pagi Tuan.."sapa ramah Ujo seperti biasa.


"Heum, pagi Jo..apa asisten Naya sudah datang?" tanya Januar sambil melangkah ke ruangannya.


"B belum Tuan, ini juga saya sedang menunggu, tak biasanya Non Naya terlambat" terang Ujo.


"Kalau begitu tolong ambilkan berkas untuk meeting hari ini di mejanya" titah Januar.


"Baik Tuan."

__ADS_1


Pria tampan itu segera menge cek ulang berkas yang sudah Naya periksa lalu ia tanda tangani.


"Jo tolong nanti kalau Naya datang, suruh langsung menyusul ke perusahaan Bangun Jaya segera."


Ujo mengangguk hormat, Januar dengan langkah panjang kembali keluar ruangan, sisa waktunya hanya tinggal beberapa menit lagi, dan tak mungkin jika ia tetap menunggu Naya.


Sementara itu Naya masih termenung di belakang pengemudi ojek online yang sedang membawanya ke PT.Tinar Perkasa.


Ucapan Danu sungguh sangat menyakitinya.


Pagi tadi Danu memandang Naya sinis, tatapannya jijik dan angkuh karena ia sudah termakan hasutan Silvy.


Naya berusaha acuh karena ia sedang terburu-buru memakai sepatu pantofelnya, selain tak perduli dengan apa yang ada dalam pikiran Danu, Naya pun sedang merasa sangat pusing, jadi ia tak sempat membuat sarapan.


"Aku berangkat dulu Mas, maaf waktuku sedikit." terang Naya lalu mengangguk hormat saat meninggalkan Danu.


Tumben tak menitipkan sarapan untuk selingkuhanmu itu, Danu membatin sinis, tentu saja yang ia maksud adalah Sam asistennya.


Beberapa menit kemudian.


Tok tok tok.


"Masuk"


Dengan wajah ceria tanpa dosa, Sam duduk di hadapan Danu, ia berfikir atasannya sudah menyadari kesalahan yang telah ia perbuat.


"Ehm hmm" suara deheman Danu berat.


Sam hanya melirik sekilas, kenapa sang Bos tidak segera bersiap untuk berangkat, sedangkan pagi ini ada meeting dengan salah satu kliennya.


"Sam, sebelumnya aku mau tanya, dari mana kau dapat foto-foto Silvy?" tanya Danu dingin.


Glek.


Sam merasa ada yang salah dengan sikap Danu, tatapannya sangat tak bersahabat, bahkan terkesan mengintimidasi.


"Saya dapat dari orang kepercayaan saya Bos."


Wajah Danu masih tetap datar dan dingin.


"Mulai sekarang jangan pernah lagi kau melaporkan berita yang bohong kepadaku, atau .....kau memang berniat menghancurkan hubungan kami?"

__ADS_1


"M maksudnya apa Bos?" tanya Sam tak mengerti.


"Dengar Sam, untuk kali ini aku akan memaafkanmu tapi lain kali tak akan ku biarkan kau memfitnah Silvy, aku sama sekali tak percaya dengan semua yang telah kau katakan, dan katakan, siapa orang yang telah menyuruhmu memfitnah Silvy heum?" tatapan Danu tajam ke arah Sam.


"T tapi sungguh saya tidak pernah berbohong Bos, saya tidak akan mengatakan berita yang tidak benar tentang Nona Silvy pada anda, apalagi memfitnahnya, itu semua bukan rekayasa Bos, percayalah" ujar Sam sungguh-sungguh.


"Diam...kau masih ku maafkan karena kau sudah lama bekerja denganku tapi kali ini aku tak akan percaya dengan semua tipu muslihatmu, aku yakin kau sudah bekerja sama dengan Naya, benar kan?kalian sudah bersekongkol untuk menjatuhkan harga diri Silvy di hadapanku, tapi ingat...aku tak percaya semua yang telah kau berikan, semua foto-foto itu adalah editan yang kalian buat."


"B bos sungguh tidak seperti itu, saya tidak memfitnah Non Silvy, semua itu benar Bos, kalau kau tak percaya masih ada bukti lain yang saya simpan dan akan....."


"Cukup, sudahi kebodohanmu Sam, berani-beraninya kau fitnah calon istriku, jika hal ini terulang lagi, maka aku tak akan tinggal diam, kau dan wanita murahan itu akan habis di tanganku..." kalimat Danu dingin dan tegas.


Sam hanya bisa menghela nafas pasrah, rupanya sang Bos masih termakan bujuk rayuan wanita ular itu, bahkan kini Non Naya pun ia fitnah.


Dasar wanita ular, tak akan ku biarkan Tuanku menjadi milikmu.


Sepanjang perjalanan, Sam tak berani bersuara, bahkan nafas pun ia tahan sepelan mungkin, tengkuknya terasa dingin, Danu bagai seorang malaikat pencabut nyawa yang selalu mengikuti gerak langkahnya.


Entah apa yang wanita ular itu katakan hingga Danu bisa dengan mudah memutar balikan fakta, seolah Silvy lah yang teraniaya, sedangkan sebenarnya dia adalah wanita licik dan culas.


Beberapa kali Sam mengeratkan gigi nya hingga rahangnya pun mengembung keras, ingin sekali ia men cekik Silvy.


Danu memasuki perusahaan dengan penuh percaya diri, meeting kali ini sudah ia rencanakan secara matang dan berkas berisi daftar harga bahan material sudah ia perincikan, hanya tinggal menunggu persetujuan klien maka tender itu akan menghasilkan untung besar, mata Danu berbinar ceria membayangkan banyak laba yang akan ia peroleh jika klien menyetujui.


Januar beberapa kali melihat pergelangan tangannya, ruang meeting masih sepi karena sang Tuan rumah belum datang.


Tok tok tok.


"Masuk" titah Januar.


Naya masuk dengan langkah cepat memasuki ruangan dan wajahnya tegangnya berubah tersenyum, ternyata meeting belum di mulai.


Januar melihat sang asisten dengan mengerutkan alisnya.


"Tenanglah, klien belum datang, atur nafasmu" ujar Januar.


"Eh terima kasih huuh haahh" Naya mengambil nafas panjang dan berusaha menenangkan diri setelah berlari mengejar waktu.


Januar hanya tersenyum, meski wajah Naya sedikit pucat tapi ia masih tampak menggemaskan.


💜💜💜💜💜💜💜💜

__ADS_1


Jangan lupa jempol di goyang


pencet tombol like, vote dan tulis komentnya...happy reading 😘😘😘😍😍😍


__ADS_2