
"Oiya Wi, kenapa hari ini adikmu tidak masuk kantor?" tanya Jeremy, membuat Naya dan Tiwi saling pandang.
"Ehm kepalanya pusing katanya Yah, dia sekarang istirahat di apartementnya" jawab Tiwi.
"Kenapa harus ke apartemennya bukanya ke apartemenmu, biar ibumu bisa mijitnya atau membuatkan bubur untuknya."
"Ehm mungkin ia sedang ingin menyendiri Yah" sambung Tiwi.
"Oiya ..katanya dia sudah punya pacar, dan mau kenalin pada Ayah, kapan bocah itu mengajak gadis itu ke rumah?" sambung Jeremy.
Glek.
Andai kau tahu Yah, kekasih putramu sekarang ada di hadapanmu, batin Tiwi.
Setelah menghabiskan makan siang Daniel mengajak Naya untuk pulang setelah berpamitan dengan Jeremy dan Tiwi.
Sepanjang perjalanan Naya lebih banyak diam, sedangkan Daniel dengan semangat, bercerita panjang tentang masa kecil mereka.Jika Naya hanya ingat sedikit memori kala itu, berbeda dengan Daniel yang tampak masih menjaga memori tersebut dengan baik, penuh semangat pria tampan itu menggali kenangan indah saat bersamanya.
Sementara itu, Januar yang terbaring di ranjang besarnya tampak layu tak bersemangat, semua anak buahnya tak mendapatkan hasil dalam mencari Naya.
Ddrt drrrt.
Dengan tak bersemangat Januar mengangkat panggilan Tiwi, setelah beberapa pesannya belum sempat ia buka.
"Halo ada apa Mbak?" suara serak Januar membuat Tiwi semakin trenyuh, dua hari adiknya berpisah dengan Naya sudah tampak seperti tanaman yang kayu tak tersiram air satu bulan.
"Lu masih sakit?kenapa tidak baca pesan Gue, di suruh pulang sama Ayah, ibu juga berkali-kali minta Gue untuk jemput Elu, cepatlah pulang, ibu sangat mencemaskanmu" cerosos Tiwi.
"Hmm baiklah.."
"Hei..apa Lu sanggup bawa mobil?"
__ADS_1
"Ada Jefry di sini."
"Oke cepatlah, ada sesuatau yang penting yang harus Lu tahu"
"Hmm apa itu."
"Tentang Naya..."jawab Tiwi kesal, karena sang adik ternyata tak membaca pesannya, hingga ia pun terlambat bertemu dengan Naya.
Bagai mendapat asupan vitamin dosis tinggi, Januar labgsung bangkit dari ranjang dan berjalan menuju pintu, Jefry yang memang ia suruh menemani di apartement pun tampak berjingkat.
"Ada apa Tuan?" tanya nya.
"Antar Gue pulang Jef sekarang juga."
"Baik tuan.."
Tanpa membuang waktu Jefry melangkah keluar apartement mengikuti sang bos.
Januar tergesa memasuki apartement Tiwi tanpa menghiraukan sang Ayah yang sedang menonton televisi di ruang tengah sedang sang Ibu sedang santai di balkon.
"Yah mana Mbak Tiwi?" tanya Januar.
"Hei kau sudah sehat? Tiwi sedang ke mini market sebentar, sini duduklah, ada sesuatu yang ingin ayah ceritakan padamu" jawab sang Ayah.
Dengan lesu Januar akhirnya duduk di samping sang Ayah.
"Bagaimana kabar kekasihmu heum? Kapan kau ajak di ke mari, ayah dan Ibu ingin mengenalnya, buu...ibuu" panggil Jeremy pada Kathlin sang istri.
Wanita bertubuh ramping dan jangkung itu pun mendekati keduanya, lalu memegang kening Januar dengan punggung tangannya.
"Sudah sehat kau Jan heum, kenapa sakit malah menyendiri di apartement, apa kau marah sama ibu?"tanya Kathlin lembut sambil mengusap kepala sang putra kesayangannya.
__ADS_1
"Maaf Bu, sebenarnya aku tidak sakit, hanya hatiku yang sedang tidak baik-baik saja" jawab Januar sedih sambil menduselkan kepalanya lesu di perut sang ibu, aroma wangi wanita paruh baya itu sudah amat ia rindukan, hatinya merasa tenang jika berada dalam pelukan hangatnya.
Jeremy menghela nafas panjang, akan membutuhkan waktu panjang baginya untuk mengorek keterangan tentang pujaan putranya.Jika bersama Kathlin Januar seakan tak memiliki waktu yang cukup untuk menuntaskan rasa rindunya, sedangkan dengannya sikap sang putra tampak datar dan acuh.
"Sebenarnya apa yang merisaukan mu heum?" tanya Kathlin lembut.
"Katakanlah, barangkali ibu bisa memberikan saran untukmu, atau se tidaknya hatimu menjadi sedikit lega setelah menumpahkan gundah hatimu" sambung Kathlin bijak.
Januar menengadahkan wajahnya memandang wajah sang ibu yang masih terlihat cantik di usianya yang menjelang senja.
"Bu, dia meninggalkanku tanpa pamit..." ucap Januar lirih lalu kembali menundukan wajahnya.
Kathlin diam tertegun, hatinya ikut trenyuh melihat sang putra tampak tak bersemangat.
"Apa kau telah membuat kesalahan hingga dia pergi darimu?" tanyanya, dan Januar menggeleng.
"Apa ada lelaki lain yang membuat hatinya goyah?" kembali tanya Kathlin lirih.
Januar memandang netra sang ibu intens.Apakah benar kata ibunya kalau Naya mulai goyah dengan anak lurah itu, ia membatin.
"Kenapa diam? apa kau ragu dengan perasannya, sebuah hubungan tak akan bertahan lama jika di antara kalian tak saling mempercayai" Januar tertunduk dengan wajah murung, ia tak ragu dengan perasannya begitu pun perasaan Naya padanya, ia hanya bimbang dengan batu terjal yang kini menghadang mereka, rasanya begitu berat perjuangan yang harus di laluinya.
"Sabarlah, jika memang dia benar mencintaimu ia tak akan pernah melepas pria yang begitu besar rasa cintanya dan..."
Drrt drrt.
Januar mengambil ponsel dari saku jaketnya dan matanya seketika berbinar terang saat melihat nama sang pujaan yang menghubunginya.
"Bentar Bu.." ucapnya lirih lalu beranjak pergi untuk menerima panggilan.
Sementara Kathlin tersenyum haru, melihat binar mata sang putra, ia tahu cinta Januar begitu besar pada gadis itu, tapi ia kini merasa bingung karena sempat melihat layar ponsel di mana tertera nama sang pemanggil bernama 'Naya ku'.
__ADS_1
Kenapa begitu banyak nama Naya.